Menjadi Pendidik yang Ikhlas

Oleh: M. Abrar Parinduri, MA, Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Wakil Sekretaris Majelis Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Indonesia

Selasa, 03/09/2013

Secara formal mendidik memang tanggung jawab seorang guru/dosen. Namun, secara moral mendidik adalah tanggung jawab kita semua umat manusia.

Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al Khattab mendengar Rasulullah berkisah tentang tiga orang dari umat terdahulu yang tengah menempuh perjalanan dan terjebak dalam sebuah gua. Ketiganya tidak bisa keluar karena mulut gua tertututp batu besar. Lalu, ketiganya berdoa sambil mengingat dan mempersaksikan dalam doanya kepada Allah tentang perbuatan baiknya yang pernah dilakukan sepanjang ia hidup.

Lalu seorang diantara ketiganya berdoa sambil mengisahkan amalannya. Orang yang pertama berdoa, Ya Allah dahulu saya memiliki orang tua yang harus diurus dengan baik. Saya tidak melakukan aktivitas apapun sebelum memberi minum, makan dan melayani kedua orang tua saya. Suatu kali aku pergi mencari kayu bakar hingga kemalaman dan sewaktu pulang ke rumah, saya mendapatkan kedua orang tua sudah tertidur padahal saya belum menyiapkan minuman air susu untuk mereka. Dengan cepat saya menyiapkan susu untuk kedua orang tua saya dan sepanjang malam berada di dekat mereka dan berharap tengah malam mereka terjaga dari tidurnya agar saya bisa menyerahkan air susu ini kepada mereka. Sepanjang malam saya memegang wadah itu, hingga terbit fajar barulah kedua orang tua saya bangun dan meminumnya. Ya Allah, jika aku melakukan itu semua dengan mengharapkan keridhoan-Mu dan tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu maka bebaskanlah kami dari himpitan batu besar ini. Maka batu itu pun bergeser sedikit, tetapi mereka bertiga belum dapat keluar dari gua tersebut.

Orang yang kedua pun berdoa, Ya Allah dahulu aku punya seorang paman dan ia memiliki anak perempuan yang sangat cantik. Suatu hari pamanku tidak sanggup membayar utang yang aku pinjamkan kepadanya lalu aku meminta anak perempuannya yang cantik itu sebagai penebus utang tersebut. Dan ketika aku bersama anak pamanku didalam sebuah kamar dan ia pun pasrah atas apa yang akan aku lakukan kepadanya, namun aku tidak jadi melakukan perbuatan maksiat itu dan segera bergegas bangkit karena teringat kepada-Mu dan aku bebaskan utang pamanku tanpa bayaran apapun, maka jika itu tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu keluarkanlah kami dari gua ini. Dan batu besar itu pun bergeser kembali, namun mereka bertiga masih belum dapat keluar dari gua tersebut.

Sekarang giliran orang yang ketiga berdoa, Ya Allah dahulu saya memiliki pekerja dan sebagai majikan saya selalu membayar upahnya dengan baik dan tepat waktu. Suatu hari pekerja saya pergi dengan waktu yang bagitu lama dan tidak sempat mengambil upahnya kepada saya. Dari upahnya itu aku kembangkan usahaku dan mendapat keuntungan yang banyak. Hingga suatu hari pekerja itu datang dan ingin meminta upahnya. Lalu aku serahkan semua hasil usaha yang berkembang dari upah tersebut. Ya Allah, jika perbuatan yang aku lakukan itu tercatat dalam amalan soleh disisi-Mu, maka keluarkanlah kami dari gua ini. Dan batu besar itu bergeser hingga akhirnya ketiga orang tersebut berhasil keluar dari gua.

Kisah ketiga orang dari umat terdahulu yang dikisahkan Nabi kepada para sahabat itu, merupakan contoh tentang amal kebaikan yang dilandasi ikhlas, ternyata berbuah pahala kebaikan dari Allah sehingga terbebas dari musibah. Allah memang memiliki kehendak dan kekuasaan-Nya untuk memberi kemudahan bagi orang yang ikhlas dalam berbuat dan beramal. Kisah ini muktabar dinukilkan dalam kitab Riyahdus Shalihin, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Banyak kisah lainnya, yang menunjukkan kemuliaan perbuatan ikhlas.

Ikhlas adalah kondisi ruhani yang melahirkan niat tulus dalam berbuat semata-mata karena Allah, tidak karena motif dan kepentingan lainnya. Dengan niat dan tujuan hanya karena Allah, maka baik ringan maupun berat setiap orang yang melakukannya akan dengan senang hati.

Indikator Pendidik Ikhlas

Setelah kita memahami dengan seksama pengertian dari ikhlas maka selanjutnya kita perlu mengetahui apa defenisi dari pendidik. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003, pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga indikator yang harus dimiliki oleh seorang pendidik agar memiliki jiwa ke-ikhlasan yakni pertama, niatkan semata-mata karena Allah. Menjadi pendidik dalam hal ini guru/dosen tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi orientasi yang berbeda-beda. Sebagai seorang dosen, saya juga tidak menafikkan diri bahwa selain ingin mencari keridhoan Allah kita bekerja juga ingin mendapatkan hasil/upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Rasanya sulit untuk menemukan seseorang yang jika ia bekerja hanya ingin mencari keridhoan Allah, dan tentu ini tidak sesuai dengan tuntunan syariat islam bahwa kita diwajibakan untuk membayar upah pekerja sebelum keringatnya kering. Artinya, bahwa ada tanggung jawab pemenuhan hak kemanusiaan yang harus kita penuhi.

Penulis ingin bertanya kepada kepada pembaca, selain pengorbanan yang ikhlas antara orang tua dan anaknya coba sebutkan lagi pengorbanan siapa yang paling hebat di dunia ini untuk ukuran manusia? Jawabnya adalah pengorbanan Abu Thalib terhadap Rasulullah SAW. Masih ingatkah kita ketika Abu Thalib menawarkan Rasulullah SAW untuk dinikahkan dengan wanita paling cantik pada masa itu serta diberikan harta yang melimpah, tetapi dengan syarat ia (Rasulullah) harus memberhentikan dakwahnya? Tapi apa yang terjadi ketika Rasulullah menolak tawaran dari sahabat pamannya tersebut (golongan kafir quraisy). Abu thalib berkata, kalau memang engkau menolaknya wahai anakku maka silahkan lanjutkan dakwahmu dan aku (Abu Thalib) tidak akan membiarkan tubuhmu tersentuh pedang kafir quraisy sedikitpun. Subhanallah betapa ikhlasnya Abu Thalib melindungi dan mendukung dakwah Rasulullah SAW, tetapi ada yang salah pada diri Abu Thalib yakni keikhlasannya bukan didasarkan karena Allah SWT sehingga di akhir hayatnya dia tidak memeluk agama Islam. Dari contoh ini menjadi perhatian bagi kita perlunya menempatkan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah dalam aktifitas pekerjaan yang kita lakukan, dan insya Allah dengan sendirinya kita akan mendapatkan buah dari keikhlasan itu seperti bertambahnya gaji, naik pangkat atau jabatan dan lain sebagainya.

Kedua, mengajarkan ilmu adalah hal yang mulia disisi Allah. Hal ini merupakan indikator kedua untuk menjadi pendidik yang ikhlas. Seorang pendidik haruslah menyadari bahwa ilmu yang dia ajarkan kepada anak didik adalah sebuah kemuliaan dihadapan Allah dan menjadi penolongnya kelak ketika di akhirat. Bisa kah kita membayangkan apa yang akan terjadi dengan kehidupan kita di dunia ini, jika tidak ada satupun manusia yang mau mengajarkan ilmu kepada manusia lainnya, tentu kita akan kembali menjalani kehidupan jahiliyah sebagaimana yang pernah terjadi sebelum Rasulullah diutus ke dunia ini. Tidaklah berlebihan jika Allah sangat memuji orang-orang yang berilmu dan akan mengangkat derajatnya dalam kehidupan dunia dan akhirat karena mereka laksana pelita yang menerangi kehidupan. Lihat saja orang-orang berilmu yang telah pergi mendahului kita, namanya tetap hidup di tengah-tengah kehidupan kita bahkan mereka menjadi inspirasi dalam keberlangsungan kehidupan kita hari ini.

Ketiga, mendidik adalah tanggung jawab bersama sebagai manusia. Ini merupakan indikator terakhir untuk menjadi seorang pendidik yang ikhlas. Secara formal mendidik memang tanggung jawab seorang guru/dosen akan tetapi secara moral mendidik adalah tanggung jawab kita semua umat manusia. Kesadaran ini harus tertanam dalam diri kita masing-masing, andaipun ada orang yang belum tahu bahwa tugas mendidik adalah tanggung jawab semua manusia maka kita sebagai pendidik haruslah mampu memberikan pemahaman itu kepada mereka orang-orang yang belum tahu. Jika hal ini tidak kita perhatikan, maka kematian yang terjadi pada peristiwa tawuran pelajar di Jakarta beberapa bulan yang lalu tentu bisa terulang kembali. Selain karena faktor kurangnya perhatian dari keluarga, salah satu penyebab terjadinya tawuran tersebut adalah dikarenakan tidak adanya perhatian dari masyarakat sekitar terhadap para pelajar yang terlibat dalam peristiwa tawuran.

Andaikata masyarakat yang melihat peristiwa tawuran tersebut sadar bahwa memberhentikan tawuran pelajar itu adalah tanggung jawab mereka sebagai manusia yang diberikan akal pikiran untuk berbuat kebaikan, maka tentu tidak akan ada nyawa yang melayang. Inilah kesadaran yang harus terus terbangun dalam diri kita manusia dan lebih-lebih kita sebagai pendidik harus mengetahui bahwa mendidik anak-anak menjadi manusia yang baik bukanlah hanya tugas guru agama saja akan tetapi tugas semua guru bidang studi dan tugas kita semuayang telah menakdirkan dirinya sebagai seorang pendidik.