Tekanan Berlanjut, IHSG Kembali Terkoreksi

Selasa, 03/09/2013

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 93,856 poin (2,24%) ke level 4.101,233. Sementara Indeks LQ45 anjlok 22,248 poin (3,17%) ke level 678,818. Aksi jual kembali marak dilakukan investor asing seiring merespon negatif neraca perdagangan Indonesia. Seluruh lapisan saham melemah dengan koreksi rata-rata lebih dari dua persen.

Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan, aksi lepas investor asing akibat defisitnya neraca perdagangan membawa indeks BEI ke zona merah, “Defisit neraca perdagangan Indonesia yang mengalami peningkatan sebesar 2,4% pada Juli dibanding bulan sebelumnya meyebabkan IHSG BEI dan rupiah kembali terkoreksi,”ujarnya di Jakarta, Senin (2/9).

Dia menambahkan, sentimen positif dari data inflasi yang di bawah ekspektasi kalangan analis tertutup oleh negatifnya data neraca perdagangan dalam negeri. Dengan demikian, secara teknikal IHSG BEI memiliki potensi koreksi pada hari berikutnya. Sementara itu, analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono menambahkan. di tengah menguatnya sebagian besar bursa regional, IHSG BEI ditutup anjlok cukup dalam sebesar 2,24% seiring minimnya sentimen positif di dalam negeri, “Faktor penekan indeks BEI terbesar adalah nilai tukar rupiah yang masih terus melemah,”paparnya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diperkirakan masih akan tertekan dan bergerak pada kisaran 4.000-4.130 poin. Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan pada bulan Juli 2013 masih tercatat defisit sebesar US$ 2,31 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dari defisit di Juni sebesar US$ 846,6 juta. Dengan demikian secara kumulatif, yaitu Januari-Juli, defisit sebesar US$ 5,65 miliar.

eraca perdagangan yang masih defisit cukup tinggi itu membuat kekhawatiran tersendiri di pelaku pasar. Semakin tingginya impor bisa kembali menghajar nilai tukar rupiah terhadap dolar. Melemahnya rupiah bisa berarti hengkangnya investor asing dari lantai bursa. Aksi jual pun marak terjadi, membuat indeks yang awalnya bergerak datar langsung ambruk ke teritori negatif.

Pada perdagangan kemarin, indeks hanya sebentar bergerak di zona hijau dengan posisi tertingginya di 4.206,950. Setelah itu, indeks banyak menghabiskan waktu di teritori negatif dengan posisi terendahnya di 4.061,639. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 244,35 miliar di seluruh pasar.

Maraknya aksi jual membuat seluruh indeks sektoral di lantai bursa 'kebakaran'. Saham-saham lapis dua memimpin pelemahan dengan koreksi rata-rata lebih dari tiga persen. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 168.505 kali pada volume 4,361 miliar lembar saham senilai Rp 5,193 triliun. Sebanyak 74 saham naik, sisanya 187 saham turun, dan 83 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia berakhir kompak menguat di zona hijau. Aksi beli cukup marak, membuat penguatannya rata-rata lebih satu persen. Sentimen negatif pasar global berhasil ditepis dengan baik. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bukit Asam (PTBA) naik Rp 650 ke Rp 12.750, Astra Agro (AALI) naik Rp 350 ke Rp 20.100, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 300 ke Rp 5.700, dan SMART (SMAR) naik Rp 250 ke Rp 7.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Taisho (AQBI) turun Rp 50.850 ke Rp 203.550, Indocement (INTP) turun Rp 1.500 ke Rp 18.200, Matahari (LPPF) turun Rp 1.150 ke Rp 11.300, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 31.400.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup anjlok 89,362 poin (2,13%) ke level 4.105,727. Sementara Indeks LQ45 terjun 19,518 poin (2,78%) ke level 681,548. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 103.257 kali pada volume 2,511 miliar lembar saham senilai Rp 2,836 triliun. Sebanyak 51 saham naik, sisanya 180 saham turun, dan 77 saham stagnan.

Rata-rata bursa regional masih bertahan di zona hijau hingga siang dengan poin yang dicetaknya cukup tinggi. Bursa saham China masih menemani bursa domestik di zona merah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bukit Asam (PTBA) naik Rp 350 ke Rp 12.450, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 300 ke Rp 5.500, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 200 ke Rp 38.150, dan Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 75 ke Rp 2.575.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 1.000 ke Rp 18.700, Matahari (LPPF) turun Rp 900 ke Rp 11.550, Unilever (UNVR) turun Rp 800 ke Rp 30.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 750 ke Rp 31.300.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 1,63 poin atau 0,04% ke posisi 4.196,72. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 0,41 poin (0,06%) ke level 701,48. Analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung mengatakan, IHSG dibuka cenderung mendatar seiring pelaku pasar sedang mengantisipasi data inflasi Agustus yang akan dirilis awal pekan ini.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 406,01 poin (1,87%) ke level 22.137,38, indeks Nikkei-225 naik 125,76 poin (0,94%) ke level 13.514,72, dan Straits Times menguat 14,04 poin (0,47%) ke posisi 3.042,16. (bani)