Stanchart Dukung Perkembangan UKM

Kredit Mulai Rp200 Juta

Jumat, 06/09/2013

NERACA

Jakarta - Standard Chartered Bank atau Stanchart meluncurkan program baru untuk mendukung perkembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Tujuan dari peluncuran program ini karena selama ini sektor industri UKM belum digarap secara maksimal. Sehingga diperlukan strategi baru berupa fasilitas pinjaman properti komersial dan pinjaman dengan jaminan properti untuk industri tersebut.

“Kita buka kredit mulai Rp200 juta sampai Rp100 miliar. Bahkan untuk kondisi-kondisi tertentu, pengajuan kreditnya bisa di atas ketentuan kita,” kata Direktur Umum Standard Chartered Bank Indonesia, Micha Tampubolon, di Jakarta, Kamis (5/9). Dia juga menjelaskan, UKM yang dapat mengakses fasilitas tersebut harus memenuhi kriteria tertentu. Salah satunya, calon nasabah harus memiliki omzet minimal Rp2,4 miliar hingga Rp400 miliar per tahun.

Dengan rentang yang diakuinya relatif lebar itu diharapkan dapat menjaring sebanyak-banyaknya nasabah. “Kita memang berharap semua UKM dapat tergarap semua. Jadi secara teknis, UKM sejenis kios pun bisa-bisa saja mendapat akses pinjaman ini asal memenuhi kriteria. Setidaknya kita bisa melihat bahwa para calon nasabah memang punya kebutuhan riil atas pinjaman yang mereka ajukan,” tutur Micha.

Pada kesempatan yang sama, Country Head of Consumer Banking Standard Chartered Bank Indonesia, Sajidur Rahman, mengatakan pihaknya memahami bahwa salah satu langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yaitu dengan mendukung UKM, lantaran masih banyak kebutuhan perbankan pada industri ini yang belum terpenuhi.

“UKM merupakan tulang punggung ekonomi dunia termasuk di Indonesia. Namun meskipun UKM semakin penting, sektor ini belum tergarap dengan baik oleh bank-bank swasta yang ada selama ini. Padahal Indonesia yang memiliki populasi hampir 260 juta penduduk. Artinya, sangat terbuka kesempatan besar bagi perbankan menawarkan solusi keuangan untuk mengembangkan usaha mereka,” ungkap Sajidur.

Sementara itu, dia mengungkapkan segmen UKM telah tumbuh hampir dari dua kali laju PDB di sebagian besar pasar di Asia, Afrika dan Timur Tengah. Dia memperkirakan industri ini akan tumbuh sebesar 10%-12% setiap tahun di seluruh cabang Stanchart. “Ambisi kami ingin menjadi bank internasional terkemuka, khususnya sebagai penawar solusi di sektor UKM. Dengan begitu, kami bisa membangun sektor UKM menjadi bisnis multi miliar dolar, setidaknya dua hingga tiga tahun ke depan,” jelasnya.

Bunga pinjaman

Mengenai bunga pinjaman kredit bagi UKM, Micha Tampubolon mengatakan pihaknya membagi dua skema untuk tiap nasabah sesuai dengan fasilitas yang dipilihnya. Pertama, fasilitas pinjaman tanpa agunan yang akan diberikan kepada nasabah dengan tingkat risiko usaha relatif rendah.

Namun nasabah jenis ini, kata dia, akan mendapat bunga yang lebih tinggi. Kedua, fasilitas pinjaman dengan agunan yang akan diberikan kepada nasabah dengan tingkat risiko usaha lebih tinggi. Nasabah jenis ini akan mendapat bunga pinjaman yang lebih rendah dari nasabah tanpa agunan.

Ketika ditanya besaran bunga kredit untuk UKM untuk program perkreditan ini, Micha mengaku belum memperhitungkan ukuran bunga yang tepat. Karena Stanchart akan menerapkan ukuran bunga yang berbeda bagi tiap-tiap nasabah. Dan juga tergantung dari besaran kredit yang diajukan nasabah.

“Kalau range atau kisaran angka bunganya berapa untuk masing-masing jenis nasabah kita harus melihat dulu tawaran pinjaman yang akan diminta nasabah. Dari sana kita baru bisa memperhitungkan besaran bunganya. Tapi pastinya kita punya penawaran yang kompetitif,” terang Micha.

Dia melihat kalau prospek pemberian pinjaman kredit kepada UKM ke depan sangat bagus. Pasalnya, berdasarkan data Stanchart, selama ini bank-bank swasta baru menjangkau 20% dari total 54 juta UKM yang ada di Indonesia. Dengan begitu, Stanchart melihat masih banyak ruang pada industri UKM berpotensi untuk diajak kerja sama.

Dengan mengoptimalkan potensi pemberian pinjaman kepada UKM, Micha menilai langkah ini dapat meningkatkan realisasi pertumbuhan kredit pihaknya. Karena selama ini melalui fasilitas kredit perdagangan dan fasilitas kredit modal kerja saja Stanchart berhasil menempuh pertumbuhan kredit sampai 40%.

Oleh karena itu, melalui peluncuran program perkeditan untuk UKM ini realisasi pertumbuhan kredit Stanchart dapat meningkat sebanyak 5%. “Harapannya semoga bisa menembus hingga 10%. Tapi untuk tahun ini tentu belum dapat tercapai. Jadi, ya, 5% sudah cukup,” tandas Micha. [lulus]