Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Jumat, 06/09/2013

Oleh: Kencana Sari, SKM., MPH

Peneliti di Balitbangkes, Kemenkes RI

Kondisi ekonomi negeri ini belakangan tak begitu cerah. Terbukti dari inflasi yang cukup tinggi di pertengahan tahun, nilai rupiah yang terpuruk, ketergantungan pada bahan pangan impor, dan meningkatnya nilai suku bunga tidak berdampak kecil pada kehidupan masyarakat. Padahal keadaan ekonomi negara merupakan faktor penentu tingkat kemiskinan dan kelaparan.

Di lain sisi, presentase pengeluaran untuk bahan makanan di tingkat rumah tangga akan meningkat. Menjadikan lebih banyak penduduk berada pada kelompok yang rentan terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Pada level rumah tangga, ketahanan pangan menyangkut kemampuan fisik dan ekonomi suatu keluarga untuk mengakses makanan yang cukup baik dari segi jumlah, kualitas dan kepantasan bagi seluruh anggota rumah tangga.

Kenaikan harga-harga bahan makanan yang tinggi dalam waktu singkat diperburuk dengan berkurangnya penghasilan akan meningkatkan risiko rendahnya ketahanan pangan rumah tangga. Tentu saja hal ini mempunyai dampak terhadap status gizi penentu kualitas hidup penduduk jika tidak diatasi segera. World Hunger statistik 2013 menyatakan bahwa 32.5% anak di negara berkembang menderita stunting. Dari jumlah itu lebih dari 70% anak yang kekurangan gizi berada di Asia. Apa akibatnya?

Kekurangan gizi pada wanita hamil akan menyebabkan 1 dari 6 bayi lahir mempunyai berat lahir rendah (<2500gr). Hal ini bukan saja memperbesar risiko kematian neonatal (<28 hari) tetapi juga menurunnya kemampuan belajar, keterbelakangan mental, kondisi kesehatan yang buruk dan kematian muda. Siapakah mereka yang rentan? Anak, ibu hamil, lansia akan mengalami dampak yang lebih nyata dibanding kelompok lainnya.

Lebih khususnya anak perempuan, seperti yang dicantumkan oleh Plan dalam laporan programnya di berbagai negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika tahun 2013 menunjukkan bahwa menurunnya PDB sebesar satu persen akan meningkatkan kematian bayi 7.4 kematian per 1000 kelahiran hidup pada jenis kelamin perempunan versus 1.5 pada jenis kelamin laki-laki. Semakin mahalnya kebutuhan pangan, akan menyebabkan keluarga mengurangi membeli makanan, apalagi makanan yang bergizi sehingga anak, ibu hamil dan menyusui akan berisiko mengalami kurang gizi.

Padahal anak butuh nutrisi yang baik untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan wanita cenderung menjadi “shock absorber", mengurangi konsumsi dirinya sendiri untuk "mengamankan" ketahanan pangan rumah tangganya bagi anggota keluarga yang lain. Bagaimana mengatasi ini, paling tidak keluarga harus pintar menyiasati pilihan bahan makanan yang bergizi tetapi murah. Menanam sayuran di rumah sendiri merupakan salah satu cara, selain bebas pestisida juga menghijaukan rumah. Tentu saja butuh dukungan mereka di bidang algikultur untuk menciptakan bibit-bibit yang murah dan mudah perawatan.

Seperti halnya yang dilakukan Thailand sejak 1982. Guna mengentaskan kemiskinan, pemerintah membuat program agar masyarakat dapat dengan mudah memperoleh kebutuhan dasar yaitu pangan. Karena makanan yang baik umumnya adalah kebutuhan utama terutama bagi masyarakat miskin. Berbagai program pemberantasan kemiskinan melalui penciptaan lapangan pekerjaan di daerah pedesaan terutama pada musim kemarau, program peningkatan produksi pertanian di antaranya peternakan ikan dan unggas di pedesaan, serta peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan gizi di masyarakat.

Melalui berbagai program yang dilakukan Thailand lantas menjelma menjadi salah satu negara yang sukses dalam meningkatkan status gizi masyarakatnya melalui program pengentasan kemiskinan. Sebenarnya banyak program yang serupa yang dilakukan di Indonesia, pertanyaanya adalah mana hasilnya?