Menata Ekonomi Domestik - Oleh: Desmon Silitonga, Alumnus Pascasarjana FEUI

Akhir-akhir ini, ekonomi domestik dirundung awan kelabu. Nilai tukar rupiah terus terpuruk lebih dari Rp.11000-an per dollar AS. Sejak awal tahun sudah turun lebih dari 10%. Keresahan pun bermunculan. Bahkan, sebagian kalangan kuatir bahwa krisis seperti tahun 1998 dan 2008 bisa terulang.

Tindakan mitigasi terus dilakukan otoritas. BI telah mengeluarkan banyak kebijakan untuk menstabilkan rupiah. Bahkan, cadangan devisa pun banyak terkuras. Meski begitu, pendarahan (bleeding) rupiah belum berhenti. Sampai, pada (29/8), BI menaikkan lagi BI Rate sebesar 50 bps menjadi 7%. Sehingga, hanya dalam tempo dua bulan, BI Rate sudah naik sebesar 125 bps. Apakah rupiah akan membaik? Masih harus dibuktikan.

Sebelumnya, pemerintah telah merespon pelemahan rupiah dengan mengeluarkan empat paket kebijakan ekonomi. Namun, hal ini pun belum banyak berdampak. Bleeding rupiah masih terjadi. Meski begitu, kebijakan ini patut diapresiasi dan diharapkan dapat memberi dampak dalam jangka menengah.

Semua lini perekonomian akan terpengaruh oleh pelemahan rupiah ini. Dari pasar keuangan, pasar saham (IHSG) masih terus bergerak fluktuatif. Bahkan, IHSG sudah pernah turun sampai di bawah level 4000-an. Memang, saat ini ada perbaikan, dari pengaruh buyback oleh investor lokal. Tetapi, tindakan ini belum bisa menjamin IHSG akan aman. Risiko masih tinggi. Khususnya, jika The Fed benar-benar merealisasikan penghentian (tempering off) kebijakan Quantitative Easing (QE). Investor asing akan cenderung melakukan sell off yang membuat IHSG kembali tertekan.

Kondisi yang sama juga terjadi di pasar Surat Utang Negara (SUN). Volatilitas SUN masih relatif tinggi. Yield SUN tenor 10 tahun di atas 8,5%, karena investor asing sangat aktif melakukan aksi jual. Saat ini, investor asing memiliki 30% dari nilai kapitalisasi SUN di pasar sekunder.

Jika outflow dana jangka pendek (hot money) terus terjadi, maka tekanan atas rupiah pun tidak terhindarkan. Apalagi, saat ini risiko indikator makroekonomi cenderung naik, yang dapat menghasilkan sentimen. Bagaimana pun, hot money tidak hanya dipengaruhi faktor fundamental saja, tetapi juga sentimen. Jika sentimen tidak dikelola dengan baik, bisa menimbulkan guncangan. Oleh sebab itu, rencana pemerintah untuk merevisi asumsi makro APBN-P 2013 dan RAPBN 2014 diharapkan dapat menimbulkan sentimen positif di mata investor. Lebih baik realistis daripada muluk-muluk.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memukul sektor riil. Industri tahu dan tempe salah satu yang saat ini merasakannya. Harga kedelai yang menjadi bahan baku tahu dan tempe melambung tinggi. Biaya produksi naik signifikan. Memangkas produksi dan menaikkan harga jadi strategi untuk mengompensasi naiknya biaya produksi ini. Bahkan, sudah ada beberapa pabrik tahu dan tempe yang bangkrut dan menimbulkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tentu masih ada industri lain yang akan terpukul, seperti farmasi, alas kaki, elektronik, kimia, dan lainnya.

Ekspor dan Impor

Memang ada dampak positif dan negarif dari pelemahan rupiah terhadap sektor ekspor dan impor. Dampak positifnya, pelemahan rupiah membuat sektor ekspor lebih kompetitif. Namun, perlu di catat, bahwa mitra dagang terbesar Indonesia, yaitu Cina, Jepang, Amerika, dan India sedang di lilit krisis, sehingga membuat volume permintaan tidak maksimal.

Di sisi lain, belum pulihnya harga komoditas dunia menekan ekspor. Sebab, ekspor non migas Indonesia selama ini di dominasi oleh bahan komoditas, seperti batubara, Crude Palm Oil (CPO), nikel, timah, dan bahan mineral lainnya yang harganya belum pulih. Total nilai ekspor dari Januari-Juni 2013 hanya $ 74,8 miliar atau turun 2,63% dibanding tahun lalu.

Sementara, pelemahan rupiah ialah membuat sektor impor jadi tidak kompetitif (mahal). Ironisnya, ekonomi domestik memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada barang impor. Impor sudah menjadi candu ekonomi. Pasar domestik terus dibanjiri barang impor dan membuat daya saing barang lokal ikut tergerus. Bahkan, garam, beras, buah-buahan dan sayuran sudah jadi produk impor. Padahal, harusnya komoditas itu sangat mudah dihasilkan di dalam negeri.

Selain itu, impor BBM juga makin mengkuatirkan. Komsumsi yang cenderung naik, sementara produksi cenderung terpuruk menjadi penyebab impor BBM terus naik. Harga yang murah turut mendorong komsumsi berlebihan. Tahun 2012 saja, terjadi defisit di neraca migas sebesar $ 20,32 miliar. Tentu, tingginya impor BBM membuat permintaan valas meningkat dan dapat menggangu stabilitas rupiah. APBN juga akan terus terbebani untuk membayar subsidi yang porsinya bisa bertambah saat harga minyak dunia naik.

Adanya, kebijakan untuk peningkatan penggunaan biodiesel dapat berdampak positif untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor. Hal ini tidak cukup. Tetapi, harus diikuti oleh diversifikasi energi, merealisasikan infrastruktur dan transportasi massal, serta pembatasan kendaraan bermotor.

Implikasi dari tingginya impor ini ialah membuat defisit Neraca Transaksi Berjalan (NTB) terus melebar.dan mendorong inflasi. Bahkan, pada kuartal II-2013, defisit NTB mencapai $ 9,8 miliar (4,4% dari PDB). Sejak tahun 2004-2012, baru kali ini defisit NTB di atas 4%.

Komitmen dan Konsistensi

Oleh sebab itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan memburuknya indikator makro ekonomi lainnya dapat dijadikan momentum oleh pemerintah untuk berbenah dan menata kembali ekonomi domestik agar lebih berdaya saing dan mandiri. Sebab itu, hal-hal berikut ini harus terus dilakukan dengan komitmen dan konsistensi.

Pertama mengurangi ketergantungan pada bahan impor, khususnya bahan pangan dan meningkatkan kinerja eskpor. Hal ini dapat mengurangi defisit NTB. Tidak mudah melakukan, khususnya saat ekonomi global dirundung pelambatan. pelambatan pertumbuhan global. Namun, pasti selalu ada peluang, jika ada kemauan (will) pemerintah.

Mendorong kinerja sektor pertanian yang sudah terabaikan selama ini, bisa jadi pembuktian dari kemauan itu. Tingginya pertumbuhan ekonomi di era ekonomi Orde Baru tidak lepas dari keberhasilan mengelola sektor pertanian. Bangsa yang ekonominya kuat, pasti akan didukung oleh sektor pertanian yang juga kuat.

Kedua mengelola inflasi. Stabilitas inflasi jadi syarat untuk menciptakan pertumbuhan tinggi dan berkesinambungan. Terbatasnya sisi penawaran, khususnya bahan pangan dan kenaikan harga BBM, selama ini menjadi faktor yang mendorong tingginya inflasi.

Namun, selain itu, masih ada hal-hal yang bersifat fundamental dan belum tertangani dengan baik, seperti infrastruktur, iklim investasi yang belum sehat (pungli dan izin yang berbelit), akses keuangan yang masih sangat terbatas, regulasi ketenagakerjaan, rendahnya inovasi (Bank Dunia, 2012).

Ketiga keberpihakan untuk membangun industri manufaktur dan industri bahan baku, sehingga dapat mendorong daya produk domestik. Adanya, industri lokal yang kuat, membuat ekonomi akan cenderung dapat bertahan dari terbulensi global.

Keempat meningkatkan mutu dan inovasi kelembagaan (birokrasi). Bagaimana pun, birokrasi merupakan aktor untuk mengimplementasikan semua kebijakan pemerintah. analisadaily.com

Related posts