Laba Bersih Adaro Turun Jadi US$ 116 Juta

Senin, 02/09/2013

Sampai dengan semester pertama, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencatat laba bersih sebesar US$116 juta atau menurun 55,4% dari periode yang sama ditahun sebelumnya US$260,1 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Kondisi yang sama juga terjadi pada pendapatan usaha bersih perseroan yang turun 18% dari US$ 1,931 miliar menjadi US$1,579 miliar. Hal ini dikarenakan adanya penurunan harga batubara yang tercermin pada harga jual rata-rata Adaro.

Kemudian beban pokok pendapatan juga menurun 5,4% menjadi US$1,228 miliar, walaupun produksi batubara meningkat 8% menjadi 24,94 Mt. Beban pokok pendapatan lebih rendah karena penurunan royalti yang diakibatkan oleh penurunan harga serta pembelian batubara oleh pihak ketiga.

Sedangkan, EBITDA perseroan tercatat sebesar US$413 juta atau menurun 38% dari sebelumnya US$667,5 juta. Namun, Adaro dapat mempertahankan marjin EBITDA 26,2%, yang merupakan salah satu yang terbaik di jajaran perusahaan batubara termal di Indonesia. Perseroan menargetkan EBITDA sepanjang tahun ini sebesar US$850 juta sampai US$1 miliar.

Sebagai informasi, PT Adaro Energy Tbk mengaku akan tetap fokus pada pengembangan usaha melalui beberapa anak usahanya di tengah volatilitas batubara. Disebutkan, aset yang diakuisisi perseroan terus membuat kemajuan, misalnya investasi pada cadangan batubara di Balangan yang terletak di sebelah konsesi Adaro Indonesia yang diperkirakan dapat memulai produksi pada 2014 .

Sementara pengeboran di Balangan akan terus dilanjutkan untuk menyelesaikan studi cadangan JORC, meliputi penggunaan Laser Imaging Detection and Ranging (LIDAR) yang menghasilkan data topografi yang cepat dan akurat. Akuisisi lahan, pembangunan jalur pengangkutan yang akan menghubungkan jalur pengangkutan di Paringin, dan pembangunan jembatan terus dilanjutkan. Selain itu perseroan juga terus berkonsentrasi pada kesiapan tambang pada konsesi batubara yang belum dikembangkan (greenfield) di Sumatra Selatan (MIP, BEE) dan Kalimantan Timur (BEP). (bani)