Indonesia Belum Siap Menghadapi Liberalisasi Perdagangan Susu

Oleh :Dr Adi Sutanto MS, Wakil Direktur II Universitas Muhammadiyah Malang.

Senin, 09/09/2013

Liberalisasi perdagangan susu dapat dikatakan merupakan faktor penyebab perubahan sistem agribisnis susu sapi perah di Indonesia. Mengingat,perusahaan multinasional diperkenankan impor seratus persen tanpa hambatan perdagangan, tidak ada bea masuk dan tidak ada keharusan menyerap susu sapi perah produksi domestik. Industri susu sapi perah di Indonesia mempunyai struktur yang terdiri dari: peternak, pabrik pakan dan pabrik pengolahan susu yang relatif maju serta kapasitas yang cukup tinggi serta tersedia kelembagaan peternak yakni Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), tetapi industri susu nasional menghadapi tantangan memenuhi permintaan susu dimasa sekarang dan masa yang akan datang.

Indonesia memiliki sekitar 100 buah koperasi sapi perah yang sebagian besar tidak berjalan efisien. Penelitian saya menunjukkan bahwa perkembangan populasi ternak sapi perah cenderung stagnan namun produksi susu cenderung turun 0,6 %, dengan demikian ada kecenderungan nilai tambah yang dinikmati peternak semakin kecil. Hal ini terjadi sebagai akibat harga susu yang cenderung tetap sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2005, sehingga hampir 50 % Koperasi/KUD persusuan di Jawa Barat dalam keadaan stagnan usaha, yang disebabkan naiknya harga faktor produksi yang berakibat pada meningkatnya biaya produksi usaha ternak sapi, sedangkan harga susu tidak mengalami kenaikan.

Bahwa selama ini usaha ternak sapi perah domestik difokuskan pada usaha yang berprinsip padat karya dengan produktivitas dan efisensi yang rendah. Dalam upaya mempertahankan kelangsungan usahanya maka para peternak harus mampu memperjuangkan berbagai kepentingan mereka sendiri melalui wadah yang ada yaitu Koperasi.

Peternak sapi perah secara rasional dalam mengelola usaha ternaknya bertujuan untuk mencapai keuntungan yang maksimum dimana sumber daya dialokasikan secara optimal. Kesejahteraan peternak akan meningkat apabila pendapatan peternak meningkat sebagai akibat pengelolaan usaha ternak sapi perahnya dapat dilakukan secara efisien. Namun, banyak faktor dan kendala yang mempengaruhinya, seperti ketersediaan faktor produksi, jumlah ternak yang dipelihara maupun harga faktor produksi. Kendala-kendala yang dihadapi peternak sapi perah terdiri dari kendala teknis, kondisi sumber daya alam dan kendala sosial ekonomi.

Mencermati tingkat harga yang diterima peternak maupun koperasi dari IPS dianggap tidak sesuai dengan apa yang diharapkan khususnya bagi peternak, dimana penetapan harga tersebut dianggap relatif rendah. Hal ini terjadi karena lemahnya peran lembaga koperasi maupun GKSI sebagai koperasi sekunder. Permasalahan yang dihadapi peternak adalah adanya ketidaksesuaian harga susu yang diusulkan para peternak melalui GKSI dengan harga yang ditetapkan IPS.

Tanpa adanya bantuan kredit nampaknya sulit bagi usahatani sapi perah rakyat untuk bisa berkembang dengan pesat seperti halnya di daerah Pujon. Hal ini cukup beralasan karena selain harga jual susu yang rendah, biaya pakan yang relatif tinggi, pengadaan sapi memerlukan biaya investasi yang cukup besar dan hal ini cukup sulit untuk bisa dicapai secara mandiri oleh kebanyakan peternak.

Skala usaha pilihan peternak untuk menjadikan usahatani sapi perah sebagai penghasilan pokok keluarga dapat dibenarkan. Kondisi skala usaha yang bersifat increasing return to scale di daerah Pujon ini disebabkan karena sapi perah yang dipelihara masih sangat mungkin ditingkatkan produksinya dengan adanya peningkatan faktor-faktor produksi. Tetapi hasil pengamatan saya menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan masing-masing input yang digunakan terhadap efsiensi alokatifnya. Berdasarkan harga faktor produksi didapatkan bahwa, baik penggunaan tenaga kerja, unit ternak, pemberian rumput maupun pemberian konsentrat untuk usahatani sapi perah masih sangat kurang, dengan demikian perlu adanya penambahan guna mendapatkan nilai efisiensi yang lebih tinggi, dengan cara menurunkan tingkat harga atau biaya faktor. Mengingat, besarnya pendapatan yang diperoleh peternak-peternak di sentra sapi perah ini relatif rendah dikarenakan produksi susu yang relatif rendah, harga jual susu yang juga relatif rendah, sebagaimana ditunjukkan pada penentuan pendapatan per liter susu maupun per unit ternak yang dikuasai peternak.

Pengembangan sapi perah masih belum optimal sehingga produksi susu per ekor per hari sapi perah hanya berkisar antara 9,07-9,90 liter. Padahal potensi produksinya sebesar 20 liter/ekor/hari. Jika produktivitasnya seperti itu, saya memprediksi bahwa propinsi Jawa Timur yang pada tahun 2004 memberikan kontribusi sebesar 46,38% terhadap produksi susu nasional ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan susu di wilayahnya sendiri pada tahun 2015 mendatang. Menurut prediksi ini kebutuhan susu di Jatim mencapai 2 kali lipat dari produksi susu setempat pada tahun yang sama. Hal ini mengindikasikan akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan susu dari produksi domestik sehingga akan mendorong peningkatan impor susu yang dapat memboroskan devisa negara.

Penerapan liberalisasi perdagangan susu mengakibatkan penurunan kinerja peternakan rakyat karena hilangnya proteksi pemerintah dan lemahnya posisi tawar para peternak. Kondisi ini diindikasikan permintaan susu segar oleh IPS yang diikuti dengan peningkatan impor bahan baku susu non fat sehingga dalam jangka panjang mendorong peternak keluar dari usaha pemeliharaan ternak sapi perah. Alternatif kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi hal ini diantaranya upaya peningkatan konsumsi susu yang dapat membangkitkan demand serta peningkatan kualitas susu dan peningkatan peran koperasi sehingga mampu memberdayakan peternakan sapi perah domestik dalam menghadapi liberalisasi perdagangan.

Salah satu permasalahan dalam proses pembangunan peternakan di pedesaan selama ini adalah tidak berkembangnya populasi dan tidak meningkatnya produksi susu. Adanya liberalisasi perdagangan mengakibatkan peternak semakin tidak efisien dan ada kecenderungan berkurang kemampuannya untuk mengusahakan ternak sapi perah. Mengingat, Indonesia belum siap menghadapi liberalisasi perdagangan susu. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah hilangnya proteksi pemerintah dan lemahnya posisi tawar para peternak. Kondisi ini diindikasikan dengan penurunan tingkat harga susu segar domestik, produksi dan produktivitas permintaan susu segar oleh IPS (Industri Pengolahan Susu) yang diikuti dengan peningkatan impor bahan baku susu non fat sehingga dalam jangka panjang makin mendorong peternak keluar dari usaha peternakan sapi perah.

Bagaimana sebaiknya kebijakan pemerintah yang dapat diambil untuk mengangkat performance peternakan sapi perah domestik?

Dalam jangka pendek pemerintah dapat menguatkan peranan kelembagaan koperasi sebagai wadah sekaligus proses pembentukan skala ekonomi dan juga transfer teknologi dan informasi kepada peternak. Peran koperasi ini mencakup kegiatan on farm maupun off farm perlu diperkuat. Selanjutnya pemerintah dapat memberikan dukungan pada peningkatan kualitas susu segar sapi perah yang diarahkan untuk memproduksi susu domestik yang berkualitas baik guna mensubstitusi impor bahan baku susu IPS dan dalam jangka panjang tentu saja pemerintah menggalakkan kampanye minum susu untuk meningkatkan komsumsi susu/kapita yang rendah. Dengan kebijakan ini mudah-mudahan akan menguatkan keterkaitan konsumsi dan produksi guna membangkitkan nilai tambah dari kegiatan ekonomi peternakan sapi perah di negeri ini.

Keberadaan usaha ternak sapi perah secara nyata memberi peluang untuk berkembang. Hal ini disadari untuk pemenuhan permintaan susu dalam negeri, pemerataan dan peningkatan kesempatan kerja serta peningkatan kualitas gizi. Namun, permasalahan yang dihadapi usaha ternak sapi perah relative kompleks selain produktivitas sapi perah yang dicapai relatif rendah, umumnya peternak memiliki skala usaha yang relative kecil. Karenanya, untuk memperbaiki kesejahteraan peternak perlu adanya peningkatan pendapatan melalui peningkatan efisiensi penggunaan input produksi. Susu merupakan jenis komoditas peternakan yang ketersediaannya di dalam negeri sangat terbatas dan ada kecenderungan akan semakin meningkat setiap tahunnya akibat permintaan susu di dalam negeri yang terus meningkat. Sementara untuk meningkatkan populasi sapi perah dan produksi susu dihadapkan pada kendala. Diantaranya rendahnya produktivitas ternak yang diusahakan peternak. Untuk itu, mengkombinasikan faktor-faktor produksi secara lebih efisien merupakan langkah yang arif.