Holcim Tetap Bagikan Dividen Rp 70 Miliar

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta – PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), emiten yang memproduksi semen ini mencatatkan laba bersih turun 7% akibat meningkatnya biaya distribusi. Meskipun demikian, perseroan tetap membagikan dividen Rp70 miliar yang diambil dari laba tahun 2012.

Diketahui laba bersih perseroan pada semester pertama tahun ini menjadi Rp467 miliar, dari semester pertama tahun lalu yang mencapai Rp505 miliar. Dividen yang dibagikan Rp37 per lembar saham atau 15% dari laba tahun lalu, “Kinerja perusahaan untuk semester pertama tahun 2013 mengalami peningkatan dalam marjin laba kotor dari 33% menjadi 35% sebagai hasil dari program dari efisiensi energi yang dijalankan perusahaan. Memang laba turun, namun pendapatan di semester pertama tahun 2013 ini naik 7% menjadi Rp 4,48 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,191 triliun,”kata Manager Komunikasi SMCB, Diah Sasanawati di Bogor (3/9).

Selain itu, dia juga menjelaskan, penyebab penurunan laba bersih selain peningkatan biaya distribusi juga akibat dari peningkatan biaya penjualan dan administrasi serta biaya keuangan. Selain itu, banyaknya pemain baru yang membuat persaingan di industri semen semakin banyak. Kendatipun demikian, pembagian dividen secara pasti, menggambarkan bahwa perseroan terus memberikan keuntungan kepada para pemegang sahamnya.

Diakui dia, persaingan dalam industri semen terjadi setelah adanya produsen baru dari Cina, Taiwan. Selain itu, jika membandingkan kondisi tahun ini dan tahun 2012 lalu, menurut dia pada tahun lalu permintaan cukup tinggi dibandingkan tahun ini. “Mengenai kenaikan pendapatan ini disebabkan dari optimalisasi produk dan bauran distribusi untuk menjawab tantangan pasar yang bertambah pasokannya dari pertambahan kapasitas dan impor. Selain itu ada perbaikan dalam proses kerja dan inisiatif penghematan energi bersamaan dengan pemakaian batubara kalori rendah turut memberikan dampak yang positif”, jelasnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Holcim mencapai Rp4,482 triliun atau lebih tinggi dibanding tahun lalu yaitu Rp4,191 triliun. Menurut Presiden Direktur Holcim, Eamon Ginley yang menyatakan bahwa secara umum kinerja Holcim sedang meningkat hanya saja memang biaya distribusi dan lainnya meningkat juga.

Saat ini kondisi pasokan pasar yang dimiliki perseroan berlebih. Namun dia memperkirakan kondisi ini bersifat sementara. Permintaan semen terus tumbuh secara konsisten dalam jangka menengah dan jangka panjang, karena ekonomi Indonesia terus berkembang. “Hal ini ditopang dengan keberadaan investasi pemerintah dan sektor swasta di bidang infrastruktur dan perumahan yang dibutuhkan juga terus berlanjut. Karena itu, proyek pengembangan pabrik baru Holcim di Tuban, Jawa Timur, akan memberikan keuntungan pada perusahaan”, ujar dia.

Dia memperkirakan biaya distribusi untuk pasar utama di Jawa Timur menjadi lebih efisien, dan akan menjamin kelancaran pasokan dan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan. Sementara itu, pabrik semen Tuban 1 akan memproduksi 1,7 juta ton semen per tahun dan penggilingan semen akan beroperasi pada Agustus ini. (nurul)