Omzet UMKM Perikanan Tembus Rp 650 M/Tahun

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya menumbuh-kembangkan wirausahawan di bidang kelautan dan perikanan khususnya pemasaran dan pengolahan hasil perikanan melalui beberapa kebijakan dan regulasi yang berpihak pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Penumbuh-kembangan wirausaha tersebut diharapkan dapat mendorong upaya penambahan jumlah wirausaha di Indonesia yang saat ini baru mencapai 0,18% dari jumlah penduduk.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, saat membuka acara Gelar Produk POKLAHSAR dan Workshop Kewirausahaan Pengolahan dan Pemasaran di Surabaya, seperti tertuang dalam keterangan pers KKP yang dikutip, Selasa (3/9).

Sjarief menjelaskan, untuk mendorong bertumbuh - kembangnya wirausahawan di bidang kelautan dan perikanan, KKP menetapkan program Pemberdayaan Usaha Mina Pedesaan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (PUMP-P2HP) yang telah berjalan sejak tahun 2011.

“PUMP-P2HP merupakan fasilitas bantuan pengembangan usaha bagi pengolah dan pemasar hasil perikanan dalam wadah Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR) sebagai kelembagaan pelaksana PUMP-P2HP. Secara keseluruhan PUMP-P2HP telah memfasilitasi bantuan kepada 3.408 POKLAHSAR yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia," ungkapnya.

PUMP-P2HP merupakan upaya KKP dalam menumbuhkan wirausaha-wirausaha pemula skala mikro kecil di bidang pengolahan dan pemasaran. Saat ini jumlah wirausaha mikro kecil di bidang pengolahan dan pemasaran berjumlah 63.000 wirausahawan dengan total omzet sekitar Rp 650 miliar pertahun.

Kontribusi terbesar berasal dari komoditas berbasis bahan baku ikan laut dan rumput laut yaitu sekitar 80%. "Jumlah tersebut diharapkan dapat terus meningkat sehingga dapat memenuhi sekitar 20% target nasional atau 2-3% dari jumlah penduduk," tambahnya.

Upaya penumbuh-kembangan melalui PUMP-P2HP tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan rasio jumlah penduduk terampil yang saat ini baru 4/1000 penduduk serta meningkatkan indeks pengembangan SDM (HDI), produktifitas dan tingkat daya saing bangsa. Cakupan sasaran PUMP P2HP saat ini diperluas dengan melibatkan masyarakat dan pihak-pihak lain dalam proses pembangunan yang diarahkan pada pengembangan kluster 4 diantaranya adalah upaya Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN).

Implikasi dari perluasan kluster tersebut, saat ini tengah dikembangkan penambahan menu usaha PUMP-P2HP dari 8 (delapan) menu pengolahan bernilai tambah (value added), menjadi 14 (empat belas) menu dengan memasukkan jenis-jenis pengolahan tradisional, pemasaran ikan hias dan pengolahan produk non konsumsi, seperti Abon Ikan, Nugget Ikan, Kaki Naga/Ekado/Siomay, Sosis Ikan, Dodol/Selai/Permen/Manisan Rumput Laut, Bandeng Tanpa Duri/Bandeng Presto, Ikan Pindang, Ikan Kering/Asin, Ikan Panggang/Asap, Kerajinan Kulit Kerang/Hasil Sampingan Perikanan Lainnya, Fermentasi Hasil Perikanan dan Usaha Pemasaran.

POKLAHSAR saat ini telah cukup berkembang dengan ragam produk yg inovatif, pengemasan yang baik dan menarik serta branding. Dalam prakteknya POKLAHSAR juga mampu mendukung pengarusutamaan gender mengingat keanggotaannya melibatkan wanita. Gelar Produk POKLAHSAR dan Workshop Kewirausahaan Pengolahan dan Pemasaran diselenggarakan sebagai forum untuk mempertemukan POKLAHSAR dengan para pemangku kepentingan lainnya yang memiliki kompetensi pengembangan usaha mikro kecil untuk membuka wawasan dan memberikan informasi tentang kondisi serta produk saat ini.

"Keberlanjutan usaha POKLAHSAR menjadi wirausaha mandiri menjadi sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional dan pembangunan bangsa," tuturnya.

Masih terkait dengan kewirausahaan di sektor perikanan, sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perikanan dan Kelautan Yugi Prayanto dalam keterangan resmi mengatakan, motivasi untuk memulai usaha harus terus ditumbuhkan, terutama untuk kalangan pelajar, mahasiswa ataupun masyarakat yang memiliki minat untuk berkembang di sektor perikanan.

"Kalau motivasinya sudah bagus, tinggal bagaimana para pelajar atau mahasiswa itu bisa memulai usahanya dengan cermat. Kalau untuk masalah pengetahuan dan skill terkait perikanan mungkin mereka sudah memilikinya. Hanya saja, hal itu tidak cukup jika jiwa bisnisnya belum ada," ungkap Yugi.

Menurut dia, para mahasiswa bisa belajar lebih jauh dengan melakukan magang intensif di industri-industri perikanan atau bahkan dimulai dari tempat-tempat pengolahan ikan sehingga bisa lebih memahami kondisi riil bisnisnya seperti apa.