BBM Masih Dominasi Konsumsi Energi Nasional

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta – Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap menjadi bahan bakar dominan untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia. Sekitar 45% dari total konsumsi Indonesia, minyak masih menjadi andalan Indonesia. Statical Review of World Energy 2013 yang dirilis BP Indonesia, konsumsi energi di Indonesia hampir tidak berubah naik 0,2% pada 2012, tumbuh secara signifikan di bawah rata-rata pertumbuhan dalam satu dekade.

Hal ini disebabkan melambatnya laju ekonomi sehingga konsumsi energi primer mencapai 48% lebih tinggi dari satu dekade lalu. Sedangkan batu bara 32% telah lebih menguatkan posisinya sebagai bahan bakar terbesar kedua melampaui gas alam pada tahun 2006. "Sementara gas saat ini turun menjadi 20% sedangkan bahan fosil 3% di urutan terakhir," kata BP Group Chief Executive Bob Dudley, di Jakarta, Selasa (3/9).

Dari sisi volume, pemintaan pasar meningkat terutama pada batu bara sekitar 1,5 juta ton setara minyak (mtoe) dan minyak 0,5% mtoe, diikuti oleh biofuel 0,1% mtoe, hidro 0,1% dan energi terbarukan 0,1%. Sedangkan konsumsi gas mengalami penurunan 1,3 mtoe.

Selama beberapa dekade trakhir, permintaan batu bara meningkat 180%, energi daur ulang sebesar 56%, hidro sebesar 28%, minyak pada kisaran 27% dan gas meningkat 9%. Sedangkan Emisi CO2 dari penggunaan energi meningkat sebesar 0,6% lebih rendah dari rata-rata satu dekade lalu tetapi lebih dari total konsumsi energi, hal ini mencerminkan perubahan dalam pembaruan energi Indonesia.

"Kenaikan ini adalah hasil dari meningkatnya pangsa batubara dan penurunan pangsa gas pada pembangkit listrik, didukung oleh peningkatan kecil dalam energi terbarukan dan tenaga air," terangnya.

Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy 2013 yang diluncurkan Selasa 3 September 2013, pada 2012 telah terjadi peningkatan terbesar dalam produksi minyak AS. Selain itu, ada bukti baru dari fleksibilitas sistem energi dunia dalam memenuhi perubahan global yang sangat cepat.

Selama tahun lalu, konsumsi energi primer dunia tumbuh 1,8%. Namun, pertumbuhan itu jauh di bawah rata-rata 10 tahunan sebesar 2,6%. "Amerika Serikat tercatat tumbuh tertinggi dalam produksi minyak dan gas alam di dunia tahun lalu," kata Bob.

Menurut Dudley, kenaikan produksi migas itu di atas hidrokarbon non-konvensional seperti tight oil. Kondisi ini merupakan contoh dari semakin beragamnya sumber-sumber energi di saat pasar global terus beradaptasi, berinovasi, dan berevolusi.

Dengan meningkatnya produksi gas alam yang menekan harga lebih rendah di AS, produk itu telah menggantikan batu bara sebagai pembangkit listrik. Situasi ini menyebabkan AS mengalami penurunan konsumsi batu bara terbesar di dunia."Bagi kami di industri energi, tantangannya adalah bagaimana menanggapi perubahan besar, terkait pergeseran permintaan dari negara-negara berkembang," tuturnya.

Dia menjelaskan, saat ini banyak energi yang tersedia. Tantangannya sebagai pelaku industri adalah membuat pilihan terbaik untuk berinvestasi."Kami ingin menyediakan energi dengan cara aman dan kompetitif serta memanfaatkan kekuatan untuk mengurangi risiko dan mengelola biaya," kata dia.

Selama 2012, penurunan pertumbuhan konsumsi energi global sebagian merupakan akibat dari perlambatan ekonomi, dan tingginya harga, sehingga masyarakat lebih efisien dalam penggunaan energi.

Selama dua tahun berturut-turut, gangguan pasokan minyak di Afrika dan Timur Tengah diimbangi oleh pertumbuhan di antara produsen Timur Tengah lainnya. Produksi minyak sempat mencapai rekor di Arab Saudi, UEA, dan Qatar."Meskipun adanya peningkatan pasokan ini, harga minyak rata-rata kembali mencetak rekor tertinggi," ujarnya.