Perdagangkan Timah, BKDI Bidik 10 Anggota Baru - Redam Aksi Spekulan

NERACA

Jakarta – Bursa komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) sebagai penyelenggara bursa timah menargetkan 10 perusahaan timah baru untuk menjadi anggota bursa. Setelah terpilih sebagai bursa timah, 12 perusahaan timah telah bergabung sebagai anggota bursa.

Menurut Direktur Utama BKDI Megain Widjaja, saat ini sebanyak lima perusahaan yang terdaftar sebagai anggota bursa merupakan perusahaan smelter dan tujuh lainnya adalah pembeli ataupun penjual, “Sementara dari 10 target anggota baru pada bulan ini, akan ada 2 perusahaan smelter lagi yang bergabung,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia mengungkapkan, rata-rata dari lima smelter yang ada setiap bulannya menghasilkan 3.000-4.000 ton. Nantinya, dengan dua smelter baru masuk sebagai anggota bursa, BKDI mengharapkan dapat menambah jumlah transaksi timah dapat mencapai hingga 6.000 ton. Sebagai informasi, BKDI terpilih sebagai bursa timah setelah pemerintah berdasarkan Permendag No.32/M-DAG/PER/6/2013 menyatakan bahwa seluruh timah batangan dari Indonesia wajib diperdagangkan melalui mekanisme bursa berjangka dalam negeri. Setelah itu SK No.8/bappepti/Kep-PBK/08/2013 menetapkan BKDI sebagai penyelenggara bursa timah.

Kata Megian, dengan adanya bursa ini diharapkan aksi spekulan dapat diredam dan harga timah dapat kembali menjadi lebih wajar dan fair karena mengikuti prinsip dasar supply and demand.

Selain iu, dirinya juga menyampaikan, BKDI berhasil memperdagangkan kontrak fisik dengan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan perdagangan pasar timah di London Metal Exchange (LME). Pada perdagangan 6 September lalu, perdagangan di BKDI senilai US$21.900/ton sementara di LME US$21.875/ton.

Volume Transaksi

Volume transaksi kontrak fisik timah batangan selama perdagangan di minggu pertama September mencapai 33 lot dengan 1 lot bernilai 5 ton timah. Sehingga total transaksi mencapai 165 ton dengan nilai transaksi mencapai US$3,53 juta.“Perdagangan di sini pada akhirnya memang akan di ekspor dengan sistem FOB (free on board). Namun bukan kami yang menentukan baik harga ataupun volume tetapi pasar yang menentukan. Sampai saat ini belum ada yang diespor karena yang akan mengekspor timahnya adalah pembeli”, jelasnya.

Pemerintah dan BKDI fokus pada pembentukan harga bukan pada jumlah dan nilai transaksi. Karena menurut dia, Indonesia sebagai penghasil timah seharusnya bisa menjadi price maker. “Pemerintah fokus pada nilai ekspornya, bukan jumlah banyak tetapi harga murah”, ujarnya.

Dia juga menjelaskan mengenai cara menerima uang bagi pembeli dan penjual yang bertransaksi melalui BKDI. Dia menyatakan bahwa penjual dapat menerima uang sebanyak 70% setelah 3 hari bertransaksi. Sedangkan pembeli, sudah menerima barang setelah 2 hari transaksi.“Jenis timah yang paling banyak diperdagangkan adalah PB300, ini bukan kita yang tentukan melainkan pasar. Berdasarkan request dari pembeli sehingga tidak ada monopoli dari kami”, ujarnya.

Hingga saat ini, lima perusahaan smelter yang telah bergabung adalah PT Timah Tbk, PT Tambang Timah, PT Refined Bangka Tin, PT Mitra Stania Prima, PT Inti Stania Prima. Kelima perusahaan smelter ini berasal dari Indonesia. Sementara7 lainnya sebagai trader adalah H CO.,LTD (Korea), Daewoo International Corporating (korea), Gold Matrix Resources (Singapura), Great Force Trading (Hong Kong), Noble Resources International Put Ltd (Singapura), Purple Products Pvt.Ltd (India) dan Toyota Tsusho Corporation (Jepang). (nurul)

Related posts