OJK Bantah Buyback Bikin Harga Saham Stabil

Jumat, 06/09/2013

NERACA

Jakarta – Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengeluarkan aturan baru soal relaksasi pembelian saham atau buyback ditengah fluktuasi harga saham, dinilai sebagian kalangan belum memberikan sentimen positif terhadap pergerakan harga saham.

Merespon hal tersebut, Deputi Komisioner OJK Pengawas Pasar Modal I, Robinson Simbolon menegaskan, kebijakan buyback saham yang di keluarkan OJK bukan jaminan mutlak untuk membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) stabil."Tidak ada jaminan mutlak buy back untuk membuat indeks BEI stabil, penurunan indeks BEI juga bukan semata-semata kinerja emiten yang negatif,”ujarnya di Jakarta, Kamis (5/9).

Kendatipun demikian, dirinya akan tetap menjaga keseimbangan di pasar modal sehingga transaksi tetap berjalan meski jumlah saham beredar di pasar modal akan berkurang akibat kebijakan "buy back"."Kami akan menjaga keseimbangan pasar agar transaksi tetap berjalan dan pasar tidak 'kering,”tuturnya.

Terkait kinerja emiten, kata Robinson, kinerja emiten di dalam negeri sepanjang tahun ini relatif bagus, beberapa perusahaan terbuka yang telah mengumumkan kinerjanya cukup positif. Meski demikian, dirinya tidak menapik, emiten juga rentan terhadap kondisi gejolak ekonomi di dalam negeri maupun global, “Misalnya, China, kalau mereka tidak ada permintaan bahan produksi dari perusahaan di Indonesia maka akan berdampak juga,”jelas dia.

Dia mengaharapkan, pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan berlangsung dapat memberikan hasil yang positif terhadap situasi ekonomi dan keuangan global. "Mudah-mudahan G20 yang sedang berlangsung dapat positif," katanya.

Sementara Deputi Komisioner OJK Bidang Pengawas Pasar Modal II, Noor Rachman menambahkan, pihaknya telah menerima penyampaian rencana "buy back" dari beberapa emiten."Ada tujuh perusahaan dari beberapa sektor seperti properti dan otomotif untuk melaksanakan 'buy back,”ungkapnya.

Namun sayangnya, dirinya belum mengungkapkan lebih rinci perusa-perusahaan yang akan melakukan 'buy back'. Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito angkat bicara dan membantah terkait tuduhan buyback saham bikin rugi.

Menurutnya sejauh ini banyak pemberitaan yang menggambarkan adanya ketidakpahaman tentang kebijakan buy back saham. Pada akhirnya banyak yang melakukan kesalahan karena tidak memahami secara komprehensif kebijakan yang diharapkan dapat mengangkat kembali kinerja IHSG, “Banyak pihak tak pahami buy back saham dengan baik sehingga komentar diluar koridor. Buy back saham itu hanya dilakukan oleh emiten atas saham emiten bersangkutan. Setiap manajemen melihat harga saham di pasar lebih rendah dari riil pasti mereka putuskan buy back nanti butuh modal mereka akan jual lagi, “kata Ito.

Ito juga membantah, bila buy back saham yang dilakukan oleh perusahaan BUMN dan telah melantai di pasar modal akan merugikan negara, termasuk emitan BUMN itu sendiri. Padahal, hal itu tidak akan terjadi, bahkan langkah itu akan baik mendorong IHSG untuk menguat dan juga baik bagi perusahaan BUMN yang sudah melantai di pasar modal.“Nah, ada yang bilang merugikan negara kalau BUMN lakukan itu. Tentu saya katakan tidak, karena sahamnya masuk treasury stock BUMN atau emiten bersangkutan. Jadi, bukan suruh orang lain lakukan buy back“,ujar dia.

Sementara Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida menegaskan, terkait pembelian saham kembali bukanlah suatu kondisi krisis. Pasalnya, saat ini banyak emiten yang memiliki fundamental yang kuat dan sangat mendukung kondisi ekonomi saat ini. (bani)