Strategi G20 Hadapi Stimulus AS

Oleh : Prof Firmanzah Ph.D

Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Ekonomi

Selama pertemuan KTT G-20 di St. Petersburg (5-6 Sept.), selain pembahasan tentang krisis Suriah, topik pembahasan penting lainnya adalah menyikapi rencana pengurangan (tapering-off) stimulus moneter di Amerika Serikat. Meski, para pemimpin negara G-20 memahami bahwa keputusan tersebut merupakan wewenang The Fed, banyak suara dari negara emerging-markets selama KTT G-20 akan mendapatkan perhatian baik pemerintahan Obama maupun The Fed. Terganggunya pertumbuhan ekonomi emerging-markets dan negara berkembang, yang selama ini menyumbang lebih dari 50% pertumbuhan dunia, dipastikan dapat mengganggu upaya pemulihan ekonomi dunia.

Menjelang rapat FOMC dan penentuan siapa yang akan menggantikan Ben Bernanke, penyampaian kondisi yang terjadi di sejumlah negara kepada pemerintahan Obama selama KTT G-20 sangat penting. Kedua kebijakan tersebut dipastikan akan menentukan arah stabilitas pasar keuangan dan pertumbuhan ekonomi dunia. Di sejumlah negara berkembang, gejolak pasar keuangan dan pelemahan pertumbuhan ekonomi baik akan berdampak langsung pada agenda pembangunan (development agenda). Upaya pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan akan terganggu.

Suara-suara dari para pemimpin negara G-20 telah disampaikan kepada Presiden Obama. Terutama mereka yang terkena dampak dari kebijakan pengurangan stimulus moneter seperti India, Brasil, Afrika Selatan dan juga Indonesia.

Selain itu juga, pertemuan lebih teknis di tingkat Sherpa dan Kementerian juga telah disampaikan kondisi terkait gejolak pasar keuangan dan volatilitas nilai tukar mata uang akibat kebijakan ini. Pembahasan dan diskusi yang panjang akhirnya berhasil merumuskan apa yang disebut sebagai “St. Petersburg Action-Plan” serta “G-20 Leaders Declaration”.

Yang menarik dari kedua dokumen tersebut adalah kesamaan pemahaman bahwa perlu ditingkatkannya koordinasi, komunikasi, transparansi, serta policy-consultation sebuah kebijakan yang berdampak luas ke banyak negara.

Belajar dari pertemuan G-20 pertama di Washington, dimana pada saat itu para pemimpin 20 negara ekonomi terbesar dunia sepakat untuk saling berkoordinasi untuk mencegah perekonomian dunia mengalami krisis lebih dalam lagi. Policy-coordination yang sudah dilakukan selama KTT G-20 baik di Toronto, Cannes dan Los Cabos terbukti membantu percepatan pemulihan ekonomi dunia.

Tentunya kita semua berharap bahwa keberhasilan KTT G-20 periode-periode sebelumnya dapat diikuti oleh KTT kali ini. Dengan disepakatinya untuk terus meningkatkan koordinasi, optimalisasi peran Financial Stability Board, Global Safety Net, serta reformasi struktural masing-masing negara perlu terus dilakukan.

Amerika Serikat juga mulai memahami bahwa kondisi gejolak pasar keuangan yang sedang terjadi di sejumlah emerging-markets dalam jangka panjang juga akan berpengaruh tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi dunia tetapi juga bagi pemulihan ekonomi AS. Sehingga menjaga stabilitas pasar keuangan bukan hanya tanggung jawab negara-negara emerging-markets saja tetapi juga Amerika Serikat.

BERITA TERKAIT

Stimulus Pertumbuhan Konsumsi Penopang Ekonomi 2018

NERACA Jakarta – Meskipun pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2017 di bawah target dari APBN Perubahan 2017 sebesar 5,2%, namun pertumbuhan…

Sampoerna Latih Warga Dompu Hadapi Darurat Bencana - Membangun Kesadaran dan Kesiapan

Menjadi negara yang rawan terhadap bencana, maka membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakatnya terhadap potensi dan gejala bencana menjadi hal yang…

Pemkot Sukabumi Diminta Buat Strategi Lindungi Pelaku Ekonomi

Pemkot Sukabumi Diminta Buat Strategi Lindungi Pelaku Ekonomi NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi dituntut secepatnya membuat strategi dalam…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Impor, Kenapa Takut?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Jangan marah dulu dengan judul tulisan ini. Atau jangan buru-buru emosi…

Menteri Terbaik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi   Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Salah satu tim pembantu dalam Kabinet Kerja…