Budaya Baca Pelajar Indonesia Masih Rendah

Sabtu, 07/09/2013

Tak bisa dipungkiri memang, budaya membaca menjadi pondasi dasar bagi pendidikan sebuah bangsa. Sayangnya, membaca belum menjadi tradisi yang membudaya di masyarakat Indonesia, termasuk kaum intelektualnya. Ini dibuktikan dengan masih rendahnya budaya baca generasi muda Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia maupun Eropa.

Sebagai pembicara pada roadshow 2013 publikasi gerakan Indonesia Membaca dengan tema "Perpustakaan Sahabat Terbaik Keluarga Indonesia" di Auditorium Gubernur Sumbar beberapa pekan lalu, Sastrawan Taufiq Ismail menuturkan, budaya baca pelajar dan generasi muda Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia apalagi negara maju seperti Eropa dan Amerika.

"Berdasarkan perbandingan yang pernah dilakukan, rata-rata pelajar sekolah menengah atas di Singapura dan Thailand membaca 5 sampai 7 buku dalam tiga tahun, dinegara Eropa dan Amerika hingga 32 buku. Namun di Indonesia nol buku dalam 3 tahun," kata Taufiq.

Menurut dia, pada sekolah menengah atas yang dilakukan perbandingan itu, buku yang wajib dibaca disediakan oleh pemerintah setempat di perpustakaan sekolah dimana setiap siswa memperoleh satu buku. Kemudian, buku tersebut dibaca hingga tamat dan ditulis kembali oleh siswa serta dilakukan ujian oleh guru. Yang memprihatinkan, ternyata di Tanah Air tidak ada satu pun buku yang diwajibkan untuk dibaca dalam 3 tahun sehingga kemampuan menulis juga menjadi lemah.

Tentu saja budayawan sekaligus sastrawan itu merasa prihatin dengan hasil risetnya tersebut. Bernostalgia ke masa lalu, Taufiq membandingkan kewajiban membaca buku pada dahulu di zaman Hindia Belanda, dimana para pelajar setingkat sekolah menengah atas di Indonesia diwajibkan membaca 25 buku dalam 3 tahun.

"Ada pula bimbingan mengarang sepekan sekali. Artinya, sama saja mereka harus menulis 108 karangan selama 3 tahun bersekolah. Hasilnya lahir para tokoh pejuang dan pemimpin yang handal dan juga mahir dalam menulis," kata dia.

Tetapi setelah Indonesia merdeka, tutur Taufiq, kebijakan itu dihapuskan karena pemerintah ingin lebih fokus membangun infrastruktur sehingga perhatian terhadap pelajaran bahasa dan sastra menjadi terabaikan. Bahkan yang memprihatinkan, terbentuk pandangan bahwa yang hebat itu adalah pelajaran eksata sehingga pelajaran bahasa, sastra dan menulis dipandang kurang penting.

"Akibatnya sering dijumpai murid yang pintar matematika, fisika dan lainnya, namun tidak bisa membuat karangan atau tulisan. Oleh sebab itu, perlu ditanamkan kecintaan membaca buku dan menulis di bangku sekolah sejak dini. Semua upaya itu dapat terwujud jika pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen memperbaiki pola pengajaran yang ada, dan lebih menekankan pelajar untuk membaca dan menulis,” kata dia.