Indef: Saatnya Benahi Impor

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan bahwa sekarang adalah saatnya membenahi impor dan sudah bukan saatnya lagi menggenjot ekspor karena waktunya sudah lewat.

“Kalau mau genjot ekspor ini waktunya sudah lewat, maka sekarang adalah waktunya untuk penanganan defisit neraca perdagangan dari sisi impornya, jadi bagaimana memenuhi konsumsi dalam negeri dari produksi dalam negeri. Minimal untuk pangan,” kata Enny kepada Neraca, Senin (2/9).

Dengan menggenjot produksi pangan, kata Enny, maka paling tidak Indonesia tidak perlu untuk impor bahan pangan. Itu akan mengurangi impor Indonesia dan memperbaiki defisit neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia yang semakin memburuk dengan akumulasi defisit neraca perdagangan dari Januari sampai Juli sebesar US$5,65 miliar.

“Ketika pertumbuhan ekonomi kita didominasi oleh sektor non tradable maka yang terjadi seperti sekarang, defisit neraca perdagangan melebar terus. Kita hanya sedikit menciptakan barang. Jadi semua dipenuhi impor. Itu yang selalu kita ingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak penting,” jelas Enny.

Solusinya, lanjut Enny, haruslah bersifat fundamental, yaitu berkonsentrasi di sektor riil. Lebih baik berfokus untuk menggarap pangsa pasar dalam negeri yang sebesar 240 juta jiwa. “Ini saja yang kita urus. Jadi minimal ada kepastian bahwa ekonomi kita tidak akan kolaps meskipun tidak tumbuh tinggi,” kata dia.

Menurut Enny, defisit neraca perdagangan akan terus berlanjut sepanjang tidak ada manajemen dari sisi impor. Bahkan mungkin defisit masih terus berlanjut sampai 2015.

Bukan saatnya lagi Pemerintah mendorong-dorong ekspor agar defisit neraca perdagangan bisa ditekan, kata Enny. Hal tersebut dikarenakan anjloknya harga komoditas masih akan terjadi paling tidak sampai akhir tahun 2013. Meskipun dilakukan diversifikasi pasar, tetap saja akan berat untuk mendorong ekspor. [iqbal]