Ekonomi China Melambat Berdampak ke Indonesia

Laporan ICAEW

Jumat, 06/09/2013

NERACA

Jakarta – The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa perekonomian ASEAN, termasuk Indonesia, sangat dipengaruhi oleh China dalam rantai produksi secara global.

The Center for Economics and Business Research (CEBR) yang merupakan mitra sekaligus pengamat perekonomian ICAEW memperkirakan bahwa negara dengan tingkat ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan hanya mengalami pertumbuhan 7,2% pada tahun 2013, dan ini akan mengurangi permintaan atas komoditas ASEAN sekaligus ekspor lainnya yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.

“Menurunnya perekonomian negara raksasa tersebut akan berdampak pada kondisi ekonomi yang memang sudah lemah,” kata Head of Macroeconomics CEBR yang juga Economic Advisor ICAEW, Charles Davis, lewat siaran pers yang diterima Neraca, Kamis (5/9).

Dari segi ekspor, perekonomian China yang melemah akan terus memberi dampak terhadap perekonomian ASEAN karena negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar ASEAN. Harga komoditas yang belakangan melemah pun cukup besar dipengaruhi oleh China. Konsumsi domestik dan intra-ASEAN tetap menjadi faktor pendorong yang penting bagi perekonomian ASEAN dan produktivitas yang meningkat akan menjadi faktor utama dalam memajukan standar kehidupan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa China adalah negara tujuan ekspor utama Indonesia untuk komoditas non-migas. Nilai ekspor Indonesia ke China untuk Bulan Juli saja sebesar US$1,7 miliar. Jika diakumulasi dari Januari sampai Juli 2013, nilai ekspor Indonesia ke China adalah sebesar US$11,8 miliar.

Regional Director ICAEW Asia Tenggara Mark Billington menambahkan bahwa jumlah populasi yang semakin tumbuh serta potensi peningkatan produktivitas di Thailand, Indonesia, Malaysia dan Filipina merupakan modal yang kuat di kawasan ini. Investasi dalam bentuk fisik maupun SDM akan meningkatkan jumlah produksi per pekerja.

“Meskipun Indonesia menghadapi masalah produktivitas di tahun 2013 dan 2014 yang disebabkan peralihan usia tenaga kerja, akan banyak modal baru yang masuk serta rantai distribusi pasokan pun akan berkembang. Peningkatan permintaan dari luar pada 2015 akan kembali mendorong naiknya pertumbuhan produktivitas,” jelas Mark.

ASEAN, kata Mark, selama ini mengandalkan ekspor barang ke berbagai belahan dunia lainnya untuk memicu pertumbuhan dan peningkatan produktivitas. Proses kredit dan pendapatan bersih yang semakin diperketat di negara-negara maju telah mengurangi volume permintaan akan barang-barang dari ASEAN, sehingga negara-negara di kawasan ini tetap harus terus meningkatkan produktivitas dan pembelanjaan konsumen agar dapat mempertahankan pertumbuhannya.

AS berkontribusi

ICAEW dalam laporannya juga mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan melemahnya pertumbuhan ekonomi akibat kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit tahunan di seluruh kawasan diperkirakan menurun dari tahun 2012 ke tahun 2015. Cheap money sebagai kebijakan dari the Fed sebelumnya telah memberi kemudahan kepada perusahaan dan pemerintah dalam mengajukan kredit, mendanai infrastruktur dan berbagai proyek bisnis.

Hal ini juga berdampak pada tingginya tingkat inflasi, harga properti dan perolehan yang impresif di bursa saham lokal, meskipun tidak bersifat jangka panjang. Pemotongan subsidi bahan bakar minyak oleh pemerintah tak pelak turut memicu peningkatan inflasi tersebut, sehingga daya beli konsumen pun berkurang. Namun, besarnya populasi Indonesia serta tajamnya pertumbuhan golongan ekonomi menengah dapat mengakselerasi peningkatan konsumsi di tahun 2014 dan 2015.

“Baik Pemerintah maupun penduduk di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara selama ini memperoleh keuntungan dari rendahnya tingkat suku bunga, sehingga tingkat konsumsi dan peminjaman pun tinggi. Hal ini akan berubah secara perlahan seiring pulihnya perekonomian AS dan the Fed saat ini tengah berencana menghentikan strategi kelonggaran kebijakan moneternya.

Konsumen, pelaku bisnis, dan pemerintah AS pun akan mulai membiasakan diri dengan kondisi di mana ketersediaan pinjaman menurun dan beban peminjaman uang meningkat. Namun kami yakin bahwa kondisi akan membaik pada 2015 dengan kembalinya para pemilik modal yang selalu mencari peluang pertumbuhan,” jelas Charles. Lemahnya arus masuk modal merupakan sebuah tekanan besar bagi pasar regional. Akan tetapi, kata Charles, hal tersebut tidak akan sampai kepada kondisi krisis finansial. [iqbal]