Ramayana dan Gajah Tunggal Bakal Buyback Saham

NERACA

Jakarta – Rencana pembelian kembali saham (buyback) kembali bakal dilakukan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) yang telah menyiapkan dana mencapai Rp150 miliar dengan target harga tertinggi per saham senilai Rp900. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (4/9).

Disebutkan, perseroan akan melakukan buyback pada 5 September hingga 4 Desember mendatang. Diperkirakan setelah menggelontorkan dana hingga Rp150 miliar, kinerja keuangan perseroan tidak akan terpengaruh.

Menurut Direktur perseroan Suryanto, pihaknya akan melakukan penghentian buyback jika harga sahamnya kembali berada diatas level 900. Dia juga memprediksi dampak pembelian kembali saham atas biaya pembiayaan perseroan akan sangat kecil.

Rencananya, perseroan akan melaksanakan buyback melalui BEI, sehingga transaksi pembelian saham perseroan akan dilakukan melalui salah satu anggota bursa efek,”Secara makro pembelian kembali saham perseroan diharapkan dapat mengurangi dampak pasar yang saat ini sedang berfluktuasi secara signifikan. Sedangkan dampak langsung pembelian kembali saham pada Perseroan adalah membaiknya harga saham Perseroan di pasar bursa”, jelas dia.

Sehingga diharapkan perbaikan harga saham perseroan di pasar bursa memberikan keuntungan bagi semua stakeholder, dan perseroan akan menjual kembali saham yang dibeli tersebut setelah kondisi pasar membaik dengan harga terbaik atau pun untuk tujuan lain sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

Hal yang sama juga akan dilakukan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang juga telah menyiapkan dana untuk buyback sahamnya sebesar Rp349,3 miliar atau maksimal 5% dari saham yang telah dikeluarkan atau jumlah saham maksimal 174.240.000 lembar saham.

Disebutkan, perseroan menargetkan harga pembelian per saham maksimal Rp2.000. Pembelian akan dilakukan selama tiga bulan, sejak 5 September hingga 4 Desember 2013 dengan pembelian langsung di pasar saham. Perseroan memperkirakan dengan rencana buyback saham tersebut dalam jangka pendek akan mempengaruhi laba bersih perseroan tahun 2013 yang turun kurang lebih Rp6,5 miliar hal ini disebabkan perseroan kehilangan kesempatan untuk menempatkan dana di deposito perbankan.

Meskipun begitu, perseroan yakin untuk jangka panjang dengan membaiknya iklim pasar modal, dengan menambah dukungan kinerja perseroan secara operasional akan menghaislkan capital gain yang dapat menutupi kerugian karena menurunnya laba bersih tersebut.

Sebelumnya, Otoritas JAsa Keuangan (OJK) mengeluarkan surat edaran mengenai pembelian kembali saham untuk menyelamatkan saham emiten. Terdapat 5 syarat yang berkaitan dengan pasal 1 angka 1 huruf B peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 yaitu Dalam 3 bulan terakhir, kondisi perdagangan saham di BEI mengalami tekanan yang tercermin dari adanya penurunan signifikan dalam IHSG. (nurul)

BERITA TERKAIT

MNC Investama Bakal Konversi Saham Ke Kreditur - Perkuat Kondisi Keuangan

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang guna menciptkan kinerja keuangan yang sehat, PT MNC Investama Tbk (BHIT) berencana melakukan restrukturisasi…

Sejahteraraya Bakal Cari Pinjaman Bank - Danai Akuisisi Rumah Sakit

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnis, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) bakal mencari pendanaan lewat pinjaman perbankan. Dalam siaran…

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…