APPI: NPL Juni Masih Stabil

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta - Keterpurukan ekonomi Indonesia saat ini berimbas kepada perusahaan pembiayaan, terutama terkait masalah kredit macet atau non performing loan (NPL) yang mencapai 1,3% - 1,4%. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. “Pada Juni 2013 angka tersebut memang terbilang stabil dibanding Desember 2012 yang mencapai 1,6%,” ujar Suwandi di Jakarta, Selasa (3/9).

Suwandi juga menjelaskan, dengan keadaan seperti sekarang, pihaknya atau perusahaan pembiayaan juga memiliki kekhawatiran yang cukup tnggi. “Namun dengan berkurangnya angka kredit macet di perusahaan pembiayaan, diharapkan masih cukup stabil kami akan tetap optimis,” imbuh dia.

Selain angka kredit macet yang tumbuh stabil, optimisnya perusahaan pembiayaan juga didukung oleh pertumbuhan aset yang naik walaupun tipis yakni sebesar Rp315 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp310 triliun. “Sebenarnya, faktor kenaikan harga BBM bersubsidi, tentunya juga perlu diawasi, walaupun beberapa perusahaan memiliki strategi jitu untuk kedepannya,” kata Suwandi.

Suwandi mengatakan, beberapa praktisi memang memperkirakan kondisi tersebut tidak akan begitu berpengaruh terhadap perusahaan pembiayaan. Menurut dia, selama ini pembiayaan terhadap kendaraan roda dua dan roda empat masih tergolong stabil, walaupun alat berat mengalami tekanan yang cukup besar. “Di setiap kesulitam, pasti ada kemudahan sehingga para pelaku bisnis dapat memanfaatkan kondisi yang serba sulit dengan melakukan efisien dan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya,” ungkap dia.

Perusahan harus jeli melihat pasar, Suwandi menjelaskan upaya yang harus dilakukan perusahaan pembiayaan harus mencari pasar lain, jika disitu turun maka harus mencari pasar lain untuk menjaga laju pertumbuhan.

Diharapkan atas kejadian ini, semua pelaku usaha dapat membuat skema baru untuk jenis kredit yang ditawarkan dan merancang sebuah ekspansi yang dapat direalisasikan jika kondisi perekonomian dalam negeri telah kembali membaik.

Selaini tu, APPI juga menanggapi menurunnya permintaan sepeda motor di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi hal ini terjadi karena menurunnya penjualan karet di masing-masing wilayah. “Penurunan tersebut dipengaruhi oleh keadaan penjual karet seperti ruber dan CPO, jika harga karet dan CPO menurun ya mau tidak mau seiring dengan turunnya volume penjualan sepeda motor diwilayah masing masing,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Bidang Komersil Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala mengatakan pertumbuhan sepeda motor yang paling tinggi terjadi di pulau Jawa, lalu diikuti Papua, Bali dan Nusa Tenggara.

“AISI juga mencatatkan penjualan sepeda motor pada semester I 2013 ini mengalami peningkatan sebesaar 8,2% atau sebanyak 4,62 juta dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,27 juta,” kata Sigit.

Sedangkan untuk penetapan uang muka sebesar 20% untuk kredit sepeda motor dia mengatakan masih baik. “Kalau aturan dp 20% itu kan aturan tersendiri dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ya tidak bisa dirubah, kita sampai saat ini masih oke kok sudah satu tahun ya jangan dirubah lagi,” kata dia. [sylke]