Gejolak Pasar Saham Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku terus melakukan pemantauan di tengah kondisi pasar modal yang sedang bergejolak sesuai dengan protokol manajemen krisis.

Direktur Perdagangan Dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat mengatakan, otoritas Bursa dan OJK terus melakukan pemantauan pasar dan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) sesuai dengan protokoler manajemen krisis.

“Ketika terjadi krisis, maka kebijakan yang paling mungkin dapat dilakukan adalah melakukan netralisasi jika terjadi kepanikan dengan menghentikan sementara perdangan efek (suspend),” tuturnya.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal pasal V-K, disebutkan suatu keadaan memungkinkan otoritas pasar modal untuk mengambil tindakan menghentikan pasar untuk sementara waktu.

Artinya, lanjut Samsul, tidak ada mekanisme di pasar modal Indonesia yang memberikan kewenangan bagi regulator dan otoritas pasar modal (khususnya BEI) untuk mengintervensi pasar.

Terkait pelemahan indeks BEI, Samsul menilai pemicunya masih didorong dari sentimen negatif yang beredar di eksternal.

“Seperti kata analisis di beberapa sekuritas, perlemahan IHSG karena kondisi semua pasar saham dunia terkoreksi karena isu pengurangan stimulus keuangan di AS. Sebab jika dilihat faktor di dalam negeri, fundamental emiten Indonesia masih prospektif,” tuturnya.

Ia mengakui kondisi pasar saham yang bergejolak saat ini, ada kemungkinan nasabah terkena penjualan saham secara paksa (forced sell). Namun, dirinya belum dapat menyebutkan seberapa besar dana investor yang terkena forced sell.

Menurutnya indikasi adanya nasabah yang melakukan transaksi saham dengan cara shot selling sehingga menambah pelemahan indeks BEI tidak terlihat.

Ia mengatakan IHSG BEI pada penutupan perdagangan pekan lalu di posisi 4.429 poin masih tercatat positif sebesar 2,61% dibanding posisi awal tahun ini yang berada di 4.316 poin.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, aliran dana investor asing di sepanjang 2013 sudah mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp659,49 miliar (24/6). Tercatat, pelaku pasar asing sempat mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp26,78 triliun.

BERITA TERKAIT

Saham Bank Agris Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), saham PT Bank Agris…

Indoritel Kantungi Pinjaman Rp 2 Triliun - Gadaikan Saham Anak Usaha

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnis, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mengantungi pnjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)…

Dafam Properti Bakal Tambah Lima Hotel Baru - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Meskipun ada kekhawatiran pasar properti tahun ini masih melandai, namun hal tersebut tidak mengurungkan PT Dafam Property…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…