SDM Iptek Meningkat Dorong Saing Ekonomi

Kamis, 05/09/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, menilai peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) telah mendorong daya saing perekonomian Indonesia. "Kalau kita bicara daya saing banyak faktor yang diukur tapi yang paling menonjol adalah kemampuan iptek kita yang meningkat," ujarnya di Jakarta, Rabu (4/9).

Menurut dia, selain adanya peningkatan kualitas sumberdaya manusia, kenaikan peringkat tersebut menunjukkan adanya kemajuan dari pemerintah dalam mengelola perizinan dan birokrasi di Indonesia. "Di situ ada juga hal-hal seperti tata kelola, misalkan bagaimana kita bisa mengelola perizinan. Itu yang membuat doing business di Indonesia membaik," kata Hatta.

Namun, Hatta mengakui peningkatan pelayanan tersebut, juga diikuti oleh peningkatan korupsi yang berarti kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi belum berjalan secara maksimal dan masih memiliki kelemahan struktural.

"Kita mengedepankan peningkatan belanja pegawai yang harus dikaitkan pelayanan publik sehingga tidak bisa lagi menambah pegawai yang memberatkan APBN, kalau tidak bermuara pada meningkatnya pelayanan publik," katanya.

Global Competitiveness terbaru World Economic Forum (WEF) menaikkan daya saing Indonesia dari sebelumnya tahun 2012 di peringkat 50, menjadi peringkat 38 pada 2013. World Economic Forum juga mencatat Indonesia saat ini memiliki momentum pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berada pada kisaran 5,2% dalam beberapa dekade terakhir. Hal tersebut yang menyebabkan adanya peningkatan peringkat Indonesia secara signifikan.

Dari 12 pilar yang menjadi ukuran dalam penilaian, Indonesia mengalami kenaikan peringkat dalam 10 indikator, dan yang menunjukkan kinerja paling baik adalah dalam bidang pembangunan infrastruktur, efisiensi di pasar tenaga kerja dan peningkatan pelayanan di institusi publik. Kemudian, lingkungan makroekonomi Indonesia juga menunjukkan kinerja baik, karena rasio utang terhadap PDB dan laju inflasi relatif terjaga. Selain itu, penggunaan iptek yang menjadi salah satu indikator penilaian ikut memperlihatkan adanya peningkatan.

Krisis energi

Tak hanya itu, Hatta juga mengatakan krisis politik yang terjadi di Suriah dapat mempengaruhi harga minyak dunia dan menyebabkan gejolak yang dapat mengakibatkan krisis energi. "Saya kira akan ada pengaruhnya pada harga minyak. Ini yang saya kira harus kita jaga dan berhati-hati," ujarnya.

Hatta mengatakan pemerintah telah menyiapkan antisipasi apabila kongres AS memberikan persetujuan untuk aksi militer ke Suriah, dengan mulai mengurangi impor migas serta mendorong pemanfaatan energi biodiesel. "Kebijakan kita untuk mempercepat penggunaan biodiesel itu mutlak harus kita lakukan," katanya.

Selain itu, upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis energi, pemerintah akan konsisten untuk mendorong produksi minyak dalam negeri dengan memberikan insentif untuk mencari ladang baru. "Kita akan menekan konsumsi, kemudian melakukan diversifikasi energi, ini masalah klasik, asalkan kita melakukan kebijakan secara konsisten," kata Hatta. [lulus]