Stress Test Dilakukan Agar Bank Sehat

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs, mengatakan ada beberapa mekanisme terkait stress test yang dilakukan bank sentral terhadap semua industri perbankan di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ketahanan bank, misalnya, seperti menguji bank jika nilai tukar rupiah melemah. “Ada juga memperhatikan apa saja dampak yang terjadi terhadap permodalan bank atau capital adequacy ratio (CAR),” ujarnya kepada Neraca, Senin (2/9).

Peter juga menjelaskan, stress test dilakukan dengan cara menguji beberapa indikator antara lain indikator suku bunga, inflasi dan rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL), yang dilakukan secara regular. Selain itu, Peter juga menuturkan, stress test dilakukan agar BI mengetahui kondisi bank. Pada intinya, lanjut Peter, bank sentral mengetahui secara detail apa yang akan terjadi dengan bank bila beberapa indikator pentingnya memburuk.

Sebelumnya, Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, mengatakan bank sentral telah melaksanakan stress test pada perbankan di Indonesia. Dia menjelaskan, hasilnya adalah perbankan di dalam negeri memiliki rasio modal yang baik, rasio kredit bermasalah atau NPL rendah serta likuiditas yang baik.

“Jadi kita melihat perbankan dalam negeri memang tidak bisa dibandingkan dengan perbankan luar negeri misalnya India atau yang lainnya, karena kita memiliki rasio modal yang cukup baik,” kata Agus Marto. Dia mengatakan, per Juni 2013, secara gross NPL perbankan Indonesia masih terjaga di level 1,9%, ini masih terbilang cukup jauh dari batas maksimal NPL yang telah ditetapkan yakni sebesar 5%.

Sementara Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI tidak akan memberikan tekanan. Dia pun memproyeksikan pertumbuhan kredit akan turun menjadi 18%. Selain itu, BI masih tetap optimistis dengan kinerja industri perbankan walaupun melambatnya perekonomian nasional akibat kenaikan inflasi dan gejolak perekonomian dunia.

Perry menilai risiko NPL perbankan masih akan terjaga di level aman. menjelaskan, untuk setiap 1% penurunan perekonomian atau pendapatan domestik bruto (PDB), dari hasilstress testperbankan terjadi kenaikan NPL sekitar 0,2%-0,3%. Berbagai kondisi yang terjadi, baik secara global dan domestik, membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. [sylke]