BSB akan Optimalkan Fee Based Income - Dampak Kenaikan BI Rate

NERACA

Jakarta - PT Bank Syariah Bukopin (BSB) memiliki strategi khusus dalam mensiasati potensi tergerusnya pendapatan pasca-kenaikan suku bunga acuan perbankan (BI Rate) sebesar 7%, yaitu mengoptimalkan pos-pos tertentu seperti fee based income dari transaksi keuangan.

Kepala Divisi Bisnis Bank Syariah Bukopin, Farhan Kamil, mengatakan pihaknya khawatir pendapatan anak usaha Bank Bukopin itu bakal tergerus. Pasalnya, naiknya BI Rate membuat perbankan akan mengalami tekanan dari sisi kredit. Hal ini dikarenakan potensi meningkatnya risiko kredit macet usai bank-bank berlomba-lomba menyesuaikan BI Rate.

“Khawatir pasti ada, karena pendapatan bukan dari marjin aja. Tapi ada juga dari fee based income dari transaksi keuangan dan giro. Dan itu yang kita optimalkan,” jelas Farhan di Jakarta, Rabu (4/9). Dia mengatakan, peningkataan suku bunga acuan perbankan tersebut tidaklah berdampak secara langsung dan signifikan pada industri perbankan syariah dari sisi pembiayaan kredit.

“Kredit macet memang risikonya ada. Tapi peningkatan BI Rate tidaklah berdampak langsung pada bank syariah. Misalnya, 11% dari marjin tidak boleh naik lagi. Yang profit bank syariah itu sendiri yang hanya berkurang dari dampak BI Rate,” terangnya.

Farhan juga menilai, dengan naiknya BI Rate tersebut jika dilihat secara umum, mengingat kondisi ekonomi nasional yang seperti ini, maka pengaruhnya ada di sektor usaha. Efeknya perusahaan yang tidak kuat mempertahankan perusahaannya mengingat suku bunga kredit yang cukup besar, akan mengurangi bebannya dengan pemecatan karyawan.

“Dengan peningakatan BI Rate sektor usaha sedikit pengaruh, misal perusahaan itu pasti akan ada pemecatan didalam perusahaan kedepannya, dengan seperti ini maka beban perusaahan akan sedikit berkurang dan juga pengurangan pendapatan,” tandasnya. [ardi]

Related posts