Tingkatkan Nilai Saham, Wijaya Karya Bakal Buyback Saham

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta- PT Wijaya Karya Tbk akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan melalui PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Selain menengarai kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, pembelian kembali saham ini diharapkan dapat memberikan fleksibilitas untuk mencapai struktur permodalan. Informasi tersebut disampaikan Sekretaris Perusahaan, Natal Argawan dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (3/8).

Disebutkan, perseroan menunjuk Bahana Securities yang bertindak sebagai perusahaan perantara perdagangan efek. Periode pembelian kembali saham diperkirakan akan dilakukan pada 4 September 2013 sampai 4 Desember 2013. Pembelian kembali saham perseroan dapat memberikan fleksibilitas untuk mencapai struktur permodalan yang efisien dan memungkinkan perseroan untuk menurunkan keseluruhan biaya modal, meningkatkan Earning Per Share (“EPS”) serta Return of Equity (ROE) secara berkelnajutan.

Selain itu, juga dapat memberikan perseroan fleksibilitas yang lebih besar dalam rangka mengelola modal jangka panjang. Perseroan tidak akan melaksanakaan transaksi pembelian saham perseroan bila berdampak negatif secara material terhadap likuiditas dan permodalan perseroan.

Pihak manajemen mencatat, total ekuitas perseroan per 30 juni 2013 adalah sebesar 2,9 miliar. Oleh karenanya alokasi dana pembelian kembali saham perseroan berasal dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaaanya per 30 Juni 2013 yang tercatat Rp281,2 miliar, maka dari jumlah tersebut, dana yang akan digunakan untuk membiayai program pembelian kembali saham perseroan paling banyak sebesar Rp120 miliar dari modal disetor dalam perseroan.

Rencana perseroan atas buyback saham ini untuk dikuasai sebagai treasury stock jangka waktu tidak lebih dari 3 tahun. Perseroan sewaktu waktu dapat melakuan pengalihan atas saham yang dibeli kembali dengan cara dijual baik di bursa efek maupun di luar Bursa efek. Kedua, pelaksanaan Employee Stock Option Plan atau Employee Stock Purchase Plan. Selain itu saham juga dapat dijual kembali apabila harga saham telah meningkat.

Buyback saham yang dilakukan perseroan disebut sebut sebagaimana dalam peraturan OJK No.02/POJK.04/2013 tanggal 23 Agustus 2013 dan surat edaran OJK No.1/SEOJK.04/2013 tanggal 27 Agustus 2013. Pembelian kembali saham perseroan tersebut dilaksanakan melalui PT Bursa efek Indonesia (BEI) dalam waktu tiga bulan sejak keterbukaan informasi disampaikan.

Tiga BUMN

Sebelumnya, OJK menyebutkan, ada tiga emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengajukan buy back. Analis dari Trust Securities Reza Priyambada pernah bilang, aksi buy back saham oleh BUMN dinilai langkah yang tepat karena akan menjadi sentimen positif saat ini. Hanya saja, cara ini harus dilakukan secara bertahap guna mempertahankan pergerakan IHSG agar tetap naik, “Buy back saham oleh BUMN langkah tepat untuk menopang indeks BEI, “ujarnya.

Menurutnya, jika semua emiten BUMN tidak bisa melakukan buy back cukup emiten BUMN yang memiliki market cap besar lakukan buyback. Sebut saja, Telkom yang market cap hingga Juli mencapai Rp240 triliun dengan saham publik yang beredar mencapai 20,16 miliar saham, “Dengan market cap sebanyak itu, sekitar 16-20% sahamnya yang di buyback akan membantu IHSG bergerak naik. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp40triliun,”ungkapnya.

Dirinya menyakini, jika semua emiten BUMN lakukan buyback akan sangat membantu. Namun jika tidak, beberapa saham BUMN yang dinilai cukup baik untuk membantu IHSG adalah Telkom, Mandiri, PGAS dan BNI. Kata Reza, pelemahan saham yang terjadi biasanya memang menunjukan kinerja emiten yang kurang baik, namun untuk saat ini pelemahan saham diakibatkan banyaknya sentimen negatif di pasar bursa.

Oleh karena itu, guna mendongkrak indeks BEI saat ini dengan cara BUMN lakukan buyback. Hal ini dirasakan sangat membantu, namun tergantung pada nilai rupiah dan jumlah saham yang dibeli oleh emiten, “Tidak hanya kinerja dan laporan keuangan saja yang mencerminkan suatu emiten bagus dan membuat investor tertarik, melainkan pergerakan sahamnya,”paparnya.

Kapitalisasi Besar

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Hutomo, tidak perlu seluruh BUMN melakukan buy back. Cukup BUMN yang punya kapital besar saja yang ikut melakukan buy back. “Cukup misalkan Telkom, BRI, BNI, Semen Gresik. Dengan saham-saham itu saja naik, IHSG bisa terjaga, bisa tinggi dan bisa buat orang untuk tidak terpancing buang saham yang lain,” kata Satrio.

Namun begitu, lanjut Satrio, BUMN yang akan melakukan buy back perlu juga untuk melihat keuangan internalnya. Menurunnya IHSG ini bisa juga menjadi indikator bahwa iklim ekonomi di Indonesia ini memburuk. Jangan sampai nanti BUMN melakukan buy back besar-besaran lalu ketika ekonomi Indonesia lesu lantas tidak mempunyai uang yang cukup untuk menjaga perusahaannya tetap baik, “Kalau kondisi perekonomian benar-benar memburuk untuk jangka panjang, berarti perusahaan memburuk, itu butuh cash juga. BUMN tidak bisa cemplungkan dirinya semuanya. Apalagi, cash perusahaan BUMN terbatas. Dan tidak masuk akalkalau utang untuk beli sahamnya sendiri,”paparnya.

Tercatat, kondisi perdagangan saham di BEI dalam tiga bulan terakhir mengalami tekanan yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI mengalami penurunan cukup signifikan. Sejak 20 Mei sampai 27 Agustus 2013, IHSG turun sebesar 1.247,134 poin atau 23,91%. Selain itu, kondisi perekonomian masih mengalami tekanan baik regional maupun nasional. (lia)