Produksi Batubara Dunia Meningkat 2,5%

Dalam 10 Tahun Terakhir

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta – Batubara adalah salah satu bahan bakar fosil yang berkembang cukup pesat. Tak ayal, British Petroleum (BP) Statistical Review of World Energy 2013 yang dirilis perusahaan migas asal Inggris melaporkan, produksi batu bara dunia 2013 meningkat 2,5% dibandingkan 10 tahun terakhir.

BP Chief Economist, Christof Ruhlf menyebutkan, data BP statistical review, batu bara merupakan bahan bakar fosil dengan perkembangan pesat. Saat ini, negara-negara Eropa mulai melirik penggunaan batu bara dengan alasan harga gas untuk pembangkit listrik lebih mahal. "Tahun lalu merupakan tahun adaptasi untuk mengubah lansekap energi. Sekarang mereka berlomba untuk menemukan (sumber daya) baru," katanya di Jakarta, Selasa (3/9).

Meski batu bara menjadi permaisuri, namun minyak masih menjadi energi utama di dunia. Data BP konsumsi global minyak bumi masih sekitar 33,1%, kemudian untuk penggunaan energi baru dan terbarukan tahun ini meningkat 15,2% dibanding tahun sebelumnya.

Sementara, pembangkit berasal dari air, tenaga surya, serta gas alam murah dari Amerika Serikat (AS) menyumbang 4,7% kebutuhan listrik dunia. Namun, BP mencatat, AS mengurangi kebutuhan batu bara hingga 7,5% digantikan China dengan pertumbuhan batu bara 3,5 persen dan di Indonesia sekitar 9%.

Selain itu, data BP juga mencatat AS mengurangi kebutuhan batu bara karena pertumbuhan produksi migasnya masih signifikan di tengah lemahnya perekonomian global. Pada 2012, AS menduduki peringkat tertinggi terkait pertumbuhan produksi disektor migas. Bahkan AS mengalami peningkatan produksi hidrokarbon non-konvensional seperti 'tight oil'. "Dengan meningkatnya produksi gas bumi di AS, maka AS mengganti penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik," kata Ruhl.

Menurutnya, peningkatan penggunaan gas bumi di AS secara otomatis menurunkan konsumsi batu bara dunia. Hal tersebut menjadi bukti telah terjadi adaptasi, inovasi, dan evolusi penggunaan sumber-sumber energi selain minyak di dunia. Disisi lain, semenjak terjadinya kecelakaan di reaktor fukushima di Jepang juga telah terjadi pergeseran penggunaan sumber energi dari nuklir ke gas bumi. "Saat ini saja Jepang mengimpor gas dari AS," katanya.

Di Indonesia, laporan itu juga menyebutkan produksi batu bara Indonsia naik sebesar 273% dalam sepuluh tahun terakhir. Sementara, saat ini Indonesia menghasilkan 6,2% dari total produksi global. Artinya, Indonesia menduduki negara tertinggi ketiga di dunia sebagai penghasil batu bara.

Ruhlf mengatakan, batu bara berkontribusi sekitar 67% dari total produksi energi di Indonesia. Kemudian, disusul gas sebesar 18% dan minyak sebesar 13%. "Ketiganya memiliki pangsa 32-33% produksi energi dalam 10 tahun terakhir," katanya.

Hal itu sangat bertolak belakang dengan keadaan minyak di Indonesia. Dalam hal ini, produksinya justru merosot 30 persen dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, produksi gas juga turun dua tahun berturut-turut kembali setara dengan level produksi pada 2008. "Pada 2012 menunjukan penurunan produksi terbesar kedua dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Tapi minyak tetap menjadi bahan bakar dominan kontribusi sekitar 45% dari total konsumsi energi Indonesia disusul batu bara di posisi kedua dan gas," jelasnya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia (APBI), Bob Kamandanu mengatakan, tingginya produksi batu bara di Indonesia harus dibarengi dengan kampanye energi bersih yang makin marak di dunia. Pemerintah Amerika Serikat beberapa waktu lalu menyerukan agar energi batu bara harus rendah emisi. "China juga menyerukan hal yang sama. Termasuk berencana melarang impor batu bara kalori rendah yang menghasilkan emisi tinggi," katanya.

Bob mengatakan, batu bara banyak dituding sebagai salah satu sumber emisi dunia, sehingga harus ditanggapi serius oleh pemerintah dan pelaku usaha batu bara agar berperan mengurangi emisi yang semakin menguat. "AS mengurangi konsusmi batu bara. Bahakan rencananya melarang perbankan tidak ikut membantu pendanaan pembangkit listrik batu bara yang tentu akan berpengaruh terhadap bisnis batu bara," pungkas dia.

Kurangi Ekspor

Dewan Energi Nasional (DEN). Anggota DEN Herman Darnel Ibrahim meminta pemerintah mengurangi ekspor gas dan batubara. “Pemerintah mesti merubah orientasi dari sebelumnya gas dan batubara sebagai penghasil devisa negara menjadi modal pembangunan nasional,” seru Herman.

Dia bahkan menyarankan agar pengurangan ekspor ini dilakukan secara bertahap agar tidak terkena tuntutan dari negara tujuan. “Soalnya kebijakan ekspor gas dan batubara secara masif akan mengancam ketahanan energi nasional,” tuturnya.

Sementara pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri mengakui ancaman ketahanan energi dari besarnya angka ekpor batubara ini. Karenanya, akan dibuat beleid pembatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di lokasi mulut tambang bagi yang mengajukan izin Usaha Pertambangan (IUP) batu bara.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Thamrin Sihite menegaskan, hal tersebut sebagai langkah nyata dalam menekan jumlah ekspor batubara. "Kami akan buat payung hukum untuk hal itu di mana ketentuan ini dapat menekan ekspor batu bara. Kami juga akan menyediakan insentif dalam kebijakan ini," pungkasnya.