Jawa Mulai Terkonsentrasi ke Industri

Senin, 09/09/2013

NERACA

Bogor – Pulau Jawa kini mulai terlihat terkonsentrasi ke pulau berbasis industri dengan mulai berkurangnya minat masyarakat dalam menggeluti sektor pertanian, lantas beralih ke sektor non-pertanian, terutama industri. Hal tersebut disampaikan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus lewat pesan singkatnya kepada Neraca, Sabtu (7/9) pekan lalu.

“Jawa sudah mulai terkonsentrasi ke industri, sedangkan luar Jawa belum,” ujarnya.Heri mengatakan demikian untuk menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa terjadi penurunan distribusi rumah tangga petani dari Jawa ke luar Jawa. Pada 2003, sebanyak 57,48% rumah tangga usaha pertanian berada di Jawa. Sementara data hasil Sensus Pertanian 2013 menyebutkan kini hanya 51,38% rumah tangga usaha pertanian yang ada di Jawa.

Pulau-pulau lainnya di luar Jawa mengalami peningkatan komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian. Sumatera menjadi pulau yang mendapati kenaikan komposisi yang paling besar, yaitu dari 21,19% pada 2003 menjadi 24,05% pada 2013. Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua masing-masing meningkat hampir 1%.

Deputi Bidang Statistik Produksi Adi Lumaksono mempunyai pendapat senada dengan Heri. “Memang dari data yang ada bisa dilihat bahwa rumah tangga usaha tani di Jawa berkurang dan di luar Jawa meningkat. Perubahan paling besar terjadi di Sumatera. Melihat dari perkembangan yang ada, tampak indikasi bahwa peralihan terbesar menuju sub-sektor perkebunan, terutama kelapa sawit,” kata Adi.

Data BPS lainnya yang terkait adalah tentang jumlah rumah tangga usaha tani yang secara agregat menurun sebanyak 5,04 juta rumah tangga dalam sepuluh tahun terakhir. Pada 2003, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia adalah sebanyak 31,17 juta rumah tangga, sementara pada 2013 menurun menjadi 26,13 juta rumah tangga.

Menurut Adi, dari data-data tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia, terutama Pulau Jawa, mulai terkonsentrasi mendorong Indonesia menuju ke negara maju. Ciri-ciri negara maju adalah semakin meninggalkan sektor pertanian dan semakin menuju ke sektor jasa.

Namun, data tersebut juga bisa menjadi indikator bahwa sektor pertanian tidaklah lagi menarik ketimbang sektor-sektor lainnya sehingga membuat petani yang ada hijrah mata pencaharian dari pertanian ke non-pertanian. “Bisa jadi sektor pertanian tidak menarik lagi. Karena sering terjadi bahwa petani ini seperti berjudi dengan alam. Pada saat-saat tertentu mereka gagal panen,” jelas Adi.

Adi menjelaskan, petani tidak bangga dengan kepetaniannya yang tidak mensejahterakan. Banyak dari mereka yang kemudian pindah menjadi buruh-buruh industri atau berdagang. “Petani kita tidak bangga jadi petani. Makan saja susah,” kata Adi.

Data valid

Adi menjamin data yang diambil BPS dalam Sensus Pertanian 2013, termasuk data rumah tangga pertanian, adalah data yang valid dan jauh dari anggapan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa petugas. “Dijamin data valid. Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah dapat memetik pelajaran dan mengambil kebijakan yang tepat dengan panduan data Sensus Pertanian ini,” kata Adi.

Dalam Sensus Pertanian 2013, kata Adi, dilakukan pencocokan dan penelitian (Coklit) sebanyak dua kali. Pertama adalah ketika data hasil sensus di daerah terkumpul lalu dilakukan pencocokan dengan data yang dipegang oleh dinas setempat. Coklit kedua adalah ketika data sensus sudah terpusat lalu disandingkan dengan data yang dipegang oleh kementerian terkait.“Kalau setelah diteliti dengan data dari dinas dan kementerian lalu dirasa terlalu jauh perbedaannya atau kurang valid, maka langsung terjun lagi ke lapangan untuk verifikasi,” jelas Adi. [iqbal]