Rawan Profit Taking, Indeks Saham Masih Akan Koreksi

Senin, 09/09/2013

NERACA

Jakarta- Laju nilai tukar rupiah dan melebarnya defisit neraca perdagangan dinilai menjadi alasan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum mampu menguat secara positif. Meski lebih rendah dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp1,12 triliun, sepanjang pekan kemarin asing tercatat masih melakukan nett sell sebesar Rp830,64 miliar. Diperkirakan, pada pekan depan IHSG akan berada pada rentang support 3987-4038 dan resistance 4218-4222.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola menyerupai seperti hammer di bawah lower bollinger bands. MACD masih menurun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak turun di area oversold. “Tekanan jual sempat membawa IHSG berada pada kisaran target support kami, 4025-4137. Meski dapat keluar, namun belum mampu mendekati target resisten, 4235-4568.” katanya di Jakarta, Minggu (8/9).

Menurut dia, meski banyak ruang untuk terjadinya potensi kenaikan dan diimbangi dengan positifnya laju bursa saham global, namun untuk saat ini belum cukup mampu membuat IHSG menguat. “Jikapun terjadi kenaikan, sudah pasti langsung dimanfaatkan untuk profit taking yang akhirnya membuat IHSG sulit menguat.” ujarnya.

Dalam kondisi ini, kata dia, pelaku pasar dapat mencermati sektor perdagangan, pertambangan, konsumer, industri dasar, perkebunan, dan aneka industri. Sejumlah saham -saham yang dapat diperhatikan antara lain PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Antam Tbk (ANTM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA).

Selain itu, juga dapat memperhatikan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Indo Tambangraya Tbk (ITMG), PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Salim Invomas Tbk (SIMP), PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk (CPIN), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sentimen Global

Beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen pada pekan depan antara lain industrial production New Zealand; NAB business confidence and westpac consumer confidence Australia; Unemployment rate Korea Selatan; Balance of trade, inflation rate, industrial production, retail sales, and producer price index China.

Termasuk, produk domestik bruto (Gross Domestic Product/GDP), Bank Lending, current acount, Bank of Japan (BoJ) meeting, tertiary industry index, machinery orders, and consumer confidence Jepang; Unemployment rate and claimant count change Inggris; Inflation rate Jerman; Industrial production and current account Perancis; GDP Italia; industrial production Zona Euro; NFIB business optimism, wholesale inventories, initial jobless claims, retail sales, business inventories, and Redbook AS; dan lainnya.

Sementara itu, selama sepekan kemarin IHSG tercatat mengalami kenaikan pelemahan -122,74 poin (-2,93%), jauh di bawah pekan sebelumnya yang naik +25,26 poin (0,61%). Pelemahan juga terjadi pada IDX30 yang memimpin pelemahan dengan melemah -4,02% diikuti indeks JII dan ISSI yang masing-masing turun 3,83% dan 3,47%. Di sisi lain, laju indeks sektoral mayoritas mengalami pelemahan, dipimpin indeks properti yang turun 7,10% diikuti indeks infrastruktur yang turun -5,39% dan indeks manufaktur -3,34%. Penguatan tercatat hanya terjadi pada indeks pertambangan dan perkebunan yang masing-masing naik +5,59% dan +2,61%. (lia)