Konsekuensi Ekonomi Ditopang Konsumsi - Dampak Defisit Perdagangan

NERACA

Jakarta – Tingginya defisit perdagangan bulan Juli 2013 sebesar US$ 2,31 miliar dibandingkan priode yang sama tahun lalu sebesar US$ 846,6 juta, menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) awal pekan kemarin. Pasalnya, IHSG langsung ditutup anjlok 93,856 poin (2,24%) ke level 4.101,233.

Namun menurut Direktur Indo Premier Investment Management (IPIM), IPIM Ernawan R. Salimsyah, defisit neraca transaksi berjalan atau current account merupakan konsekuensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik, “Current account\' negatif, bukanlah hal yang tabu selama masih bisa dikelola. Kondisi ini sebagai konsekuensi peningkatan impor, terutama pada barang modal sebesar 20% dan bahan baku 73%,”ujarnya di Jakarta, Senin (2/9).

Menurutnya, impor barang-barang itu merupakan hal yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Untuk negara yang sedang berkembang, kata dia, hal itu dibutuhkan. Adapun yang harus dihindari itu impor untuk barang konsumtif, seperti bahan bakar minyak (BBM).\"Saat ini, subsidi BBM sudah diturunkan sehingga diperkirakan \'current account\' akan membaik ke depannya,\" paparnya.

Dia menambahkan, pada krisis 1998, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami pembukuan yang negatif. Namun, setelah itu cenderung positif sehingga dengan sendirinya ekonomi domestik akan membaik dan nilai tukar rupiah kembali stabil.\"Saat ini, kondisinya baru sementara, mata uang rupiah memang sedang melemah karena \'current account\'. Akan tetapi, rupee India jauh lebih jatuh, banyak yang mengatakan Indonesia akan seperti India. Dramatis sekali kalau Indonesia disamakan dengan India, mereka sudah mengalami \'overheating\', sementara ekonomi Indonesia tidak. Secara struktur ekonomi juga berbeda,\" jelasnya.

Menyoroti pelemahan IHSG periode Mei--Agustus 2013, kata Ernawan, kondisi itu akibat faktor sentimen dari dalam dan luar negeri, bukan karena fundamental emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Disebutkan, dari dalam negeri misalnya, naiknya BBM bersubsidi menyebabkan tingkat inflasi tinggi, sementara dari eksternal mengenai stimulus \"quantitative easing\" tahap tiga (QE 3) The Federal Reserve yang akan dikurangi.\"Kondisi itu memang mendorong dana asing keluar dari pasar negara berkembang. Namun, yang keluar itu cenderung perusahaan pengelola dana asing yang kecil-kecil dan jangka pendek. Di sisi lain, Bank Sentral Asing masuk, mereka bukan spekulatif dan harusnya investor tenang,\" ujarnya.

Dia mengharapkan, sentimen negatif dapat mereda sehingga peluang IHSG kembali menguat (rebound) terbuka lebar. Dengan ekspektasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2013 sebesar 6,3% (APBN-P 2013), IHSG berpotensi positif.\"Kami masih optimistis IHSG bakal ke level 5.000 poin. Jika mengalami tekanan, level IHSG berada di 4.559 poin,\" tegas Ernawan. (bani)

Related posts