Rupiah Anjlok, Biaya Produksi Tiga Pilar Naik 15%

Senin, 02/09/2013

Dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cukup terasa bagi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). Pasalnya, perusahaan yang memproduksi makanan ini menggunakan bahan baku dari luar negeri. Akibatnya, biaya produksi perseroan naik hingga 15% pada semester pertama tahun ini.

Selain itu, laba bersih perseroan juga ikut turun menjadi 8%, padahal pada periode yang sama tahun lalu laba bersih perseroan 9%. Direktur Utama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, Stefanus Joko Mogoginta mengatakan, peningkatan biaya produksi perusahaannya berkisar 5%-15% pada semester satu ini. Pelemahan rupiah juga menghambat margin perusahaan karena bahan baku seperti terigu dan gandum diperoleh dari luar negeri, “Range cost produksi kenaikannya bervariasi karena memang tergantung dengan produk. Tetapi berada dikisaran 5-10% karena memang harga bahan baku produksi meningkat pada kisaran tersebut”, jelas dia di Jakarta akhir pekan kemarin.

Sedangkan untuk harga jual, dia belum dapat menjelaskan adanya kenaikan atau tidak. Karena hingga saat ini perseroan masih mengkaji dan menghitung dampak dari kenaikan bahan baku tersebut. Menurut dia, perseroan masih mengkaji lantaran menyeimbangkan antara kenaikan bahan baku dan margin laba bersih.“Kajian dilakukan guna menyeimbangkan adanya kenaikan bahan baku, sehingga marjin laba bersih kami di semester dua tahun ini dapat terjaga”, ujar dia.

Selain dampak pelemahan rupiah terhadap margin laba bersih perseroan, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hingga kini belum berada di level aman membuat perseroan urung membawa anak usahanya menjadi perusahaan go public.

IPO Bumiraya

Anak usaha perseroan yaitu PT Bumiraya Investindo rencananya akan melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) pada tahun ini. Namun, melihat kondisi perekonomian Indonesia kurang stabil seperti saat ini, membuat perseroan menunda proses IPO tersebut.“Jika ekonomi dalam negeri sudah membaik rencana IPO akan dilanjutkan lagi. Saat ini kami tunda dulu, tidak jadi di semester kedua tahun ini. Kita hanya menunggu hingga iklim investasinya membaik”, jelas dia.

Terkait rencana IPO anak usahanya yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit tersebut, dia belum dapat menjelaskan banyak mengenai jumlah saham yang akan dilepas dan target dana perolehan. Menurut dia hal-hal yang menyangkut IPO anak perusahaan masih menjadi wacana yang diperbincangkan para direksi.“Semua belum tertuang dalam tulisan, masih pembicaraan saja. Dan memang belum ada pembicaraan mengenai jumlah dana dan belum dibicarakan ke pihak otoritas (Otoritas Jasa Keuangan/OJK dan Bursa Efek Indonesia/BEI), kami masih mengkaji hal ini”, ujar dia.

Pada tahun buku 2012, perseroan berhasil membukukan laba naik 66,42% menjadi Rp 211,19 miliar pada 2012 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 126,90 miliar. Kenaikan laba juga ditopang kenaikan penjualan bersih menjadi Rp 2,74 triliun. Beban pokok penjualan perseroan naik menjadi Rp 2,14 triliun, dan laba bruto perseroan naik menjadi Rp 605,24. Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp 1,83 triliun pada 31 Desember 2012. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp 2,03 triliun pada 31 Desember 2012. Kas dan setara kas perseroan turun menjadi Rp 102,17 miliar pada 31 Desember 2012. (nurul)