Pertamina Bangun Dua SPBG Senilai 150 Miliar

Infrastruktur Konversi BBM ke BBG

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) terus menggenjot pembangunan infrastruktur Bahan Bakar Gas (BBG) sebagai upaya mendorong percepatan pelaksanaan konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke BBG.

Direktur Gas PT Pertamina (Persero) Harry Karyuliarto mengatakan pada tahun ini Pertamina membangun dua unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dengan biaya Rp 70 hingga Rp 80 miliar menggunakan dana dari Pertamina. "Pertamina ingin membangun dua SPBG Cililitan dan Pulogadung. Dana Rp 70 miliar- Rp 80 miliar untuk dua SPBG," kata Harry di Jakarta, Senin (2/9).

Dia mengaku, saat ini pembangunan SPBG tersebut sudah selesai melalui tahap tender dan memasuki tahap konstruksi. Pembangunan SPBG ditargetkan selesai pada pertengahan Desember mendatang. "Yang targetnya selesai pertengahan Desember ini selesai yaitu 2 SPBG dana Pertamina," ungkap dia.

Selain menggunakan biaya perusahaan, Harry menambahkan, Pertamina membangun dua SPBG dengan biaya yang berasal Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Dari dana tersebut juga akan dibangun dua unit Mother Daughter, dan empat Mobile Refueling Unit (MRU) dengan biaya Rp 470 miliar."Dua SPBG dana APBN, dua mother daughter dan empat MRU dari APBN. Yang SPBG itu sudah selesai tendernya, sudah ada pemenangnya, sekarang ada yang lagi proses konstruksi," tutur dia.

Sementara itu,Menteri ESDM Jero Wacik mengakui program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) sampai saat ini belum berjalan baik. Kementerian ESDM mengaku akan melakukan gerakan masif akan program ini berjalan, dan impor BBM bisa ditekan."Gerakan ini (Konversi BBM ke BBG -red) tidak berjalan baik," ucap Jero.

Jero mengatakan, dirinya berterima kasih karena TNI mau membantu program konversi ini, dengan melakukan gerakan pemakaian BBG pada seluruh kendaraan operasionalnya. "Saya sambut gembira, TNI mau melakukan dulu, terima kasih TNI, beginilah cara kita bekerja, kalau TNI sudah bergerak yang lain pasti ikut juga," ujar Jero.

Pemasangan 500 unit converter kit untuk kendaraan operasional TNI ini, ujar Jero, merupakan sejarah."Ini salah satu catatan sejarah, yang sebelumnya hanya diomongkan saja, di tengah impor BBM yang besar kita terus begitu-begitu saja, harus ada gerakan bersama-sama, kurangi penggunaan BBM baik premium maupun solar," ungkap Jero.

Namun yang pasti, kata Jero, Indonesia harus berpindah ke energi lain selain energi minyak."Kita harus pindah dari BBM ke energi lain, kita punya banyak energi lain, mulai dari panas bumi atau geothermal, air, gas, angin, matahari dan banyak lagi yang jauh lebih murah," cetus Jero.

Program Konversi

Namun Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo berkata lain.Dia mengatakan kalau program ini berjalan. "Jalan (konversi BBG). Kita diam-diam begini tapi programnya jalan," ucap Susilo.

Saat ini pemerintah malah mengambil jalan penggunaan biodiesel ketimbang menggencarkan lagi program konversi BBG. Dulu Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian gencar mengkampanyekan penggunaan converter kit untuk mobil pribadi agar bisa menggunakan BBG dan mengurangi konsumsi BBM.

Tapi program ini tidak jalan. Rencana pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) lambat dilakukan. Alhasil sampai saat ini impor BBM dan minyak mentah tinggi. Indonesia jadi negara yang ketergantungan impor minyak dan BBM. Kondisi ini makin berat saat dolar tengah tinggi seperti sekarang.

Kementerian ESDM tak mau dibilang program konversi BBM ke BBG mandek. Susilo mengatakan, pada 3 September 2013 nanti, Kementerian ESDM akan memfasilitasi jual-beli gas bumi sebesar 35 juta kaku kubik per hari dari seluruh kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT PLN (Persero)."Tanggal 3 nanti kita mau perjanjian jual-beli gas 35 mmscfd untuk seluruh KKKS dengan PGN dan PLN. Jadi 35 mmscfd tersebut akan memasok kebutuhan gas untuk transportasi di daerah Jabodetabek, Jawa Timur, dan Palembang," katanya.

Bahkan Susilo mengklaim, sampai akhir tahun jumlah SPBG seluruh Indonesia akan mencapai 30-40 unit. "Pembangunan SPBG juga dalam proses, hingga akhir tahun ini akan ada penambahan 30-40 SPBG, jadi kami diam-diam, tapi tetap jalan," katanya lagi.