Memaknai Kerja

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Selasa, 03/09/2013

Sebuah penelitian kesehatan di Inggris melaporkan, serangan jantung yang berakibat kematian meningkat pada hari Senin pagi. Apakah hubungan antara serangan jantung dan hari Senin?

Diduga kuat karena orang merasa kaget setelah menikmati libur akhir pekan, lalu dihadapkan pada beban dan tantangan kerja yang telah menghadang di hari Senin sehingga emosi dan kondisi jantungnya tidak tahan dan membuatnya stres. Sesungguhnya seseorang bekerja tidak semata mengandalkan skill dan mengharapkan imbalan gaji. Manusia bukanlah sebuah mesin industri dan produksi. Di dalam bekerja terdapat motivasi yang sangat menentukan proses, hasil, dan implikasi lain di luar masalah uang dan jabatan.

Di sana tersimpan pertanyaan, untuk apa dan siapa aku bekerja? Mungkin ada orang bekerja sekadar untuk bertahan hidup.Yang demikian ini pun sebuah tindakan yang mulia, minimal orang mampu menghidupi dirinya sendiri untuk mempertahankan kehidupannya secara jasadi.Tapi, apakah misi kehidupan manusia tak ubahnya dunia hewani yang sekadar makan minum untuk bertahan dan melanjutkan keturunannya? Saya terkesan oleh dua buah buku yang ditulis teman dekat saya.

Memaknai Kerja oleh Yuslam Fauzi (2012) dan I Love Monday oleh Arvan Pradiansyah (2012), keduanya menyajikan analisis, uraian, dan refleksi filosofis bagaimana memaknai kerja. Menurut Arvan, setidaknya terdapat tiga kategori atau jenjang motivasi mengapa seorang bekerja. Yang paling bawah adalah work as a job, bekerja sesuai dengan skenario yang dibuat orang lain semata untuk mendapatkan upah guna mempertahankan hidup (survival). Sekali lagi, bekerja pada level ini bukannya jelek dan kita semua pernah mengalami.

Namun akan lebih merasa nyaman dan merdeka kalau orang bekerja sesuai dengan skenario diri sendiri berdasarkan skill dan minat. Pada tataran ini: work as a career .Hasil dan prestasi yang diraih disebut sukses. Jika diamati dan direnungkan, orang yang asyik dan gigih mengejar karier di dalam dirinya masih terdapat motivasi untuk meraih self-glory. Orang yang sukses mengejar karier tentu saja dapat membuat banyak pihak lain ikut diuntungkan, misalnya pihak keluarga, perusahaan, juga lingkungan staf atau karyawannya.

Di situ juga berlangsung aktualisasi diri yang didukung skill dan cita-cita yang diimpikan. Hanya saja, jika orang bekerja sekadar untuk bertahan hidup, lalu naik lagi mengejar karier yang bermuara pada kesuksesan materi, jabatan, dan popularitas, sesungguhnya masih ada peluang untuk naik tangga lagi pada tataran yang lebih mulia dan menjanjikan kebahagiaan dan kepuasan hidup tanpa mengorbankan dua jenjang dan capaian di bawahnya.

Jenjang ketiga itu, tulis Arvan, adalah jika seseorang bekerja berdasarkan panggilan hati nurani. Work as a calling. Orang bekerja untuk melaksanakan skenario Tuhan, bekerja sebagai ibadah, bekerja untuk melayani dan membahagiakan sesama hamba Tuhan. Seseorang akan merasa bahagia ketika berhasil membahagiakan orang lain. Jadi di sini yang berubah adalah mindset, niat, dan motivasi yang akan berimplikasi pada tataran praksis,bukan materi pekerjaannya.

Dengan memasukkan aspek transendensi karier dan makna sukses, imbalan dan efek yang diraih adalah sebuah kepuasan dan kebahagiaan hidup yang lebih dalam. Bekerja secara profesional dan dengan niat suciini menurut Yuslam bisa diposisikan sebagai ekstensi dari ritual di ruang masjid, lalu melebar ke masjid sosial. Lebih jauh lagi dia mengatakan bahwa berbagai cacat ritual bisa ditebus dengan ibadah sosial yang dilandasi panggilan hati.

Contoh paling mudah adalah orang yang sakit sehingga tidak bisa melakukan puasa bisa ditebus puasanya dengan menyantuni fakir miskin. Sebaliknya, dosa sosial akan bisa merusak prestasi ibadah ritual. Kesemuanya ini eksplisit disebutkan dalam Alquran. Yang juga menarik direnungkan, orang yang melakukan dosa sosial (crime), semacam perdata atau pidana, tak bisa dilunasi utangnya dengan ibadah ritual semacam haji,umrah atau salat.

Sesama hak anak Adam mesti dilunasi secara horizontal. Jadi, bekerja ternyata memiliki berbagai jenjang motivasi dan makna serta memiliki banyak dimensi. Kalau Rene Descartes terkenal dengan adagiumnya Cogito ergo sum; I think therefore I am, kita bisa mengatakan: I work therefore I am. Aku bekerja maka aku ada. Maksudnya,manusia bereksistensi, mengada lewat bekerja.

Dengan karya yang merupakan hasil kerjanya itulah seseorang akan dihargai. Semakin mendatangkan nilai guna sebanyak mungkin bagi orang lain, semakin eksis seseorang dan itu akan mudah diraih jika seseorang mampu menaiki jenjang-jenjang kerja sejak dari work as a job, naik pada work as a career, lalu naik lagi ke level work as a calling. (uinjkt.ac.id)