Kenaikan Tarif Tol Perlemah Daya Saing Produk

Biaya Distribusi Akan Meningkat

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah mulai akhir September akan melakukan penyesuaian tarif tol di 14 ruas jalan tol di Indonesia dan hal ini sesuai dengan Undang-Undang 38/2004 tentang Jalan.Namun, kenaikan tarif tol ini, sudah tentu makin membebani masyarakat, khususnya para pelaku industri yang baru saja dihantam dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP).

Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengungkapkan dengan adanya kenaikan tarif tol,biaya distribusi dipastikan akan membengkak dan imbasnya, pelaku industri terpaksa akan menaikkan harga produknya.

"Melihat keputusan menaikkan tarif tol lalu naiknya tarif dasar listrik akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi ,karena dengan kenaikan ini kemungkinan besar akan diikuti tarif-tarif lainnya. Sehingga daya saing produk industri makin melemah dan yang lebih parah lagi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,"jelas Sarman saat dihubungi Neraca, Senin (2/9).

Sarman menambahkan, selain diberatkan oleh tuntutan buruh melalui Upah Minimum Kota (UMK), kini mereka justru harus dihadapkan dengan berbagai kenaikan,seperti TDL dan kenaikan tarif tol."Upah buruh minta naik, bensin transportasi naik, TDL naik, seharusnya pemerintah kasih keringanan atau subsidi dong ke kami, kami babak belur nih," keluhnya.

Biaya Distribusi

Di tempat berbeda, pengusaha menilai kenaikan tarif tol akan mempengaruhi biaya distribusi dan pasokan barang. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Siswaja Lukman, mengatakan bahwa kenaikan tarif akan berdampak dalam dua hal, distribusi barang dan pasokan bahan baku. "Itu pengaruhnya," kata Adhi.

Sebab, kata Adhi, proses distribusi dan pasokan bahan baku dilakukan melalui jalur tol sehingga dipastikan akan ada kenaikan biaya distribusi. Namun, mengenai persentasenya, Adhi mengaku belum menghitung.

Kenaikan tarif tol, lanjutnya, akan berpengaruh terhadap harga jual produk makanan dan minuman. "Kalau memungkinkan kenaikan biaya tol akan kami serap, tetapi kalau tidak terpaksa kami menaikkan harga jual," tutur Adhi.

Sementara itu, Ketua Bidang Perdagangan, Logistik, dan Perhubungan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Harry Warganegara, menilai naiknya tarif tol di sejumlah ruas tak akan berpengaruh banyak terhadap ongkos transportasi barang dan jasa. Sebab, ongkos tol hanya sebagian kecil dari total ongkos produksi. "Sayangnya pengusaha Indonesia sering latah, kalau tarif tol naik 20% harga barang juga naik 20%," kata dia. "Kondisi ini yang membuat harga barang semakin tidak kompetitif."

Agar semakin kompetitif, Harry mengatakan, pemerintah justru harus memperbaiki infrastruktur. Selama ini biaya mahal distribusi sering terjadi akibat antrean truk di pelabuhan, kemacetan, dan jalanan yang rusak. "Apalagi jalan tolnya sedikit. Hanya ada di Jawa. Itu saja terbatas.

Harry menilai, kenaikan tarif tol ini wajar, mengingat tarif tol di Indonesia masih murah. "Ini yang menyebabkan investor enggan masuk ke jalan tol," katanya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Tertinggal/BULOG,Natsir Mansyur a menyatakan kenaikan tarif jalan tol akan berdampak pada harga pangan. "Harga barang bisa naik 10 -15 %, terutama untuk pangan.

Natsir menjelaskan, kenaikan tarif jalan tol pasti mempengaruhi biaya produksi. Kenaikan itu, Natsir mengungkapkan, pada akhirnya akan mendongkrak harga jual berbagai komoditas. Menurut dia, besaran kenaikan harga komoditas, termasuk pangan, dipengaruhi kualitas infrastruktur wilayah setempat.

"Kalau masih di Jawa, kenaikan harga pangan 10 %, namun di luar Jawa bisa sampai 15 %," ucapnya. Natsir menyebutkan jalan provinsi dan kabupaten masih bermasalah untuk mendukung distribusi pangan.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum akan menaikkan tarif jalan tol di seluruh Indonesia pada semester II tahun ini. Menurut Kepala BPJT, Ahmad Ghani Ghazaly, kenaikan tarif berlaku pada 27 September 2013. "Diperkirakan tarifnya naik rata-rata 10 persen," kata dia.

Ghani mengatakan kenaikan tarif bisa berubah bergantung nilai inflasi di setiap wilayah pada periode 1 September 2011-31 Agustus 2013. BPJT, kata dia, masih menunggu perhitungan inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). "Biasanya pertengahan September akan keluar nilai inflasinya," ujarnya. Kenaikan tarif tahun ini lebih rendah jika dibandingkan dengan 2011, yang mencapai 8-12 %.

Menurut Ghani, kenaikan tarif jalan tol merupakan penyesuaian berkala yang dilakukan setiap dua tahun. Dia mengatakan hal ini harus dilakukan untuk menjaga iklim investasi di sektor infrastruktur jalan tol. "Jangan sampai investor merugi dan tidak bisa balik modal."