Media Sosial Jadi Alat Lebarkan Kegiatan CSR

Sabtu, 07/09/2013

Tanggung jawab merupakan bagian penting dari budaya yang tidak bisa dipisahkan, dimana setiap perbuatan yang didasari dengan tanggung jawab akan menghasilkan kebaikan. Tak pelak hal ini menjadi kewajiban setiap perusahaan yang ingin memberikan nilai tambah pada konsumen, partner, dan masyarakat di mana mereka beroperasi.

Untuk itu perusahaan dituntut memenuhi tanggung jawab sosial melalui produk, layanan dan program lainnya seperti Corporate Social Responsibility (CSR). Diharapkan dengan berbagi nilai-nilai yang tercerap dalam aksi CSR para pelaku bisnis pada waktu yang sama juga dapat menginspirasi masyarakat untuk melakukan kebaikan pada orang lain.

Terkait hal tersebut, Banyak aksi sosial yang muncul melalui sosial media di Indonesia. Namun, tak banyak dari mereka yang mampu mempertahankan aksinya secara berkelanjutan. Demi membangun aksi sosial yangsustainable, PT Merck Tbk yakin bahwa media sosial merupakan suatu alat potensial untuk mewujudkan hal tersebut.

Sebagai pionir CSR yang menggunakan media sosial, perusahaan farmasi, kimia, danlifesciecedari Jerman ini mempersembahkan program ‘Klik Hati Merck’ yang menjaring 25 aksi sosial dalam lima bidang, yakni kesehatan, pendidikan, sosial, lingkungan, dan budaya. Dari 25 finalis tersebut, juri Alissa Wahid dan Shafiq Pontoh menentukan lima aksi sosial terbaik yang berhak menerima dana dukungan dengan total Rp50 juta, yakni Istana Mengajar, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, Lagu anak Indonesia, dan Nebengers.

“Kami selalu berupaya untuk memenuhi tanggung jawab kami melalui produk, layanan dan program lainnya seperti CSR. Kami berharap bahwa melalui ‘Klik Hati Merck’, kami dapat berbagi nilai-nilai kami dan pada saat yang sama kami dapat menginspirasi masyarakat untuk terus melakukan kebaikan bagi orang lain,” kata Presiden Direktur PT Merck Tbk, Markus Bamberger.

Pada kegiatan Klik Hati Merck (KHM) 2013 yang telah berlangsung belum lama ini, Merck menambahkan unsur edukasi lewat workshop online dan offline agar para pegiat mengetahui cara membangun aksi sosial dan menjadikannya bertahan.

“KHM 2013 semakin menarik dengan adanya unsur edukasi. Harus dicatat bahwa memberi penghargaan pada aksi sosial memang penting tetapi memberikan edukasi lebih penting lagi karena memberi dasar kokoh agar aksi sosial yang dibangun dapat terus berlangsung dan berdampak,” ujar dia.

Bersamaan dengan pelatihan on line tersebut, KHM berkolaborasi dengan Akademi Berbagi juga menggelar work shop offline di 3 kota: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta yang terbuka untuk umum.

“Sebagai salah satu pionir CSR perusahaan yang memanfaatkan media sosial KHM 2013 patut didikung karena kegiatan ini secara serius melibatkan para pegiat sosial yang sudah sangat piawai dalam mensosialisasikan aksinya melalui media sosial, juga memberikan kesempatan bagi pegiat sosial lainnya untuk belajar dan membangun aktifitasnya memanfaatkan media sosial yang dipandu oleh ahlinya,” ujar Shafiq Pontoh.