Mengembalikan Hak Anak Jalanan

SCWC 2014

Sabtu, 28/09/2013

Membangun kemitraan bersama, antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat sipil dapat membantu anak jalanan memperoleh kesinambungan hidup mereka.

NERACA

Sepakbola adalah olahraga yang egaliter dan paling populer di negeri ini. Saat menonton sepakbola semua lebur dalam satu rasa. Sepakbola bisa dilakukan dimana saja, di lapangan yang berlumpur hingga stadion megah Piala Dunia. Pemainnya? Bisa dari berbagai kalangan, asalkan mau berlatih. Termasuk anak jalanan.

Di Indonesia terutama di kota besar, jumlah anak jalan demikian memprihatinkan. Berdasarkan data Kementerian Sosial, anak terlantar di Indonesia berjumlah 4,5 juta yang di dalamnya termasuk anak jalanan berjumlah 230 ribu orang. Yang lebih memprihatinkan, ada 10,3 juta jiwa lagi atau 17,6% dari total jumlah anak Indonesia berpotensi menjadi anak jalanan.

Penyebabnya beragam, mulai dari kemiskinan hingga anak-anak dipekerjakan dan penculikan yang menjauhkan anak dari keluaga. Pemerintah kerap merazia anak-anak ini. Hanya saja, cara itu tidak akan pernah mengurangi jumlah mereka.

Untuk itu, demi mengubah mengubah mental anak-anak yang sudah terlanjur keras di jalanan untuk kembali bersemangat menjadi anak-anak berprestasi, khususnya di bidang olahraga sepakbola, Yayasan Transmuda Energy Nusantara (TEN) mengusung sebuah program yang dinamai Garuda Baru.

Ya, sejak mengajukan proposal kepada komite Street Child World Cup (SCWC) di Inggris tahun lalu, pihak SCWC mengumumkan Indonesia dapat turut serta dalam kompetisi SCWC 2014 di Brasil serta menunjuk Yayasan TEN sebagai official organizer untuk tim Indonesia.

Dengan keterampilan dalam mengolah si kulit bundar ini, anak jalanan dapat memiliki peluang untuk menjadi pemain kelas dunia di ajang SCWC 2014. Diharapkan, melalui ajang ini bisa menjadi sarana untuk mengembalikan hak anak jalanan di seluruh dunia untuk tumbuh sebagai anak-anak pada umumnya.

“Permasalahan anak jalanan sudah menjadi isu global yang perlu mendapatkan perhatian yang serius dari kita. Ajang ini membuka jalan bagi mereka untuk punya cita-cita dan mendapatkan hak serta kesempatan yang sama dengan anak pada umumnya,” kata Paulo Alberto Dasilviera Suares, Duta besar Brasil untuk Indonesia.

Sementara itu, Menpora Roy Suryo pun menyambut baik program ini. Bahkan, Menpora berharap dari program ini lahir pemain hebat. “Menjaring pemain berbakat bisa lewat mana saja, dan saya harap, program ini melahirkan pemain hebat, bahkan pemain nasional,” tutur dia.

Selain dengan pemerintah, Organisasi Sektor Tiga (OST) ini juga menjalin kolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat sipil untuk memberikan dampak yang signifikan. Dengan membangun kemitraan bersama perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sipil, menyatakan bahwa pasar dapat membantu anak jalanan terhadap kesinambungan hidup mereka.

“Program Garuda Baru Road To Rio 2014 didukung dan dilakukan oleh Grand Indonesia, pegiat sosial yang biasa menangani anak jalanan (Sahabat Anak, KDM), sekolah sepakbola, dan juga Relawan Muda yang melakukan pendampingan,” papar Mahir dari Yayasan TEN

Bukan Tujuan Akhir

Sepakbola bukan menjadi tujuan akhir dari SCWC. Setelah ajang ini, Garuda Baru berlanjut dengan pendampingan kepada anak jalanan meliputi bimbingan akademis dan non akademis hingga bimbingan wirausaha. Pihak Yayasan TEN akan mencarikan beasiswa bagi anak jalanan yang putus sekolah.

Setiap orang akan didampingi satu pendamping selama setahun, sehingga anak-anak tersebut benar-benar menjadi mandiri dan tidak kembali kejalan. Program ini akan terus bergulir di tiap tahunnya. Mungkin tidak akan menghapus jumlah anak jalanan, tapi minimal mengurangi jumlahnya.

Mahir menekankan, program ini adalah salah satu upaya untuk menarik perhatian anak muda untuk berani berinisiatif dalam merangkul anak jalanan dalam bidang olahraga. Menang atau kalah dalam ajang tersebut bukan tujuan utama. Yang penting setelah pulang dari acara tersebut, anak-anak itu bisa menjadi role model dan mengisnpirasi anak-anak yang masih berada, tinggal dan bekerja di jalan untuk berubah.

“Tentu saja tidak serta merta semudah membalikkan telapak tangan, tapi pendampingan pasca kegiatan kita lanjutkan. Beri peluang, bukan uang,” imbuh dia.

Anak-anak yang yang direkrut diambil dari 7 provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sumut, Sulsel, dan Jawa Timur) di Indonesia melalui pegiat sosial, jejaring sosial, dan sekolah sepakbola. Seleksi dimulai pada bulan November dan Desember. Masing-masing provinsi dipilih tidak lebih dari 5-10 anak. Kemudian diseleksi ke tingkat nasional. Sejumlah anak yang terpilih, akan berangkat ke Jakarta untuk bergabung dalalm Nastional Camp yang kan diselenggarakan pada bulan Januari-Maret 2014.

“Sebelumnya, kami menentukan dulu kriteria anak jalanan yang boleh ikut. Anak jalanan yang memang hidup dan bekerja di jalan, serta tidak bersekolah formal pada saat ini, itu kriterianya,” kata Sotar dari KDM., sebagai salah satu mitra dari Yayasan TEN bersama Sahabat Anak dan Brazilian Soccer School yang akan melakukan proses perekrutan.