Waspadai Nilai Investasi

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Secara umum, inflasi adalah musuh utama investasi bagi para investor yang menanamkan dana mereka baik di pasar modal maupun pasar uang. Laju inflasi berdasarkan indikator CPI domestik di Agustus 2013 sudah mencapai nilai 8,79% (yoy). Pada periode yang sama, di pasar uang tingkat deposito 3-bulan masih di level 6,8%, sementara obligasi pemerintah bertenor 10 tahun bertengger di level 8,0%. Relatif terhadap laju inflasi saat ini, pasar modal dan pasar uang domestik boleh jadi berpotensi akan kurang menarik bagi para investor yang belum memindahkan dananya dari efek-efek yang mereka miliki kini.

Selama 2(dua) minggu berturut-turut, pasar saham domestik kita telah dihajar aksi jual, sementara itu yield obligasi secara umum naik signifikan dalam rentang waktu yang bersamaan. Ditambah kondisi Rupiah yang melemah signifikan, tak heran para investor merasa semakin gelisah dengan kondisi pasar domestik teruiama dengan nasib nilai portofolio aset investasi yang mereka miliki. Bagi para investor, ada rule of thumb yang sederhana yaitu “hindari investasi dari erosi inflasi.” Artinya, jika imbal hasil tak menarik lagi dalam kondisi risiko yang terus bertambah, para investor (nasabah) akan berpotensi quit baik dari pasar modal maupun pasar uang domestik. Aturan mainnya ederhana, “tak ada investor waras yang sudi rugi.”

BondRI menilai bahwa 4(empat) paket kebijakan ekonomi yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga kondisi makroekonomi masih kurang efektif dinilai baik dari target jangka waktunya maupun skala prioritas. Pertama, memperbaiki neraca transaksi berjalan dan menjaga nilai rupiah adalah suatu proposisi yang sangat mahal dan sulit dicapai dalam jangka pendek. Kedua, menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat melalui tindakan terkait pajak juga merupakan suatu solusi yang butuh prekondisi berupa proper administration.

Ketiga, langkah menjaga laju inflasi melalui tata niaga bahan pangan dari sistem kuota menjadi mekanisme berdasar harga akan sulit diterapkan efektif tanpa ada supremasi regulasi dalam jangka pendek. Keempat, menggenjot sisi supply (produksi) dengan mempercepat dan menyederhanakan perizinan investasi boleh jadi dapat membantu, namun untuk inisiatif lain berupa revisi PP terkait daftar negatif investasi (DNI) masih dinilai kurang taktis. Pemerintah perlu mereview kembali ranah sasaran jangka waktu dan skala prioritas dari keempat paket yang telah ditetapkan tersebut.

Filipina dan India saat ini masih dibayangi oleh langkah aksi jual di ranah pasar modalnya. Sikon perekonomian Indonesia yang juga unfavourable saat ini sangat membutuhkan langkah taktis dan koordinatif antara regulator dan para partisipan pasar, yang efeknya sebaiknya dapat dinilai secara harian. Akhir minggu kemarin, aksi jual saham memang sempat terhenti di pasar modal Indonesia. Namun, apakah daya beli(nilai) Rupiah kita akan lanjut terdepresiasi? Apakah Indeks harga saham/obligasi juga akan melorot dalam jangka pendek ke depan?

Ini merupakan pertanyaan yang relevan dan penting bagi para investor (asing maupun domestik) saat ini. Secara umum, yield obligasi pemerintah dalam penutupan minggu lalu (bulan Agustus 2013) untuk semua jenis tenor mengalami penurunan. Artinya harga obligasi yang kemarin sempat naik boleh jadi sedang berada dalam kondisi diminati para investor, menilai harganya sudah terdiskonto lumayan dalam. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan penting bagi para investor adalah, “apakah harga efek-efek di pasar modal saat ini sudah berada pada kondisi terendah dan akan mulai berbalik?”

Tak ada yang dapat memastikan hal ini, namun prediksi boleh saja dilakukan dalam tingkat probilitas terbatas. Apabila set kebijakan ekonomi, daya beli rupiah, laju inflasi serta peringkat sovereign tidak dapat dijaga dalam kondisi yang favourable, diprediksi bahwa harga efek-efek di pasar modal kini belum berada pada titik terendahnya.

Related posts