Industri Asuransi Butuh Modal Besar - Tantangan Masyarakat ASEAN 2015

Jakarta – Sepanjang 2010 lalu, industri asuransi baik umum ataupun jiwa memang mencatat prestasi mengesankan. Tengok saja, total aset mereka mencapai Rp236,66 triliun, meningkat hingga 30,7% dibanding periode sebelumnya yang sebesar Rp181,81 triliun. Namun, untuk tantangan ke depan, industri ini harus memiliki modal besar.

“Pemenuhan modal minimum pada industri asuransi penting, tidak hanya berfungsi mengendalikan risiko, namun juga menghidupi perusahaan melalui promosi-promosi yang dilakukan. Jika uang saja cekak, bagaimana dapat bersaing dengan perusahaan asuransi asing saat dibukanya masyarakat ekonomi ASEAN? Harus realistis, karena ujung-ujungnya uang”, ungkap pengamat asuransi, Munir Sjamsoeddin di Jakarta, Rabu (6/7) malam.

Dengan permodalan yang terjaga, perusahaan asuransi juga dapat membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) mereka. Terlebih saat Indonesia masuk dalam masyarakat ekonomi ASEAN di 2015, dan persaingan menjadi terbuka, pelaku industri harus berbenah. "Dengan ada kepemilikan asing dan masyarakat ekonomi ASEAN, akan ada free flow anything. Dengan pemikiran sederhana, enggak bisa dengan modal cekak. Harus besar," tegas dia.

Terlebih, menurut Munir, industri asuransi saat ini masih tidak efisien. "Ada sekitar 90 asuransi umum yang masih inefisiensi. Memang kita tumbuh 7%, namun yang paling bertambah adalah asuransi di kendaraan," paparnya.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kornelius Simanjuntak menambahkan, pemenuhan permodalan minimum menjadi harga mati. Penjadwalan ulang dalam pemenuhan modal oleh Bapepam-LK pun harus dimanfaatkan oleh pelaku industri asuransi sebaik mungkin. "Dari asosiasi sejak awal memang mengatakan, kita harus manfaatkan rescheduling ini. Dan tidak ada penawaran lagi. Tugas kami di 2012 untuk mendorong anggota dan mengingatkan, waktu akan cepat tiba. Kita syukur, pemerintah sangat bijak dalam penjadwalan ulang ketentuan permodalan. Yang di 2014 menjadi Rp 100 miliar. Jika waktu itu, di 2008 modal harus Rp 100 miliar, maka 60 perusahaan asuransi akan tutup," tegas Kornelius.

Di sisi lain, dengan rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya asuransi, ia menyarankan perlu ada edukasi sejak dini. Asosiasi bersama Dewan Asuransi Indonesia sedang mengkaji pengenalan asuransi, dengan melibatkan industri. "Kalau sebenarnya, asuransi bisa diperkenalkan sejak dini dalam pendidikan, tingkat dasar atau tingkat pertama, maka akan sangat berbeda," ungkap papar Kornelius.

Sementara itu, di tengah pertumbuhan tersebut, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Nurhaida menilai, industri asuransi masih perlu berbenah. Terlebih dengan tantangan global yang menjadikan pelaku dituntut bersaing ketat, tidak hanya dengan asuransi lokal, tapi pelaku asing atau joint venture. "Dengan persaingan ketat, ini menjadi tantangan dan perlu luruskan visi bersama," papar dia.

Nurhaida mengingatkan setidaknya lima tantangan baru yang harus menjadi pekerjaan rumah industri asuransi. Pertama adalah masalah permodalan. "Kta perlu pahami bersama ini penting. Dengan modal yang kuat maka apapun bisa dilaksanakan. Harus ada pemenuhan kebutuhan minimal modal. Yang masih dibawah Rp 50 miliar atau Rp 100 miliar," tutur Nurhaida.

Kedua, masalah sumber daya manusia. "Salah satu keberhasilan asuransi bukan hanya sistem informasi. Tapi juga sumber daya manusia. Jika perlu terspesialisasi," katanya.

Ketiga, masih rendahnya kesadaran pentingnya asuransi bagi masyarakat. "Kejadian rendahnya penetrasi, bisa disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih belum memadai. Umumnya produk asuransi kenal pada pendidikan yang memadai. Untuk itu edukasi ke semua lini penting. Mereka harus sadar, dalam hidup penting menginvestasikan asuransi di masa depan," ujarnya.

Keempat, minimnya produk asuransi untuk masyarakat bawah. "Produk asuransi masih didominasi oleh masyarakat atas (golongan mampu). Yang ada di pasaran, tingkat premi dan pertanggungan masih tinggi. Sehingga penduduk tengah dan bawah, yang jumlahnya relatif banyak belum bisa disentuh. Padahal seluruh masyarakat mempunyai kebutuhan yang sama dalam asuransi, untuk mengelola risiko mereka. Ini tantangan untuk semua, regulator atau pelaku industri," tutur Nurhaida.

Kelima, asuransi masih berpusat di kota-kota besar. "Ini inline dengan poin empat. Karena kota-kota besar masih dihuni masyarakat sedang-atas. Sedangkan masyarakat bawah memang cenderung di daerah. Kita harap semua teratasi, dan dapat diikuti seluruh lapisan masyakat," imbuhnya.

Unit Link

Sedangkan terkait produk asuransi unit link, yang menggabungkan layanan proteksi dan investasi sekaligus, justru menihilkan fungsi asuransi itu sendiri. Pemegang polis justru tidak mendapat manfaat proteksi secara maksimal saat musibah menimpanya. "Kita harus sepakat dulu. Fungsi asuransi adalah risk manager, bukan fund manager. Kalau itu ada perusahaan tersendiri. Kita lihat fungsi risiko saat bencana yang terjadi 10 tahun belakang, tidak ada manfaat," kata Munir Sjamsoeddin.

Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Hendrisman Rahim menambahkan, fungsi proteksi belum menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Ini ditunjukkan dengan penetrasi produk unit link yang lebih tinggi dibanding produk konvensional atau murni terproteksi.

Pelaku industri juga semakin gencar mempromosikan produk unit link. "Kita berkembang karena ekonomi Indonesia. Unit link produk yang didesain agar pemegang polis dapat nilai yang lebih besar. Produk ini lebih besar growing tapi tidak industri kurang," tegasnya.

Namun Hendrisman percaya, seiring berjalannya waktu masyarakat mulai menyadari pentingnya proteksi dan akan kembali ke produk konvensional. "Saat ini itulah yang terjadi, dan seiring waktu, dan akan kembali ke produk proteksi," ucapnya.

BERITA TERKAIT

Tantangan Bekerja untuk Keadilan

Oleh: M. Sunyoto Setiap pemimpin politik punya visi tentang keadilan, setidaknya dia paham secara teoritis apa yang disebut dengan tindakan…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM - Industri Kecil dan Menengah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

10 LKM Syariah Kantongi Izin dari OJK

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan izin operasi sepuluh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM Syariah) yang diharapkan…

BTN Ajak Mahasiswa jadi Entrepreneur Properti

  NERACA Yogyakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. siap mengawal para mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda handal di bidang properti…

Bank Muamalat Resmikan Unit Program Social Trust Fund Di Bali

  NERACA Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (Bank Muamalat) secara resmi memperkenalkan Unit Program Social Trust Fund (STF)…