IHSG Masih Dibayangi Aksi Ambil Untung

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa, kemarin berhasil ditutup menguat setelah awal pekan kemarin terkoreksi dipicu meningkatnya defisit perdagangan luar negeri Indonesia sebesar US$ 2 miliar. Kali ini, kembali maraknya aksi beli pelaku pasar berhasil membawa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 62,779 poin (1,53%) ke level 4.164,012. Sementara Indeks LQ45 ditutup melonjak 12,576 poin (1,85%) ke level 691,394.

Aksi beli investor domestik berhasil membawa indeks BEI menguat meski ditekan oleh melemahnya rupiah. Menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, saham sektor komoditas dalam beberapa hari terakhir bergerak menguat sebagai imbas dari menguatnya dolar AS sehingga menahan tekanan indeks BEI.

Selain itu, lanjut dia, kenaikan IHSG BEI juga mengikuti sentimen positif dari bursa regional Asia yang didorong oleh indeks manufaktur China dan Eropa yang menunjukkan keberlangsungan ekspansi manufaktur, “Manufaktur China bulan Agustus tumbuh di atas konsensus, sedangkan manufaktur Eropa juga tumbuh melebihi proyeksi," katanya di Jakarta, Selasa (3/9).

Meski demikian, menurut dia, IHSG BEI masih dibayangi oleh sentimen negatif dari defisit neraca perdagangan Indonesia yang cenderung dinilai kurang baik oleh beberapa pelaku pasar. "Untuk IHSG sendiri kami melihat masih akan bergerak mudah berubah (volatile) dalam beberapa hari mendatang,”ujarnya.

Reza memproyeksikan, IHSG Rabu akan bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan menguat terbatas dibayangi oleh potensi aksi ambil untung di kisaran 4.120--4.200 poin. Pada perdagangan kemarin, aksi beli didominasi investor domestik. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 139,57 miliar di seluruh saham.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 181.777 kali pada volume 5,453 miliar lembar saham senilai Rp 4,552 triliun. Sebanyak 195 saham naik, sisanya 81 saham turun, dan 64 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak menguat di zona hijau. Bursa saham Jepang melonjak tinggi setelah nilai tukar yen melemah terhadap dolar AS.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Unilever (UNVR) naik Rp 900 ke Rp 31.500, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 850 ke Rp 13.600, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 650 ke Rp 32.050, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 600 ke Rp 66.100.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 800 ke Rp 6.200, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 36.850, Warran Inovisi (INVS-W) turun Rp 200 ke Rp 500, dan Enseval Putra (EPMT) turun Rp 200 ke Rp 3.300.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup menguat 66,709 poin (1,63%) ke level 4.167,942. Sementara Indeks LQ45 melonjak 13,297 poin (1,96%) ke level 692,115. Investor asing masih melepas saham, namun nilai transaksi jualnya tidak sebesar perdagangan kemarin. Hanya satu dari sepuluh indeks sektoral yang melemah, yaitu sektor aneka industri.

Saham-saham komoditas, yaitu perkebunan dan tambang, memimpin penguatan kali ini. Indeks sektor perkebunan naik hingga tiga persen. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 111.309 kali pada volume 2,951 miliar lembar saham senilai Rp 2,298 triliun. Sebanyak 199 saham naik, sisanya 40 saham turun, dan 66 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia rata-rata masih menguat di zona hijau hingga siang. Bursa saham Singapura jatuh ke zona merah gara-gara aksi ambil untung. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 750 ke Rp 32.150, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 750 ke Rp 66.250, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 600 ke Rp 18.800, dan Unilever (UNVR) naik Rp 550 ke Rp 31.150.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 ke Rp 37.300, Surya Toto (TOTO) turun Rp 300 ke Rp 7.900, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 300 ke Rp 5.400, dan Mayora (MYOR) turun Rp 250 ke Rp 29.750.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 11,39 poin atau 0,28% ke posisi 4.112,63. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 3,13 poin (0,46%) ke level 681,95, “Adanya imbas positif dari bursa saham global mendorong indeks BEI berada dalam area positif," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Reza Priyambada menambahkan saham regional, termasuk Indeks BEI mengalami kenaikan merespon penguatan indeks manufaktur China dan neraca perdagangan Korea Selatan yang mana data-data itu mampu mengimbangi sentimen negatif karena ekspektasi invasi Amerika Serikat ke Suriah.

Dari dalam negeri, dia mengatakan penguatan indeks BEI juga didorong dari beberapa pelaku pasar saham domestik yang masih merespon positif data inflasi Indonesia pada bulan Agustus 2013 karena berada di bawah estimasi 1,2--1,3%.

Sementara itu,analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung menambahkan, bursa saham Asia dibuka menguat rata-rata satu persen didukung membaiknya data manufaktur di China. Namun, lanjut Benedictus Agung, dari dalam negeri neraca perdagangan Indonesia pada Juli tercatat defisit, jauh lebih buruk dari estimasi sebesar diperkirakan dapat menjadi penahan laju indeks BEI.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 250,15 poin (1,13%) ke level 22.425,49, indeks Nikkei-225 naik 325,58 poin (2,41%) ke level 13.900,79, dan Straits Times menguat 0,72 poin (0,02%) ke posisi 3.056,61. (bani)