Rupiah Diperkirakan Masih Rp11 ribu/Dolar AS

Perbaiki Neraca Pembayaran

Senin, 02/09/2013

NERACA

Jakarta - Ekonom Iman Sugema memprediksi kurs rupiah terhadap dolar AS pada pekan pertama bulan September 2013 masih berada di kisaran Rp11ribu. Kondisi fundamental nilai tukar rupiah saat ini, lanjut dia, kurang bagus lantaran tidak bisa dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI) dan masih defisitnya neraca pembayaran. Pada Jumat (30/8) pekan lalu, kurs rupiah tidak bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp10.920 per dolar AS.

“Agar kurs rupiah stabil maka memperbaiki defisit neraca pembayaran. Itu bukan hanya tugas BI, namun semua instansi terkait. Misalnya, memperbaiki neraca transaksi berjalan, walaupun ranah kebijakannya adalah BI sendiri yang memperbaiki,” ujar Iman kepada Neraca, Minggu (1/9). Terkait batas aman rupiah, menurut dia, saat ini belum ada kebijakannya. Meskipun begitu, lanjut Iman, yang terpenting pelaku usaha atau investor tidak dibuat panik. “karena kalau (investor) panik, contohlah antara Rp12 ribu-Rp14 ribu per dolar AS, otomatis bisa menimbulkan kegaduhan. Disini lah tugas utama BI dan pemerintah, bersama-sama menjaga agar tidak terjadi kepanikan,” paparnya.

Sedangkan untuk cadangan devisa (cadev) Indonesia yang saat ini posisinya US$92,67 miliar, Iman menilai, jumlah tersebut merupakan jumlah yang sangat kurang untuk negara seperti Indonesia. “(Penyusutan cadev) ini karena BI memang kurang mampu untuk mempertahankannya (cadev),” jelas dia. Untuk mengatasi makin berkurangnya cadev akibat tergerus untuk intervensi, Iman mengatakan kembali lagi ke kebijakan BI, apa yang harus dilakukan agar pasar tidak panik. “Karena kalau (pasar) tidak (mau) panik, ya, mau tidak mau BI harus intervensi. Begitu pula sebaliknya,” tukasnya.

Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, menuturkan pihaknya tetap optimistis untuk menjaga volatilitas nilai tukar. Akan tetapi, dirinya mengaku tidak menargetkan suatu nilai tukar, melainkan hanya menjaga volatilitas nilai tukar. “Kita memahami tantangan ekstrem Indonesia, yakni kondisi (ekonomi) di AS yang mungkin ada pengurangan stimulus moneter atau quantitative easing,” ujarnya, pekan lalu.

Agus Marto juga menjelaskan, kondisi nasional untuk jangka pendek ada tekanan inflasi dan defisit neraca pembayaran. Khususnya, lanjut dia, karena current account deficits yang cukup besar. “Namun kita juga sudah coba memahami bahwa current account deficits sebesar US$9,8 miliar itu hanya terjadi sekali,” klaimnya. Memasuki kuartal III dan IV 2013, imbuh Agus Marto, perekonomian diprediksi akan lebih baik, terlebih, setelah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM dan BI merespon dengan cara menyesuaikan BI Rate. “BI juga selalu mengamati kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang sudah dalam kondisi lebih lemah,” ujar Agus Marto.

Lebih lanjut dirinya menuturkan, terkait kenaikan BI Rate menjadi 7%, langkah ini tidak akan menganggu kinerja perbankan di dalam negeri. Karena BI melihat kondisi perbankan nasional masih cukup mampu untuk menghadapi kondisi perekonomian nasional yang saat ini inflasinya semakin meningkat. Oleh karena itu, bank sentral sudah melakukan stress tests untuk perbankan. “Kita melihat perbankan dalam negeri memang tidak bisa dibandingkan dengan luar negeri. Menurut saya, perbankan di Indonesia sudah memiliki rasio modal atau CAR (capital adequacy ratio) yang cukup baik,” tambahnya. Selain itu, tingkat kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) masih rendah dengan likuiditas yang baik pula.

BI mencatat kinerja perbankan sampai akhir Juni 2013, NPL secara gross masih terjaga di level 1,9%, atau jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan sebesar 5%. Untuk rasio kecukupan modal (CAR) cukup tinggi di level 18%, dengan pertumbuhan kredit dalam setahunan sebesar 20,6%, dan rasio kredit terhadap DPK (LDR) sebesar 87,2%. [sylke]