Pasar Indonesia, Incaran Produsen Kendaraan Berat

Sabtu, 14/09/2013

Pasar otomotif di Indonesia yang dalam beberapa tahun belakangan ini memang mengalami peningkatan luar biasa, tak hanya jenis kendaraan keluarga saja yang laris manis, kendaraan alat-alat berat pun semakin laris seiring maraknya pembangunan. Akibatnya, Indonesia dilirik sebagai pasar potensial oleh produsen-produsen alat berat dunia.

NERACA

Negara berkembang seperti Indonesia, merupakan pasar potensial bagi negara produsen alat-alat berat di dunia seperti Amerika, Swedia, Jepang dan korea. Sebab, kebutuhan alat berat sangat diperlukan dalam aktifitas pembangunan infrastruktur di berbagai bidang pembangunan. Kebutuhan alat berat pada sektor lain juga sangat tingi, seperti sektor pertambangan, kehutanan dan perkebunan.

Menurut Yaya Supriatna, Kepala Bidang Material dan Peralatan Pusat Pembinaan Sumber Daya Investasi Kementerian Pekerjaan Umum (PU), nilai pasar pasar konstruksi meningkat dari Rp300 triliun (2012) menjadi Rp400 triliun (2013). Kebutuhan investasi untuk 2010-2014 sebesar Rp1.924 triliun. Maka kebutuhan alat-alat berat sangat besar untuk memenuhi ketepatan waktu dalam penyelesaian berbagai pekerjaan. ”Kita juga memerlukan peralatan yang efektif dengan harga yang murah,” terang Yaya.

Sementara itu, Dade Suatmadi, Kepala Subdit Industri Peralatan Pabrik, Alat Mesin Pertanian dan Alat Berat Kementerian Perindustrian mengatakan, Indonesia sudah mampu membuat berbagai komponen alat berat untuk pembangunan infrastruktur. Namun 60% atau sekitar 12 ribu dari kebutuhan sebanyak 20 ribu unit per tahun masih diimpor.

“Hanya sekitar 8.000 unit (40%) yang dipasok dalam negeri, inovasi teknologi kontruksi alat berat untuk pembangunan infrastruktur dalam menunjang program MP3EI,” tuturnya.

Alat berat yang dibuat di Indonesia itu pun, lanjut Dade, merupakan buatan industri PMA (Penanaman Modal Asing) seperti Caterpillar, Hitachi, Sumitomo, dan Komatsu yang TKDN-nya (Tingkat Komponen Dalam Negeri) hanya sekitar 60%. Menurutnya, merk dan investasi asing itulah yang bisa berkembang di Indonesia, meski bodi dan komponen alat berat, kecuali engine seluruhnya bisa dibuat oleh bangsa Indonesia.

“Itu karena untuk investasi modalnya besar, kalau tenaga kita punya, ahlinya pun bisa dibeli. Peluang kita adanya di alat berat di bawah 30 ton yakni mesin untuk perkebunan. Kalau yang di atas 70 ton sampai 200 itu serahkan saja ke negara-negara yang lebih maju karena bakal kalah bersaing,” tuturnya.

Persaingan industri alat berat di pasar global, urainya, saat ini semakin sulit sejalan dengan stok berlebihnegara-negara maju karena melemahnya permintaan terutama di Eropa, ditambah lagi fakta terjadinya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi di China sehingga industri alat berat China mulai melirik pasar Indonesia.

Cuma Jadi Penonton

Staf ahli Menteri Riset dan Teknologi bidang transportasi I Wayan Budiastra menyayangkan Indonesia yang selalu sekadar dijadikan pasar oleh negara-negara lain. Padahal yang dibutuhkan Indonesia adalah investasi berupa pembangunan pabrik yang berarti ada nilai tambah bagi bangsa. “Kalau bisa, menggunakan hasil-hasil riset dari para peneliti di Indonesia,” paparnya.

Menurut Dade, Perusahaan-perusahaan PMA selama ini tak bersedia menggunakan hasil riset komponen para peneliti Indonesia, karena mereka memiliki teknologi hasil risetnya sendiri dan lebih suka investasinya bersifat relokasi.

Sementara itu, Deputi Presdir PT Intraco Penta Prima, Willy Rumondor mengatakan, pihaknya memang merupakan dealer alat berat merk Volvo, tetapi pihaknya punya visi untuk membangun pabrik komponen juga di Indonesia.

“Saat ini kami sudah punya 10 item komponen yang diproduksi sendiri di Indonesia. Kami optimis karena Eropa sejak ratusan tahun lalu masih terus membangun, dan itu berarti kebutuhan akan alat berat tidak pernah berhenti,” ungkapnya.

Peluncuran UD Trucks

Bertepatan dengan penyelenggaraan Indonesia Mining Expo 2013, JI Expo, Jakarta, Rabu (4/9) UD Trucks Indonesia meluncurkan Quester Heavy Duty Truck khusus untuk aplikasi pertambangan di Indonesia.

Truk Quester yang diluncurkan merupakan model heavy duty truck yang dirancang untuk melayani kebutuhan sektor pertambangan, konstruksi, distribusi dan transportasi jarak jauh.

Saat peluncuran, UD Trucks menampilkan Quester 6x4 rigid dan 6x4 tractor, dua varian yang akan didistribusikan oleh United Tractors melalui jaringan penjualan dan layanan purna jualnya di seluruh Indonesia.

“Dengan kehadiran Quester, UD Trucks kini memasuki era baru dengan memperkenalkan varian baru yang dirancang khusus untuk pasar berkembang termasuk Indonesia,” kata Joachim Rosenberg, Direktur Utama UD Trucks.

Quester merupakan truk produksi Jepang pertama yang menyediakan beragam aplikasi kendaraan heavy duty dengan berbasis pada platform yang sama. Quester juga merupakan varian completely built-up pertama dari UD Trucks yang diproduksi di luar Jepang, memanfaatkan keahlian UD Trucks Jepang dan sumber daya pengembangan global Volvo Group.

Produksi Quester akan dipacu pada kuartal ketiga 2013 di Bangkok, Thailand. Selain melayani pasar domestik di Thailand, pabrik tersebut akan mengekspor produknya untuk pasar Asia Tenggara termasuk Indonesia.