Internet Jadikan Desa Terpencil Tak Lagi Terkucil

Sabtu, 14/09/2013

Layanan internet telah membantu akses informasi masyarakat dan pemerataan pendidikan di daerah terpencil, terluar dan tertinggal.

NERACA

Selain kurangnya modal untuk mendirikan dan menyekolahkan anak-anak dari golongan pra sejahtera, masalah utama yang dihadapi pendidikan di seluruh dunia, khususnya Indonesia adalah akses kepada sumber informasi.

Betapa tidak, dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, akses informasi menjadi sulit didapat, khususnya desa-desa terpencil. Buktinya, faktanya sumber informasi seperti buku-buku dan jurnal harus dibeli dengan harga mahal.

Di tengah himpitan permasalahan pendidikan yang semakin terpuruk ini, internet muncul. Kemunculan dinilai membawa solusi yang memberikan sumbangsih dan kemajuan pendidikan Indonesia, pasalnya internet merupakan sarana pendidikan untuk menambah wawasan.

Ya, pada masa sekarang perkembangan internet terhadap IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sudah berkembang pesat. Dengan semakin memasyakatnya internet maka bisa menjadi peluang pembelajaran di luar pendidikan formal. Pusat Pelayanan Internet Kecamatan (PLIK) sebagai salah satu program pemerintah yang dipegang oleh Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) adalah salah satunya.

Program ini ditujukan guna mempercepatan peningkatan keterjangkauan pemerataan pendidikan via layanan internet di desa terpencil dan untuk mendorong perubahan pada daerah setempat, mencerdaskan warga dan kesejahteraan masyarakat.

Selain memberikan dampak signifikan seperti dalam hal perputaran roda perekonomian di sektor perniagaan lain dapat tercipta melalui optimalisasi pemanfaatan PLIK sebagai Payment Point berbasis Online bahkan dapat diarahkan pemanfaatannya sebagai micro finance, PLIK juga bermanfaat sebagai penunjang membantu di bidang pendidikan.

Contohnya ketika mendapat tugas dari guru di sekolah mereka menjadi mudah untuk mencari jawaban atau bahan untuk penyelesaian tugas tersebut, bahkan ada juga beberapa mahasiswa atau pun guru yang mencari info mengenai nilai kuliah mereka yang di umumkan melalui situs Universitasnya, juga ada beberapa karyawan dari sebuah badan usaha yang mengirim laporannya melalui email.

Perangkat PLIK yang diterima oleh penanggung jawab PLIK di kecamatan terdiri dari 5 unit PC, 1 unit server, 1 unit printer multi function, 1 unit UPS, 1 unit manageable switch, 1 set rack berikut horizontal cabling (LAN), dan 1 unit genset untuk daerah di mana listrik dari PLN operasinya masih terbatas.

PLIK dan Mobile PLIK (M-PLIK) merupakan bagian dari empat program Desa Pinter (Desa Punya Internet) yang dilakukan oleh Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI). Desa Pinter dimaksudkan untuk menghilangkan kesenjangan informasi dan pendidikan di Tanah Air.

"Dengan komputer yang dilengkapi akses internet, masyarakat dapat mengakses informasi apapun termasuk dunia pendidikan dan pengetahuan lainnya," kata Wakil Ketua Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikadi Nasional (Detiknas) Kemenkominfo, Prof Zainal A Hasibuan saat temu media bertajuk "Peran PLIK dan MPLIK dalam Meretas Belenggu Teknologi Informasi".

Gaya Internet Sehat

Melalui media ini pemerintah ingin menerapkan gaya internet sehat dan aman tanpa pornografi dan pornoaksi. Dengan Operating System Linux Fedora di setiap PC Cliennya, diharapkan masyarakat Indonesia mulai meninggalkan budaya pembajakan.

Hingga kini, PLIK yang pertama kali di anggarkan oleh kemenkominfo pada awal tahun 2010 yang didirikan di 32 provinsi di Indonesia telah berjalan sukses. Target desa di kecamatan yang dilayani akses internet atau PLIK untuk seluruh Indonesia (kecuali DKI Jakarta) sebanyak 4.218 sudah terlaksana semuanya, dan sudah 70% berjalan lancar atau dimasukkan dalam kategori sukses.

"Dengan pencapaian yang sudah 70% ini, tetap harus didorong terus agar penggunaannya lebih optimal di masyarakat," kata Zainal Hasibuan

Namun, lanjut Zainal, yang dimaksudkan sukses itu bukan semuanya dengan tingkat kunjungan masyarakat yang tinggi dan rata-rata pemakaian di atas delapan jam sehari, yang penataan sarana prasarananya bagus dan tetap jalan operasionalnya juga dikategorikan sukses.

“Sementara yang dikategorikan gagal itu ada yang komputernya tidak terpasang, perangkatnya hilang karena dicuri maupun pengelolaan yang amburadul,\" ujar dia.

Oleh karena itu, ujar dia, ke depan tetap harus terus dilakukan pembenahan dari sisi sumber daya manusia (SDM), infrastruktur pendukung berupa listrik maupun akses jalan. Langkah yang bisa diambil diantaranya dengan melibatkan pemangku kepentingan dalam menetapkan arah strategi pengembangan, mengkonsolidasikan program yang bersifat lintas sektoral dan vertikal, melibatkan para akademisi dalam melakukan pendampingan, serta meningkatkan akses konektivitas.

"SDM pengelola hendaknya memiliki langkah inovatif supaya bisa mengembangkan PLIK dengan menjalin berbagai kemitraan sehingga masyarakat dapat tertarik mendatangani PLIK karena ini sesungguhnya bisnis untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa juga," ucap dia.