5,04 Juta Rumah Tangga Tani Berkurang

Terjadi Pergeseran Mata Pencarian

Kamis, 05/09/2013

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir sebagian data hasil Sensus Pertanian 2013. Tercatat bahwa jumlah rumah tangga tani sepanjang 10 tahun terakhir berkurang sebanyak 5,04 juta rumah tangga. Pada tahun 2003, rumah tangga tani di Indonesia masih sebesar 31,17 juta rumah tangga tani, sedangkan pada 2013 berkurang menjadi 26,13 juta rumah tangga tani. Setiap tahunnya terjadi penurunan jumlah rumah tangga tani sebesar 1,75% atau 500 ribu rumah tangga tani per tahun.

Dari data tersebut, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan telah terjadi pergeseran mata pencarian dari pertanian ke non-pertanian. Hal ini sejalan dengan perkembangan struktur ekonomi Indonesia yang lebih mengarah pada sektor jasa, perdagangan, dan lain-lain. Namun perubahan atau pergeseran ini meninggalkan residu yang justru bisa mengancam ketahanan pangan kita.

“Dengan semakin berkurangnya rumah tangga pertanian, maka otomatis produksi pertanian dalam negeri dapat berkurang. Sebagai konsekuensinya, kita harus mengimpor kebutuhan pangan karena domestik kekurangan produksi pangan,” jelas Heri lewat pesan singkatnya kepada Neraca, Rabu (4/9).

Data perkembangan impor pangan, kata Heri, dalam beberapa tahun selalu menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ke depan harus ada regulasi atau kebijakan yang tepat dan tegas untuk mengurangi alih fungsi lahan dari lahan pertanian ke non-pertanian.

Kepala BPS Suryamin mengatakan bahwa pengurangan jumlah rumah tangga tani di Indonesia adalah sesuatu yang wajar. “Secara ilmu ekonomi, negara semakin maju bergeser dari sektor pertanian ke sektor lainnya. Jadi penurunan terjadi, tapi penurunan ini perlu dibuat produktivitasnya tinggi,” kata dia.

Lebih lanjut, Suryamin menjelaskan bahwa terjadi pergeseran komposisi rumah tangga pertanian dari Jawa ke luar Jawa. Pada Tahun 2003, jumlah rumah tangga taninya adalah 57,48% dari seluruh rumah tangga tani yang ada di Indonesia. Lantas angka tersebut berkurang menjadi 51,38% pada 2013.

Sebaliknya, di luar Jawa, jumlah rumah tangga tani bertambah dari 42,52% pada 2003 menjadi 48,62% pada 2013.

Suryamin menjelaskan, tren kenaikan rumah tangga tani ke luar Jawa adalah karena pembukaan lahan-lahan baru, terutama lahan perkebunan. “Karena tani di sini juga termasuk perkebunan,” kata Suryamin.

Kenaikan rumah tangga tani terbesar terjadi di Papua, dengan penambahan sebesar 158.100 usaha tani baru. Sedangkan penurunan terbesar adalah di Jawa Tengah dengan pengurangan rumah tangga tani sebanyak 1,47 juta usaha tani.

Selain rumah tangga tani yang menjadi kelompok terbesar dalam usaha tani, terdapat juga perusahaan pertanian berbadan hukum sebanyak 5.490 usaha dan usaha pertanian lainnya sebanyak 6.170 usaha. “Usaha pertanian lainnya ini yang dilakukan oleh asrama, pesantren, lembaga pemasyarakatan, sekolah-sekolah,” kata Suryamin.

Data lain yang juga sudah dilansir BPS dari hasil Sensus Pertanian 2013 adalah data jumlah sapi dan kerbau. Pada tahun 2011, jumlah sapi dan kerbau sebanyak 16,73 juta ekor dan pada 2013 menjadi 14,17 juta ekor. Dengan begitu, jumlah sapi dan kerbau turun sebanyak 15,30% atau 2,56 juta ekor.

“Dugaan dari hasil pengamatan BPS di lapangan, turunnya ini karena memang suplai impor berkurang, sementara kebutuhan masih tetap tinggi, sehingga sapi lokal banyak yang dijual. Kita banyak wawancara, banyak yang dijual dan dipotong,” jelas Suryamin. [iqbal]