Tidak Cocok Harga, MNC Urungkan Akuisisi ANTV

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta- Manajemen PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengaku telah mengakhiri diskusi dengan VIVA Group terkait rencana akusisi ANTV. Hal tersebut ditengarai akibat ketidakcocokan harga dan kondisi pasar yang tidak pasti saat ini.

CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengatakan, pihaknya memiliki pendapatan yang berbeda mengenai harga atas pelaksanaan akuisisi tersebut. “Kami dan VIVA Group memiliki pendapat yang sangat berbeda mengenai valuasi. Dalam situasi pasar sekarang yang serba tidak pasti, prioritas kami adalah untuk disiplin dan konservatif dalam mengelola keuangan Perseroan.” kata Hary Tanoesoedibjo dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (2/9).

Menurut dia, cara yang lebih baik untuk meningkatkan nilai bagi para pemegang saham adalah dengan melakukan pembelian kembali saham (shares buyback) dan akan menunggu saat yang lebih tepat untuk melakukan akusisi. Untuk buyback saham ini, tiga perusahaan di bawah naungan MNC grup ini sebelumnya dijadwalkan akan merealisasikan aksi korporasi ini. Ketiga perusahaan tersebut antara lain MNCN, BMTR, dan BHIT.

PT Media Nusantara Citra Tbk menjadi salah satu perusahaan yang tercatat telah melakukan pembelian kembali sahamnya (buyback) secara bertahap sebanyak 8.080.500 lembar saham. Deputi CFO PT Media Nusantara Citra Tbk, Arief Mulyadi mengatakan, pembelian dilakukan dengan rata-rata harga saham Rp2.845 per lembar saham mulai 28, 29, dan 30 Agustus 2013. Kabar penjualan saham VIVA ini sebelumnya disebut sebut sebagai langkah grup Bakrie untuk melakukan pelunasan utangnya seiring dengan meredupnya bisnis anak usahanya. Bahkan, tidak tanggung-tanggu, Bakrie informasinya meminta harga VIVA Rp18 triliun.

Beredar kabar, pihak MNC dan CT Corp menjadi penawar atas saham tersebut. Menyikapi rumor tersebut, analis dari Trust securitis, Reza Priyambada pernah mengatakan, jika MNC benar membeli saham anak usaha grup VIVA maka akan mendukung perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya ke depan.

Penawaran Tinggi

Secara umum, lanjut dia, orang tentu akan lebih prefer untuk diambil oleh pihak MNC yang notabene memiliki nama besar di media. Meskipun CT Corp memberikan penawaran yang lebih tinggi. “CT Corp lebih banyak menyasar hiburan dan porsi untuk berita masih sedikit dibanding MNC, mungkin itu yang menjadi pertimbangan Viva apabila mereka benar akan memilih MNC,” ucapnya.

Menurut dia, dibandingkan CT Corp, MNC tercatat memiliki pangsa pasar yang lebih besar. Karena media tersebut tidak hanya fokus pada tayangan hiburan, namun juga tayangan pemberitaan, termasuk olahraga. Asal tahu saja, Visi Media mempunyai dua saluran televisi swasta, TVOne dan ANTV, dan sebuah media online, Vivanews.com. Kabar penjualan saham VIVA ini disebut- untuk membayar utang Grup Bakrie seiring dengan meredupnya bisnis anak usahanya.

Sebelumnya, David Fernando Audy, Direktur PT Global Mediacom Tbk (BMTR) induk operator-operator televisi Grup MNC mengatakan, Grup MNC siap untuk menyelesaikan transaksi akuisisi 100% saham ANTV tersebut.“Dana yang tersedia di internal perusahaan Rp5 triliun, kalaupun ada kenaikan nilai transaksi, kami masih bisa dapatkan dana eksternal dengan mudah. Rasio utang kami toh masih rendah,”tandasnya.

Apabila transaksi yang kian menambah daftar ‘keakraban bisnis’ antara dua konglomerasi besar di Tanah Air itu terealisasi, portofolio Grup MNC di media televisi otomatis bertambah dari sebelumnya hanya di RCTI, MNC TV, dan Global TV. (lia)