BI Jamin Ekonomi Indonesia Jauh Lebih Baik

Ketimbang 1997-1998

Senin, 09/09/2013

NERACA

Jakarta-Bank Indonesia (BI) mengklaim jika keadaan pasar keuangan Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang krisis ekonomi yang terjadi pada 1997-1998 silam. Menurut Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, kondisi perbankan Indonesia 15 tahun lalu sangat rentan dengan gejolak ekonomi yang terjadi kala itu. Di mana perbankan dikelola dengan mekanisme untuk mendukung kepentingan pemilik bank saja.

“Jangan samakan krisis yang terjadi sekarang dengan tahun 1997-1998 lalu. Saat ini jauh lebih baik terutama di sisi perbankan. Waktu itu perbankan sangat lemah, pengelolaan keuangan tidak memiliki tata kelola yang baik, lalu pemegang saham bermain tidak tertib. Tapi sekarang semuanya sehat,” aku Agus Marto di Jakarta, Jumat (6/9) pekan lalu.

Lebih lanjut dirinya menuturkan, saat ini kondisi pasar keuangan dalam negeri lebih baik jika dibandingkan negara-negara lain. Secara umum, kata dia, gejolak ekonomi dunia akan terus menekan Indonesia. Namun, Agus Marto optimistis, melalui koordinasi antarlembaga yang baik akan membawa kebaikan bagi arah perekomian nasional, khususnya perbankan.

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo, menambahkan agar krisis keuangan pada 1997-1998 tidak terulang kembali, bank sentral masih akan tetap melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan menjaga utang dan intervensi. “Kita juga terus lakukan stabilisasi dan intervensi. Tekanan dari sisi fundamental dan defisit transaksi berjalan (current account deficits) serta kondisi (ekonomi) global yang masih buruk, kita akan terus upayakan menstabilkan nilai tukar rupiah,” terangnya.

Dia juga menjelaskan, BI telah melakukan berbagai koordinasi dengan pemerintah terkait implementasi dari kebijakan yang telah dikeluarkan. Perry memberi contoh antara lain kebijakan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), term deposit (TD) valas overnight hingga pinjaman luar negeri jangka pendek.

Kebijakan yang dimaksud adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk 1 bulan. Sebelumnya, kebijakan ini sudah pernah ditempuh bank sentral sejak 2010, namun dihapus karena BI lebih memilih instrumen jangka panjang, seperti SBI bertenor 6 bulan dan 9 bulan.

Kebijakan ini, lanjut Perry, nantinya akan melanjutkan intervensi ganda dari bank sentral melalui pasokan valuta asing dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Sayangnya, Perry enggan menjelaskan waktu kebijakan tersebut akan dirilis.

Kemudian dari sisi pemerintah, Perry menjelaskan, BI telah mencatat bahwa defisit pada Juni hingga Juli besar di sektor migas. Dia menambahkan, kebijakan pemerintah memang jangka panjang, namun akan berdampak jangka pendeknya. “Baik dari sisi mendorong untuk menurunkan defisit neraca perdagangan maupun untuk menurunkan tekanan inflasi. Dari sisi BI, ya, sudah banyak yang kita lakukan untuk jangka pendek dalam konteks seperti itu,” imbuh dia.

Cadangan devisa

Sementara itu, cadangan devisa (cadev) Indonesia pada Agustus 2013 mengalami sedikit peningkatan dibanding Juli. Dalam situs resmi BI disebutkan, cadev per Agustus 2013 sebesar US$92,99 miliar, meningkat dibanding Juli sebesar US$92,67 miliar. Meningkatnya cadev terjadi karena adanya aliran modal masuk atau capital inflow.

“Ini sedikit stabil karena penerimaan devisa lebih besar dari capital outflow,” ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Ahmad Johansyah. Bauran kebijakan yang dikeluarkan BI, seperti lelang FX Swap dan pembelian SBI, menurut Difi, juga pemberi kontribusi terhadap pertambahan cadev pada Agustus. Beberapa kali, BI melakukan intervensi di pasar keuangan akibat anjloknya nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir. Hal ini menyebabkan tergerusnya cadev yang saat ini posisinya di bawah US$100 miliar.

Walaupun begitu, Gubernur BI, Agus DW Martowardojo meyakini cadev Indonesia masih cukup aman untuk melakukan intervensi terhadap rupiah agar nilainya tidak terlalu jatuh. Agus Marto lalu membandingkan dengan situasi di 2008, di mana cadev sempat menyentuh angka US$50 miliar.

Dia juga mengakui banyaknya aliran dana yang keluar dari Indonesia beberapa waktu lalu mengakibatkan cadev tergerus dengan cepat. “Akhirnya terjadi penguatan dari cadev. Itu sangat wajar. Cadev meningkat kalau negara sedang baik. Begitu pun sebaliknya. Kalau (negara) sedang susah, ya, kebutuhan devisa kita pasti turun,” tandasnya. [sylke]