Kenali Manfaat Madu dan Propolis

Meskipun kini banyak masyarakat yang mengonsumsi madu dan propolis demi kesehatan, tetapi masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan dan manfaat antara keduanya bagi kesehatan. Rendahnya tingkat pemahaman terhadap madu dan propolis (produk perlebahan lain) semakin menimbulkan mitos tertentu di masyarakat yang semakin jauh dari fakta.

Gaya hidup sehat memainkan peran penting dalam kualitas hidup. Produk lebah akan membantu kita untuk mencapainya. Tapi, ada perbedaan signifikan antara berbagai produk perlebahan. Pengetahuan yang konprehensif akan membantu kita untuk memaksimalkan pemanfaatan produk perlebahan untuk kesehatan kita.

“Madu berbeda dengan propolis, bee pollen, dan royal jelly. Setiap produk perlebahan mengandung zat dan nutrisi yang berbeda, serta efek yang berbeda bagi tubuh,” tutur dr. Ivan Hoesada, Kepala Jaringan Medis HDI Indonesia.

Madu adalah zat alami yang dihasilkan oleh lebah dari sari bunga dan penelitian modern telah menunjukkan bahwa madu memiliki zat anti-inflamasi dan meransang respon imun dalam luka, juga potensial untuk perawatan pada luka bakar.

Propolis mengandung zat, yang diperlukan untuk membangun kekebalan tubuh, memiliki kandungan bioflavonoid dan Caffeic Acid Phenethyl Esther (CAPE), yang merupakan zat antioksidan untuk suplemen sel.

Sementara Bee Pollen, adalah serbuk sari yang dikumpulkan dari tanaman oleh lebah madu dan dibawa kembali ke sarang mereka memiliki delapan asam amino esensial dalam jumlah yang bervariasi antara lima sampai tujuh kali, sama dengan bobot dari makanan tradisional yang memiliki protein tinggi, serta untuk memberikan antioksidan dan energi yang signifikan.

Produk perlebahan yang menajubkan lainnya adalah Royal Jelly, telah dibuktikan memiliki banyak manfaat bagi aktivitas farmakologi pada hewan percobaan, termasuk antitumor, anti oksidan, anti inflamasi, antibakteri, anti alergi, anti penuaan dan anti hipertensi.

Sedangkan pada manusia, dengan mengkonsumsi Royal Jelly dapat meningkatkan metabolisme lipoprotein dan mengurangi serum total cholesterol (TC) dan low density lipoprotein (LDL). \"Dengan mengetahui penggunaan produk perlebahan untuk kesehatan manusia akan meningkatkan kesadaran kita untuk menjadi konsumen produk lebah yang cerdas,\" jelas dia.

Sementara itu, HDI Indonesia pertama kali memperkenalkan produk suplemen kesehatan yang berbasis lebah pada tahun 1993. Produk HDI yang berbasis lebah di jual melalui skema pemasaran jaringan dan dapat dibeli lebih dari 200.000 distributor di seluruh Asia.

“HDI Indonesia akan terus melanjutkan penetian dan inovasi, menulis bab baru dan memberikan kontribusi untuk kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tutur Chairman of HDI Group Companies, Brandon Chia.

BERITA TERKAIT

Apindo, Kadin, dan YLKI Sepakat Perkuat Fungsi dan Kewenangan KPPU

      NERACA   Jakarta - DPP Pemuda Tani Indonesia mengadakan Seminar Nasional dengan Tema “Revisi UU Anti Monopoli:…

Penyelesaian Obligor BLBI Secara Komprehensif dan Adil

  Oleh: Hario Wangsanegara, Alumnus Program Pascasarjana Ilmu Administrasi UI Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila sepertinya…

Mengenal Penyakit Endometriosis dan Fibroid

Zaskia Sungkar baru saja menjalani operasi endometriosis dan fibroid di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebenarnya apa itu endometriosis dan fibroid? Endometriosis…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Seberapa Cepat Dehidrasi Akan Membunuh Seseorang?

Tidak ada prediktor yang dapat memastikan seberapa cepat dehidrasi akan membunuh seseorang. Kesehatan, cuaca dan tingkat aktivitas fisik individu bisa…

Kayu Manis Bantu Pembakaran Kalori

Kayu manis bisa disertakan dalam daftar senjata melawan obesitas menurut hasil studi yang dilakukan para peneliti University of Michigan di…

Mengenal Penyakit Endometriosis dan Fibroid

Zaskia Sungkar baru saja menjalani operasi endometriosis dan fibroid di Kuala Lumpur, Malaysia. Sebenarnya apa itu endometriosis dan fibroid? Endometriosis…