BI Pede Perekonomian Indonesia Bangkit

Dengan Financial Inclusion

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas mengatakan BI tetap optimistis perekonomian Indonesia akan bangkit kembali. Walaupun kondisi global saat ini sedang bergejolak dan menjadikan ekonomi Indonesia melambat.

“Hal ini didukung oleh sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan kelas menengah yang tinggi dan pasar domestik yang besar, kita juga harus berkaca pada pengalaman krisis tahun 2008 lalu. Indonesia mampu tumbuh kembali setelah krisis dan menjadi salah satu Negara yang pertumbuhan ekonominya tercepat di dunia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/9).

Ronald menjelaskan, ketahanan perekonomian di suatu negara, termasuk di Indonesia memerlukan dukungan yang lebih kepada sistem keuangannya, termasuk perluasan akses ke masyarakat. “Di sini kita perlu memfasilitasi akses untuk financial inclusion, dilakukan untuk mempromosikan layanan keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” imbuh dia.

Untuk mendukung rencana tersebut, tambah Ronald, bank sentral telah meluncurkan program TabunganKu pada 2010 lalu, ini merupakan sebuah produk tabungan yang dikhususkan untuk masyarakat menengah ke bawah tanpa biaya administrasi dengan setoran awal untuk pembukaan rekening sebesar Rp10 ribu di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Rp20 ribu untuk Bank Umum.

Selain program TabunganKu, BI juga melakukan proyek percontohan layanan perbankan tanpa kantor atau branchless banking, program ini diharapkan dapat meningkatkan penetrasi perbankan ke pelosok daerah.

Percontohan digelar selama 6 bulan, sejak Mei hingga November tahun ini, sebenarnya percontohan ini diarahkan untuk memberi masukan dalam penyususnan aturan resmi perluasan akses perbankan tanpa kantor cabang dan memanfaatkan untit perantara layanan keuangan (UPLK). “Masih dalam tahap uji coba hingga November, nanti akan kita evaluasi sejauh ini masih baik, untuk TabunganKu tambahnya luar biasa,” ucap Ronald.

Dia juga mengatakan, program branchless banking nantinya akan terbuka dan diterapkan oleh seluruh bank, tidak terkecuali BPD. “Jadi mereka bisa saja bergabung dengan program-program kita, silahkan saja,” imbuh dia.

Menurut Ronald, perbankan daerah telah banyak yang berminat untuk menerapkan program layanan perbankan tanpa kantor ini. “Banyak BPD yang mau gabung, tapi saya belum lihat persiapannya seperti apa, sejauh ini masih cukup baik,” kata dia.

Sebelumnya, BI yakin dengan branchless banking, akan mempermudah masyarakat di daerah terpencil untuk bertransaksi keuangan misalnya menabung dan melakukan transfer. Dengan menggunakan canggihnya teknologi telepon seluler diharapkan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan atau petani misalnya, bisa melakukan pemeriksaan harga jual komoditas yang hendak di panen.

Layanan ini, dilengkapi dengan nama, alamat serta nomor yang bisa dihubungi dari para pedagang dan pengepul untuk memudahkan nelayan dan petani ketika bertransaksi melalui SMS. Program percontohan ini diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero), PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank CIMB Niaga, PT Bank Tabunan Pensiunan Nasional (BTPN) dan PT Bank Sinar Harapan Bali. [sylke]