Indonesia Harus Jaga Investasi Pada Karya

NERACA

Jakarta – Indonesia membutuhkan investasi di industri padat karya dibanding padat modal, karena struktur tenaga kerja Indonesia didominasi oleh tenaga kerja dengan pendidikan rendah. “Indonesia dengan jumlah angkatan kerja yang besar dan kualitas yang sebagian besar masih rendah, membutuhkan investasi padat karya,” ujar Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rahma Iryanti di Jakarta, pekan lalu.

Rahma meragukan industri padat karya akan dapat berkembang dengan baik ketika upah minimum ditingkatkan secara signifikan. Upah buruh merupakan komponen biaya produksi yang cukup dominan dalam struktur biaya produksi industri padat karya.

Hasil survey Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa rasio biaya tenaga kerja industri padat karya terhadap biaya produksi cukup besar. Pada industri alas kaki, sebanyak 35% perusahaan yang mengikuti survey menyatakan total biaya tenaga kerja adalah lebih dari 30% terhadap seluruh biaya produksi.

Kondisi yang lebih parah terjadi pada industri garmen. Sebanyak 71% perusahaan mengeluarkan biaya tenaga kerja di atas 30%. Bahkan, jika didetailkan lagi, sebanyak 42% perusahaan garmen mengeluarkan biaya tenaga kerja di atas 50% terhadap total biaya produksi.

Chairman Korea Chamber of Commerce & Industry, Indonesia, CK Song mengatakan bahwa terdapat 1.650 perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia. Sebagian besar bergerak di industri padat karya. “Secara alami, perusahaan padat karya akan mengurangi jumlah buruhnya agar tetap dapat berdaya saing,” kata Song.

Dia juga mengaku bahwa telah banyak perusahaan Korea di Indonesia yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau melakukan relokasi. “Yang kita pikirkan bukan hanya keberlangsungan perusahaan, tetapi juga keberlangsungan Indonesia,” kata Song.

Song mengibaratkan industri di Indonesia seperti kejadian tenggelamnya kapal Titanic. Pada awalnya, kapten kapal diberi tahu sebanyak tujuh kali oleh awak kapalnya bahwa kalau diteruskan akan terjadi bahaya. Tetapi kapten kapal tidak mau dengar. Pada akhirnya Titanic tenggelam yang tidak hanya menenggelamkan kaptennya, tetapi seluruh awak di dalamnya.

Kita, lanjut Song, perlu mengembangkan dengan baik industri padat karya di Indonesia. Mayoritas tenaga kerja di Indonesia kurang dalam pendidikan formal. Sepanjang 25 tahun Song ada di Indonesia, dia menganggap tenaga kerja Indonesia loyal. Tetapi kalau pengusaha ditekan dengan kenaikan UMP yang mencekik industri padat karya, bukan tidak mungkin nantinya tidak ada lagi yang berinvestasi di Indonesia untuk industri padat karya. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Santri Lawan Hoax untuk Jaga NKRI

NERACA Bandung- Pengamat media sosial dari Komunikonten Hariqo Wibawa mengatakan, potensi santri menjadi pembuat konten hebat sangat besar, karena mereka…

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Auditor BPKP Tentang Aliran Kas APBD Kota Depok - Transfer Non Tunai Tidak Harus Lewat Bank BJB

Auditor BPKP Tentang Aliran Kas APBD Kota Depok Transfer Non Tunai Tidak Harus Lewat Bank BJB NERACA Depok - ‎Adanya…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Kemampuan Moneter Calon Gubernur BI Harus Teruji

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati,…

Mendes Sebut Penyerapan Dana Desa Terus Meningkat

    NERACA   Semarang - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo menyebutkan penyerapan dana…