PLN Tambah Pasokan 50 MW Untuk KTT APEC

Sektor Ketenagalistrikan

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta – PT PLN (Persero) juga ikut mengambil bagian dalam mensukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Nusa Dua Bali pada 1 sampai 8 Oktober 2013. Direktur Operasi Jawa-Bali-Sumatera PT PLN, Ngurah Adnyana menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan pasokan listrik untuk KTT APEC sejak jauh-jauh hari. "Pada 9 September mulai kita tambah 50 MW suplai di Nusa Dua Bali," ujarnya di Jakarta, Senin (2/9).

Dia mengaku pasokan listrik tersebut disewa selama 6 bulan. Tambahan pasokan listrik tersebut diurus anak usaha PLN, yakni PT Indonesia Power. Penyewaan alat pemasok listrik tersebut karena tambahan hanya bersifat sementara. Sementara jika membangun khusus satu fondasi pembangkit listrik dinilai lama dan berbiaya besar.

Dia berharap, tambahan pasokan listrik mampu memenuhi kebutuhan energi di Bali terutama saat penyelenggaraan KTT APEC. "Tambahan listrik ini akan tetap berlangsung sampai 6 bulan setelahnya untuk keperluan lain," jelas dia tanpa menyebutkan detail nilai sewa alat tambahan listrik tersebut.

Sebenarnya, menurut dia, pasokan listrik Bali sudah cukup saat ini. Namun tambahan listrik merupakan antisipasi jika terjadi lonjakan kebutuhan listrik selama KTT APEC yang lebih besar. Indonesia pun tidak ingin terjadi hal di luar dugaan yang bisa mencoreng nama Indonesia selaku tuan rumah pertemuan skala internasional tersebut.

Tidak hanya mendukung dari pasokan listri saja, namun juga untuk pengadaan 10 charging station tersebut mencapai Rp 300 juta. "Sekarang sedang dipersiapkan semuanya, kabelnya sedang ditarik," ujar Adnyana.

Rencananya, ke-10 charging station ini mulai bisa digunakan pada 3 September 2013 menjelang pertemuan APEC yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2013. Saat ini, PLN tengah menyiapkan teknis operasional dari penggunaan charging station tersebut. Stasiun pengisian baterai kendaraan listrik ini nantinya akan ditempatkan seputar tempat acara pertemuan yang berada di Nusa Dua, Bali.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, mengungkapkan pemerintah akan menyiapkan kendaraan ramah lingkungan sebanyak ratusan unit bus atau mobil selama perhelatan APEC di Bali. Kendaraan ini merupakan kombinasi dari mobil berbahan bakar biodiesel dan listrik. "Untuk mobil listrik akan disediakan sebanyak 20 unit," urai Hatta.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku saat ini 20 mobil listrik tersebut masih dalam persiapan, mengingat pelaksanaan APEC akan digelar Oktober 2013. "Sekarang mobil-mobilnya belum siap, kan APEC nya masih bulan sepuluh. Pokoknya kami siapkan mobil listrik sekitar 20 unit dan selebihnya mobil berbahan bakar biodiesel asli buatan dalam negeri," jelasnya.

Dilanjutkan Hatta, forum KTT APEC menjadi penting, karena saat ini kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah penyumbang pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu, pertemuan tersebut juga bermanfaat karena perekonomian global saat ini sedang mengalami kelesuan akibat krisis yang belum reda di kawasan Eropa. "APEC menjadi sangat penting, selain karena mesin pertumbuhan berada disini, kondisi global saat ini sedang tidak baik," kata Hatta.

Menurut dia, isu ketahanan ekonomi dan mesin pertumbuhan global inilah yang akan menjadi pembahasan utama dan tema penyelenggaraan APEC pada 2013. Selain dihadiri 21 pemimpin negara yang tergabung dalam APEC, perhelatan ini diperkirakan akan dihadiri 5.000 delegasi dan media dari berbagai negara.

Kesiapan Pemerintah

Pemerintah menyatakan telah siap menjadi tuan rumah Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 di Bali pada bulan Oktober mendatang. Semua persiapan sudah sesuai dengan yang direncanakan. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat. Hatta sebagai ketua pelaksana memastikan semuannya on the track. “Dari sisi penyelenggaraan penyiapan infrastrukturnya tadi dilaporkan cukup, Bandara kita selesai pada waktunya, jalan tol yang di atas teluk juga siap dan akan segera diresmikan. Underpass-nya juga bagus sekali. Demikian juga hotel-hotel,” kata Hatta belum lama ini.

Sebelumnya juga, Indonesia for Global Juctice (IGJ) menilai kerjasama APEC berpotensi memperparah defisit perdagangan nasional Indonesia. Alasannya, konektivitas APEC memang sengaja dimaksudkan untuk memperluas liberalisasi perdagangan di kawasan ini.

“Kerangka kerja konektivitas kawasan ekonomi APEC adalah dimaksudkan untuk memperluas liberalisasi perdagangan di Kawasan Asia Pasifik dan memuluskan proposal Trade Facilitation pada Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO Desember mendatang,” ujar Direktur Eksekutif IGJ, Riza Damanik.

Riza menjelaskan, Laporan Supply Chain Connectivity Initiative APEC 2009 menyebutkan bahwa Konektivitas APEC adalah untuk memperlancar arus perdagangan di kawasan yang dinilai akan menstimulasi pertumbuhan perdagangan hingga US$ 21 miliar/tahunnya.

“Pengalaman agenda integrasi ekonomi ASEAN sebelumnya, justru menyebabkan neraca perdagangan Indonesia cendrung mengalami defisit. Pada semester pertama tahun 2013 ini saja sudah tercatat defisit sebesar US$ 402,1 Juta. Dengan logika yang sama, agenda Konektivitas APEC akan memperparah defisit perdagangan Indonesia,” kata Riza menambahkan.