Menjelang AEC, Peningkatan Daya Saing Perlu Dimanfaatkan

Jumat, 06/09/2013

NERACA

Jakarta - Berdasarkan laporan dari World Economic Forum (WEF) yang terkait dengan terkait peringkat daya saing global tahun 2013 - 2014 (the Global Competitiveness Report 2013 - 2014) menyebutkan bahwa peringkat daya saing Indonesia naik 12 peringkat dari 50 pada 2012 - 2013 menjadi 38 pada 2013 – 2014 dari 148 negara. Atas dasar itu, Sekertaris Jenderal Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan prestasi ini harus dimanfaatkan terlebih menjelang ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

Menurut Gunaryo, Indonesia kini semakin memiliki daya tarik yang besar bagi investasi asing. "Kondisi ini harus dipertahankan dan dimanfaatkan, terutama dalam menjelang ASEAN Economic Community tahun 2015 nanti," jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (5/9).

Ia menjelaskan bahwa peringkat daya saing ini diukur berdasarkan beberapa faktor, termasuk kebijakan pemerintah yang mempengaruhi tingkat produktivitas dan pembangunan suatu negara. Pada tahun ini, peringkat teratas masih ditempati oleh Swiss, diikuti Singapura dan Finlandia yang masing - masing berada diurutan kedua dan ketiga.

Dibandingkan negara anggota ASEAN lainnya, Indonesia termasuk cukup kompetitif. Selain Singapura, hanya Malaysia, Brunei Darussalam dan Thailand yang berada di atas Indonesia peringkatnya, yaitu masing - masing berada di urutan 24, 26, dan 37. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia masih harus terus memperbaiki beberapa permasalahan yang dapat mempengaruhi iklim usaha, antara lain tingkat korupsi, birokrasi pemerintah yang kurang efisien, infraktruktur yang belum baik, akses terhadap pembiayaan, regulasi tenaga kerja yang ketat, dan ketidakstabilan politik.

Gunaryo berpendapat bahwa Indonesia masih memiliki peluang besar untuk lebih meningkatkan daya saingnya. "Komitmen kita jelas dalam memberantas korupsi, kemudian kita juga sedang memperbaiki tatanan birokrasi melalui reformasi birokrasi, sehingga layanan publik diharapkan makin efisien, cepat, dan transparan. Hal-hal seperti ini jika dilaksanakan secara konsisten tentu dapat mendorong peningkatan daya saing kita," imbuhnya.

Lebih lanjut, Gunaryo berharap agar kenaikan peringkat daya saing ini juga dapat mendorong kepercayaan dunia usaha Indonesia dalam memasuki berbagai kompetisi global. "Sehingga Indonesia mampu menjadi pemain aktif dalam perdagangan global," tandasnya.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam menjelaskan, raihan prestasi itu menunjukkan bahwa kebijakan, program dan arah pembangunan yang dilakukan pemerintah selama ini sudah benar dan tepat. Sehingga mendapatkan apresiasi dari kalangan investor dan dunia usaha yang disurvei WEF. "Ini menjadi bukti bahwa apa yang dilakukan pemerintah selama ini sudah pada arah yang benar, dan telah menunjukkan hasil yang pantas diapresiasi oleh dunia usaha maupun investor. Terjadi penurunan nilai tukar Rupiah itu merupakan gejolak dunia, yang tidak hanya dirasakan Indonesia tetapi juga terjadi di negara-negara lain,” tambahnya.

Dia mengungkapkan saat ini masih terdapat kekurangan. Meski demikian, dia menilai kinerja para menteri saat ini sudah sangat baik. Sehingga di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, dunia justru memberikan apresiasi pada daya saing kita yang melesat jauh,” tukasnya.

Sebanding Malaysia

Sementara itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih melihat Indonesia harusnya punya daya saing yang sebanding dengan Malaysia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). "Kalau (peringkatnya) naik, tentu saja bagus. Tapi kalau berkaitan dengan MEA, kita kan bersaing dengan negara-negara itu (ASEAN-5). Kalau kita di lima negara ASEAN itu di paling bawah, di bawah Filipina apalagi, ini berbahaya. Karena kita bisa jadi korban MEA," tukas Nining.

Di posisi mana Indonesia seharusnya berada? Nining menjawab, "Kita harusnya nggak kalah dari Malaysia." katanya. Malaysia duduk di peringkat 24 IMD World Competitiveness Ranking 2013, peringkat kedua jika hanya melihat negara-negara ASEAN. Singapura duduk di peringkat 2 secara global, peringkat satu ASEAN. Thailand 37 secara global. Indonesia di peringkat 38.

Jika Indonesia tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki daya saing, Nining memperingatkan Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi barang-barang produksi negara tetangga. "Ini tidak hanya barang, tapi juga jasa, investasi, arus modal, kita akan kalah. Dan itu berbahaya bagi Indonesia," sergahnya.

Diketahui, MEA akan berlaku pada penghujung tahun 2015, membuat kebijakan satu pasar terbuka ASEAN baru efektif 2016. Indonesia masih punya dua tahun waktu untuk mengejar daya saing yang lebih baik. Menurut Nining, pemerintah harus fokus pada dua hal: infrastruktur dan kelembagaan.