Momok Baru Perekonomian Nasional

Oleh: Rosdiana M, S.Sos., Pengamat Ekonomi, Politik dan Sosial Kemasyarakatan

Senin, 09/09/2013

Terjadinya pelemahan nilaitukar rupiah terhadap dolarAS, menjadi momok bagiperekonomian nasional. Masa depan ekonomi seolah suram manakala dolar AS menjadi semakin mahal. Padahal, sejatinya tidak demikian. Depresiasi atau melemahnya mata uang terhadap mata uang jangkar, bisa berbuah berkah, sejauh negara itu mampu memanfaatkannya untuk mendorong ekspor. Pada hakekatnya tidak ada yang suka dengan pelemahan rupiah, terutama jika terjadi tidak wajar. Pada saat nilai dolar meningkat, para eksportir bisa jadi senang karena mendapatkan nilai dolar lebih tinggi dari biasanya.

Barang ekspor Indonesia lebih kompetitif karena harganya menjadi relatif lebih murah di mata para pembeli yang memegang dolar. Pada tingkat tertentu, eksportir bisa berharap mendapatkan order tambahan, meski mungkin tidak terlalu besar karena kondisi eksternal yang belum pulih benar. Di sisi importir, nilai rupiah yang merosot jelas menjadi beban. Mereka harus membayar lebih mahal dari biasanya. Bagi para pemilik pinjaman dalam mata uang dolar juga berpotensi menimbulkan beban lebih tinggi. Prinsipnya dalam situasi rupiah lemah atau menguat ada pihak yang diuntungkan, ada pihak yang dirugikan.

Pada akhirnya, mekanisme pasar akan menciptakan keseimbangan baru antara dolar dan rupiah. Pada hakekatnya tidak ada yang senang jika rupiah terlalu lemah atau terlalu kuat. Masalahnya adalah, dalam situasi kurs belum stabil, selalu ada pihak yang mencoba menggoyang rupiah dengan tujuan mencari keuntungan besar dalam sesaat. Sepak terjang para spekulan inilah yang harus dicegah agar tidak memperburuk situasi. Jika ulah mereka tidak dihambat, rupiah akan melemah dengan laju yang tidak wajar dan berpotensi menimbulkan kekacauan pasar keuangan. Dam konteks itulah, langkah pemerintah yang cepat dan tepat diharapkan mampu menenangkan pasar.

Oleh sebab itu, meski terlambat, pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk mengatasi gejolak pasar finansial sekaligus meletakkan landasan bagi perbaikan struktur serta fundamental ekonomi dalam jangka menengah dan panjang. Inti dari paket penyelamatan ekonomi itu adalah untuk memulihkan kepercayaan dengan memperkuat struktur dan fundamental ekonomi, melalui perbaikan posisi neraca transaksi berjalan guna mengendalikan nilai tukar rupiah, menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta merangsang investasi. Paket tersebut diperlukan mengingat beberapa pekan terakhir terjadi turbulensi pasar keuangan yang mencemaskan banyak pelaku pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi signifikan hingga kembali mendekati level 4.000-an. Sedangkan rupiah juga cenderung terus melemah hingga melampaui posisi Rp11.000 per dolar AS. Meski diyakini bukan yang terburuk di antara emerging markets di Asia, turbulensi tersebut cukup mengagetkan di tengah upaya pemerintah menjaga agar persepsi terhadap perekonomian tetap positif. Terdapat keyakinan kuat bahwa situasi ekonomi saat ini masih jauh lebih baik ketimbang pada 2008 saat terjadi guncangan finansial akibat krisis Amerika yang dipicu oleh ambruknya bank investasi Lehman Brothers. Sektor keuangan, perbankan dan asuransi diyakini jauh lebih kuat menahan risiko guncangan finansial.

Tidak dalam Situasi Krisis

Banyak indikator juga menunjukkan ekonomi tidak dalam situasi krisis, terutama dari kinerja perekonomian yang masih tumbuh di atas 5 persen hingga kuartal terakhir lalu. Namun, tidak ada yang bisa meramal apakah perekonomian Indonesia akan benar-benar kuat menghadapi situasi yang terus menekan akhir-akhir ini, terutama dari dampak regional dan global. Selain itu juga terdapat fakta bahwa perekonomian menghadapi sejumlah defisit dalam waktu bersamaan. Tidak hanya defisit perdagangan, tetapi juga defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca pembayaran sekaligus, yang memicu persepsi negatif bagi para pelaku pasar. Dikombinasikan dengan berbagai faktor yang muncul, termasuk rencana bank sentral Amerika memperketat pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing (QE), defisit transaksi berjalan disertai berbagai defisit lainnya memicu persepsi negatif yang menekan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia.

Karena itulah, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan yang diharapkan dapat menghentikan tekanan di pasar keuangan dalam jangka pendek, sekaligus memperkuat struktur perekonomian dalam jangka menengah panjang. Tentu, tidak ada quick fix solution, atau solusi yang berdampak instan. Karena itu wajar jika muncul berbagai komentar yang meragukan efektivitas paket tersebut, serta respon pasar yang masih biasa-biasa saja. Karena itu, yang terpenting, bagaimana pemerintah selanjutnya dapat mengirimkan sinyal yang kuat dan tepat, bahwa implementasi dari paket kebijakan yang diumumkan itu benar-benar nyata sehingga hasilnya efektif.

Dengan kata lain, perumusan dan pengumuman paket itu saja tidaklah cukup. Pemerintah masih dituntut untuk memperlihatkan kesungguhan dalam mengeksekusi langkah-langkah yang diperlukan serta tindak lanjut kebijakan yang benar-benar akan memperkuat struktur perekonomian dan memulihkan kepercayaan pasar. Berbagai paket ekonomi yang diluncurkan pemerintah diharapkan bukan hanya mampu memecahkan masalah jangka pendek tapi juga jangka panjang. Dalam jangka pendek, pasar diharapkan bisa tenang dan tidak panik. Dalam jangka panjang, Indonesia diharapkan memiliki fondasi ekonomi yang kuat sehingga tahan terhadap goncangan eksternal.

Tingginya tingkat konsumsi di dalam negeri harus diperkuat dengan pasokan produksi di Tanah Air sehingga tidak tergantung impor. Ini berarti proses hilirisasi harus dijalankan serius. Di sisi lain, investasi riil harus dikembangkan karena penanaman modal seperti ini relatif lebih stabil dibandingkan dengan penempatan uang di pasar saham atau pasar uang. Dengan penguatan ekonomi Indonesia secara menyeluruh, goncangan yang menerpa bisa diredam lebih mudah. Untuk menyukseskan berbagai program itu, dibutuhkan dukungan semua pihak seperti kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, tokoh masyarakat, media dan seterusnya.

Jika keseluruhan strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin Indonesia kembali memiliki sektor finansial yang stabil, tetapi juga perekonomian yang tumbuh berkelanjutan dalam jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia membutuhkan devisa dalam jumlah besar untuk bisa mengimpor. Kita mengapresiasi respons pemerintah, BI, dan OJK meski agak terlambat. Mumpung ekonomi Indonesia belum sampai fase krisis, empat kebijakan yang diluncurkan cukup menenangkan pasar. Pemerintah meluncurkan kebijakan untuk mengatasi defisit transaksi berjalan dan memperbaiki neraca pembayaran, kebijakan menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli, dan kebijakan untuk meningkatkan investasi.

Begitu pula kebijakan BI dan OJK menstabilkan rupiah dan menahan penurunan harga saham. Meredam gejolak pasar sangat penting agar rupiah tidak bergerak liar. Tapi, yang tidak kalah penting adalah membenahi fondasi ekonomi Indonesia agar tidak terjadi defisit perdagangan yang memukul neraca transaksi berjalan dan neraca pembayarannya. Pemerintah juga harus konsisten membangun industri dalam negeri. Hal itu agar fundamental perekonomian tak rentan oleh reaksi pasar yang dikendalikan oleh persepsi.www.analisadaily.com