Industri Alat Berat Mulai Tertekan Depresiasi Rupiah

Realisasi Penjualan di Bawah Target

Kamis, 05/09/2013

NERACA

Jakarta - Pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tak hanya mempengaruhi pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Produsen alat berat menjadi salah satu industri yang terimbas dari kondisi ini. PT Kobexindo Tractor Tbk, salah satu perusahaan pemasok alat-alat berat yang mengakui penjualannya turun seiring pelemahan (depresiasi) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Direktur utama PT Kobexindo Tractor Tbk, Humas Saputro, mengaku jika kinerja perusahaannya pada semester 1 tahun 2013 ini di luar target. Awalnya perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan mencapai 30% di semester I 2013. Namun realisasi penjualan ternyata hanya sebesar 25%.

"Tahun ini dari Januari hingga Juli naiknya 25%, sebenarnya target kami 30%. Kalau saya melihat terakhir ini gejolak rupiah yang sedemikian besar akan menjadi pelemahan (penjualan) juga," ujar dia di Jakarta, Rabu (4/9).

Sampai akhir tahun penjualan perusahaan diprediksi melemah bahkan bisa mencapai di bawah 25% jika dibandingkan dengan semester I. "Ya dari Januari sampai Desember yang awalnya kita target pertumbuhan tahunan 30% kita adjust jadi 20%,"jelasnya.

Humas mengakui, selama ini penjualan alat berat perusahaan selalu memakai mata uang dolar AS per unit, pelemahan nilai rupiah tidak terlalu berpengaruh. Hal itu akan menjadi berpengaruh jika pembelian dilakukan dengan mata uang rupiah.

PT Kobexindo Tractor memiliki pangsa pasar setidaknya 30% pengadaan alat berat untuk pembangunan proyek jalan raya yang mayoritas berada di Pulau Jawa. Menyiasati pelemahan penjualan ini,PT Kobexindo Tractor akan lebih mengutamakan pelayanan purna jual dan penjualan spare part.

"Strategi lain secara khusus sekali tidak ada, hanya saja dengan situasi seperti ini cara pembiayaananya yang bagaimana, kalau pameran begini kita juga berikan bonus-bonus tertentu,"kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Humas juga mengungkapkan kalau saat ini Kobexindo meluncurkan produk barunya, yakni Excavator Dossan DX700 dan Tractor Dressta TD-25M.

"Kami memperkenalkan produk baru Doosan Excavator DX700 yang merupakan excavator kelas 70 ton atau satu kelas lebih besar dari S-500 class dan produk ini akan melengkapi jajaran alat berat yang kami tawarkan untuk segmen pertambangan dan cement industri. Hal ini merupakan kelanjutan setelah sukses memasarkan excavator segmen pertambangan kelas 30-50 ton dan menjadi market leader," tambahnya.

Produk Doosan DX700 merupakan produk unggulan asal Korea yang masuk di kelas 70-80 ton. Excavator ini memiliki kapasitas bucket 5,2 meter kubik dan diperkuat dengan mesin diesel common reel berkekuatan 463 HP dalam putaran torsi 1800 rpm dan dilengkapi dengan hidrolik e-EPOS sehingga produktifitas dan durabililitas operasional operator tambang.

"Sepanjang 2012, perseroan kami telah membukukan angka penjualan sebesar US$131,77 juta dengan kontribusi 86,6 atau US$114,11 juta bersumber dari penjualan unit alat berat dan industri. Sampai saat ini kami masih belum bisa mengungkapkan berapa besar pendapatan kami saat ini dan target penjualan sampai 2013 karena masih dalam tahap proses penjualan itu sendiri," tukasnya.

Biaya Produksi

Sementara itu, Pratjodjo Dewo, Ketua Umum Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) menghitung, biaya produksi di industri alat berat bisa naik 5% dikuartal I 2013 dibanding periode yang sama tahun lalu. Penyebabnya tak lain kenaikan tarif listrik dan upah pekerja awal tahun ini.

Dia merinci, bagi industri perakitan alat berat, biaya listrik memberi porsi kenaikan 2% terhadap biaya produksi. Sementara upah buruh bisa mendongkrak biaya produksi hingga 4%. Sedangkan di industri komponen alat berat, kontribusi dua unsur ini lebih besar lagi. Yakni 3% untuk kenaikan listrik dan 8% bagi upah pekerja. "Jadi secara umum kenaikan biaya produksi bisa 5%," katanya kemarin.

Ini masih belum ditambah dengan kenaikan bahan baku baja di pasar global yang sudah mencapai 15% dibanding harga tahun lalu. Asal tahu saja, industri alat berat rata-rata membutuhkan sekitar 150.000 ton baja per tahun.

Imbasnya, biaya produksi alat berat akan bertambah lagi menjadi 5%. Namun, menurut Pratjodjo, imbas ini diperkirakan baru mulai terjadi dikuartal kedua nanti. Artinya, beban biaya produksi pebisnis alat berat di kuartal kedua nanti akan bertambah menjadi 10%. "Jadi dengan kenaikkan harga baja biaya produksi secara umum bisa naik lagi jadi 10%," timpalnya.

Sejatinya, bila biaya produksi membengkak, maka kenaikan harga menjadi pilihan yang rasional. Namun, tampaknya, pebisnis alat berat tidak akan mengambil opsi ini.Tren pelemahan permintaan alat berat sejak tahun lalu membuat persaingan di industri alat berat makin ketat sehingga aspek harga akan sangat berpengaruh.

Maklum, selain bersaing dengan pebisnis alat berat domestik, mereka juga harus bersaing dengan alat berat impor yang banyak menyasar pasar Indonesia. Misalnya dengan alat berat asal China yang berbanderol lebih miring ketimbang alat berat rakitan domestik. Murahnya alat berat asal China disebabnya pasokan yang berlebih di negara itu.Namun, pebisnis alat berat domestik tidak tinggal diam.