Pelemahan Rupiah Perkeruh Pergerakan Indeks

Investor Butuh Aksi Nyata

Jumat, 06/09/2013

NERACA

Jakarta – Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan sebagian pengamat akan berada di level 12.000 hingga tahun depan, akan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung terus bergerak fluktuatif. Pergerakan yang belum jelas ke mana arahnya ini, dimanfaatkan sebagian besar pelaku pasar untuk melakukan profit taking.

Pada perdagangan Kamis (5/8) IHSG ditutup melemah 0,5% atau kehilangan 22,5 poin ke level 4.050,86 dengan jumlah investor asing yang melakukan aksi jual mencapai Rp135 miliar. Volume perdagangan mencapai 4,3 miliar saham senilai Rp5,2 triliun. Pelemahan indeks seiring 163 saham yang melemah, 85 saham menguat dan 86 saham stagnan. Level terendah berada diposisi 4.015,43 dan level tertinggi pada posisi 4.123,72.

Menurut kepala Riset Trust Sekuritas, Reza Priyambada, pelemahan rupiah membuat indeks bergerak berbalik arah meskipun pemerintah dan BI telah melakukan tindakan penjagaan terhadap pergerakan rupiah. Namun, ketidakmampuan pengemban tugas ini terlihat dengan rupiah yang kembali melemah ke level 11.000 lebih.“Pelaku pasar tidak hanya butuh ungkapan bahwa mereka (BI dan pemerintah) akan menjaga stabilitas rupiah, tetapi aksi nyata yang diambil untuk menjaga kondisi rupiah. Jika rupiah melemah otomatis pelaku pasar lebih memilih transaksi harian untuk ambil untung”, ujar dia.

Hal ini terlihat pada pembukaan IHSG bergerak naik ke level 4.093,81 dan pada penutupan sesi I IHSG kembali menguat 0,6% atau naik 26,04 poin menjadi 4.099,5 dan ditutup kembali turun. Menurut dia, saat ini terlihat tidak ada koordinasi antara pemerintah dan BI dalam menangani pelemahan rupiah.“Seolah BI yang bertanggung jawab terhadap pelemahan rupiah. Padahal yang membuat rupiah melemah juga impor yang jumlahnya jauh lebih besar dari ekspor Indonesia. kerjasama antara para pemangku ini yang ditunggu dan dibutuhkan saat ini”, jelasnya.

Dengan kondisi rupiah seperti saat ini, indeks juga diperkirakan akan terus bergerak fluktuatif. Dia menilai kalaupun akan ada reborn itu hanya teknikal saja karena banyak investor yang memilih untuk membeli di pembukaan perdagangan dan menjualnya lagi ketika harga sahamnya naik.“Kondisi ini kemungkinan hingga kuartal pertama tahun depan, pemerintah punya waktu sekitar 7 bulan untuk memperbaiki kondisi rupiah. Jika tidak dibenahi indeks akan tetap berada dikondisi ini apalagi sudah tidak ada lagi sentimen positif yang ditunggu dari dalam negeri sendiri”, katanya.

Dia melanjutkan, pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten yang akan segera dilakukan hanya kemungkinan kecil dapat mendongkrak indeks naik. Pasalnya, jika emiten tersebut hanya menyediakan dana kecil dan tidak mampu membeli sahamnya hingga kisaran 20% dari sahamnya yang beredar, usaha tersebut akan nihil hasilnya.“Kalau cuma sediakan sekitar puluhan milyar saya rasa masih kurang dan tidak akan memberi dampak posiitf. Setidaknya 20% saham yang beredar dibeli, dan juga harus secara kumulatif”, ujar dia. (nurul)